Berita

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)

Bisnis

Celios: Purbaya Harusnya Mundur Kalau Tidak Mampu jadi Menkeu

SELASA, 08 SEPTEMBER 2026 | 23:33 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Sektor ekonomi Indonesia dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terus menjadi sorotan. Hal itu tidak terlepas dari peran bendahara negara alias menteri keuangan yang menjadi ujung tombak kebijakan ekonomi hingga fiskal.

Hari ini tepat setahun Purbaya Yudhi Sadewa menjabat sebagai menteri keuangan. Ia dilantik usai Sri Mulyani Indrawati mengundurkan diri dari jabatan strategis dalam Kabinet Merah Putih ini.

Selama setahun memegang kendali keuangan negara, kiprah Purbaya tidak lepas dari berbagai kontroversi, baik dari sisi kebijakan maupun pernyataan ‘nyeleneh’ gaya koboi-nya.
 

 
Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira mengurai sepak terjang Purbaya dalam periode setahun ini yang menurutnya mengecewakan. 

"Total utang pemerintah ditambah utang baru era Purbaya makin agresif hingga menembus Rp10.293 triliun. Kalau dilihat kemampuan bayar bunga utang terhadap penerimaan pajak terus melemah. Nggak sinkron nafsu terbitkan utang dengan kemampuan bayar,” kata Bhima dalam pesan elektronik kepada RMOL di Jakarta, Selasa, 8 September 2026. 

Data posisi surat utang pemerintah menunjukkan ekspansi penerbitan yang agresif untuk menutupi defisit fiskal. Total outstanding surat utang melonjak dari Rp8.113 triliun pada Juli 2025 menjadi Rp8.958 triliun pada Juli 2026, meningkat lebih dari Rp845 triliun hanya dalam waktu satu tahun. 

Penambahan utang masif ini didominasi oleh penerbitan SBN (Surat Berharga Negara) berkupon tinggi, seperti seri FR0106 dan FR0107 yang menawarkan kupon sangat tinggi sebesar 7,125 persen. Outstanding Seri FR0106 melonjak 149 persen, meningkat Rp97 triliun selama Juli 2025 sampai dengan Juli 2026. Sedangkan Outstanding Seri FR0107 melonjak 211 persen, meningkat Rp96 triliun pada periode yang sama. 

Hal ini menunjukkan selain terjadi peningkatan nominal utang, negara harus menanggung beban bunga utang yang jauh lebih tinggi untuk setiap utang baru yang ditarik dalam satu tahun terakhir. Peningkatan beban bunga utang ini semakin mempersempit ruang fiskal pemerintah yang mendorong kebutuhan peningkatan penerimaan pajak.

Selain itu, peningkatan kupon SBN juga mendorong praktek lazy banking di mana perbankan lebih senang memarkir dananya pada instrumen SBN ketimbang menyalurkan kredit ke sektor riil. Dengan terhambatnya kredit ke sektor riil turut menekan laju pertumbuhan penerimaan pajak yang bergantung pada aktivitas usaha sektor riil.
 
Lanjut Bhima, Purbaya juga lemah dalam mengendalikan anggaran sehingga terjadi kebocoran sana sini. 

“Contohnya MBG dan Kopdes yang menyita anggaran besar, sementara Menkeu tidak ada kendali sama sekali padahal tau program ini boros dan rawan korupsi,” ungkapnya.

Mundur sebagai Jalan Terbaik 

Ekonom yang dikenal kritis ini lantas menyebut kebijakan pajak Purbaya lebih parah dari Sri Mulyani, termasuk perubahan aturan pajak UMKM yang dinilai memberatkan pelaku usaha kecil informal di tengah lemahnya daya beli. 

“Memang Purbaya sepertinya ingin yang kecil makin kecil, sementara pengusaha kakap dapat imunitas dan fasilitas kawasan bebas pajak,” tuturnya. 

Masih kata Bhima, efisiensi anggaran di daerah juga telah memakan korban, termasuk penanganan bencana yang lambat. 

“Banjir Sumatera pemerintah gagal, sekarang El Nino dan Karhutla tapi anggaran lembaga yang tangani bencana kecil sekali. Pertumbuhan ekonomi di atas kertas Purbaya rapuh. Purbaya harusnya mundur kalau tidak mampu jadi menkeu,” tandasnya.

Dalam setahun menjabat sebagai menkeu, Purbaya sempat mengungkapkan suka dukanya. Dengan gaya penuh ‘nyeleneh’, ia berseloroh bahwa berat badannya sempat turun menjadi 88 kilogram dari 102 kg saat pertama kali menjadi menkeu.

Dukanya dulu lah. Kalau lihat berat badan saya kan, pas jadi menteri saya 102. Sekarang 97, udah 98, sudah recover. Sebelumnya turun sampai 88. Berarti kerjanya emang berat ya, Kementerian Keuangan,” kata Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Selasa, 8 September 2026.

Meski mengakui pekerjaannya cukup berat, Purbaya mengaku tetap menikmati perannya sebagai menteri keuangan. 

Terlebih, posisinya saat ini membuat ia bisa melihat langsung bagaimana teori ekonomi yang selama ini dipelajarinya bekerja di lapangan.

"Kalau sukanya sih fun. Kalau untuk ilmuwan seperti saya, saya ekonom kan ilmuwan ya. Itu paling menarik adalah ketika kita bisa menguji teori-teori di lapangan langsung dan kita lihat hasilnya sesuai dengan apa yang kita prediksi atau yang kita rencanakan,” jelas Purbaya.

Ia kemudian menyinggung kondisi ekonomi Indonesia yang menurutnya mulai menunjukkan perkembangan positif.

Purbaya bahkan memastikan Indonesia sudah mulai keluar dari pola pertumbuhan ekonomi yang selama ini hanya berada di kisaran 5 persen.


Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Komisi III DPR Dukung Kejagung Bongkar Tuntas Mafia Nikel di Sultra

Senin, 09 November 2026 | 00:30

Menanti Hoegeng di Zaman Now

Senin, 09 November 2026 | 00:06

Ratusan Ojol dan Sahabat Disabilitas Peroleh Santunan Jelang HUT ke-15 Nasdem

Minggu, 08 November 2026 | 23:41

Surya Paloh Ingatkan Ego Partai Tak Boleh Kalahkan Kepentingan Nasional

Minggu, 08 November 2026 | 23:37

Jimly Minta 8 Partai di Parlemen Segera Bermusyawarah soal Gibran

Minggu, 08 November 2026 | 23:25

UI dan Peradi Profesional Perkuat Kolaborasi Lewat Networking Golf Tournament 2026

Minggu, 08 November 2026 | 20:55

Mutu Audit jadi Penentu Kepercayaan Publik terhadap Korporasi

Minggu, 08 November 2026 | 20:00

Desak Tito Mundur, Faizal Assegaf: Dia Lingkar Inti Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 19:45

Ubedilah Badrun: Patron Jenderal Listyo Sigit Bertahun-tahun adalah Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 19:38

Prabowo Kumpulkan 10 Mantan Kapolri di Hambalang, Ada Da'i Bachtiar hingga Tito Karnavian

Minggu, 08 November 2026 | 18:48

Selengkapnya