Berita

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda. (Foto: Istimewa)

Politik

Poltracking Ungkap 5 Jurus Perbaiki Kinerja Pemerintahan Prabowo-Gibran

SENIN, 31 AGUSTUS 2026 | 22:59 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Poltracking Indonesia mengungkap lima jurus jitu untuk memperbaiki kinerja pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka di tengah tren penurunan tingkat kepuasan publik.

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda mengatakan, penurunan approval rating ini perlu disikapi dengan serius melalui langkah-langkah perbaikan yang berpihak kepada rakyat.

"Tren penurunan approval rating saat ini merupakan bagian dari dinamika politik pemerintahan yang perlu secara serius ditindaklanjuti dengan agenda perbaikan kinerja pemerintah," kata Hanta dalam survei berjudul Membaca Tren Kepuasan Publik Terhadap Pemerintahan Prabowo Gibran yang disiarkan dari akun YouTube Poltracking TV, Senin 31 Agustus 2026.


Survei yang dilakukan pada 14-20 Agustus 2026 dengan 1.220 responden mencatat tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran berada di angka 55,1 persen, sementara tingkat kepercayaan publik masih di angka 63,2 persen.

Hanta menekankan jurus pertama adalah menjaga daya beli dan memperluas lapangan kerja menyusul 44,3 persen publik mengaku harga kebutuhan pokok mahal menjadi persoalan tertinggi, sementara 62,5 persen publik bahkan mengatakan pengeluaran rumah tangga saat ini lebih banyak dibanding tahun lalu.

"Pemerintah perlu memperbanyak program jaring pengaman sosial yang secara khusus menyasar kelompok rentan dengan kondisi ekonomi sangat membutuhkan," ujar Hanta.

Ia menambahkan, pemerintah perlu menahan segala bentuk kenaikan biaya seperti pajak, harga BBM, dan tarif tol yang berdampak langsung pada daya beli dan tekanan ekonomi keluarga.

Jurus kedua adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program prioritas, terutama Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Survei mencatat 44,6 persen publik mendesak program MBG dihentikan, lebih tinggi dari yang setuju dilanjutkan sebesar 42,1 persen, sementara 55,6 persen publik tidak yakin KDMP mampu menjadi penggerak ekonomi desa.

Hanta menyarankan MBG perlu diaudit secara komprehensif dari hulu ke hilir dan diarahkan menjadi program khusus yang diprioritaskan secara ketat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Ia juga menyebut opsi mengonversi skema MBG menjadi Bantuan Langsung Tunai (BLT) berdasarkan data terpadu menjadi lebih rasional mengingat masih banyak persoalan dalam implementasi program tersebut.

Jurus ketiga adalah melakukan perombakan kabinet dan memperkuat komunikasi pemerintah mengingat tingkat kepuasan publik terhadap kinerja menteri hanya 47,0 persen.

Sebanyak 51,9 persen publik mendesak Presiden Prabowo melakukan reshuffle kabinet, terutama untuk bidang ekonomi (30,8 persen) dan hukum (22,0 persen) yang dinilai paling membutuhkan perbaikan.

"Presiden Prabowo memerlukan sosok Menteri Koordinator yang tegas dan responsif yang mampu bertindak sebagai penahan benturan isu-isu krusial," ujar Hanta.

Ia mencontohkan peran strategis Luhut Binsar Pandjaitan pada era Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengamankan kewibawaan institusi kepresidenan.

Jurus keempat adalah memperkuat penegakan hukum dan pemberantasan korupsi yang mendapat penilaian tidak baik dari publik masing-masing 46,5 persen dan 45,5 persen.

Hanta menegaskan Presiden Prabowo tidak boleh menoleransi benturan oknum-oknum penegak hukum ataupun benturan antar-institusi yang selama ini merusak tatanan hukum nasional.

"Oknum-oknum atau pimpinan yang bermasalah perlu mendapatkan sanksi berat, bahkan penggantian perlu secara tegas jika diperlukan dengan menunjuk figur-figur baru berintegritas tinggi," tegas Hanta.

Jurus kelima adalah memperkuat checks and balances dan persepsi harmonisasi presiden-wapres dengan mempertimbangkan keberadaan oposisi parlemen.

Hanta menyebut kehadiran PDIP, NasDem, dan PKS dengan total 232 kursi akan menghidupkan kembali fungsi checks and balances yang sehat dan demokratis, mengingat saat ini 58,5 persen publik menilai penting keberadaan partai oposisi yang kritis terhadap pemerintah.

"Skema penataan peta politik yang berimbang ini tidak hanya memperkuat mekanisme checks and balances, tetapi juga menjadi langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan serta kepuasan publik terhadap demokrasi Indonesia," pungkas Hanta.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

PT CNI Serahkan Duit Rp401 Miliar ke Kejagung

Senin, 31 Agustus 2026 | 20:27

Detik-Detik Bareskrim Gerebek Kasino di Batam: Pemain Panik, Rp7,7 Miliar Disita

Senin, 31 Agustus 2026 | 20:23

Owner VIMA Buka Suara soal Legalitas dan Perizinan Resmi

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:51

Masyarakat Diminta Berikan Data Jujur untuk Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:46

Enam Perusahaan di Kalimantan Disanksi Terkait Karhutla

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:38

Corpus Juris Civilis Tahun 528 M sebagai Fondasi Hukum Modern

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:34

Destry Pimpin BI Cerminkan Kuatnya Kepemimpinan Perempuan

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:24

Prabowo Tahu Persis Siapa yang Ingin Menjatuhkannya

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:05

PGNMAS Boyong BerandaMAS di Danantara Housing Expo 2026

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:03

Kemenperin Minta Tambahan Anggaran Rp1,72 Triliun

Senin, 31 Agustus 2026 | 18:54

Selengkapnya