Berita

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang. (Foto: Istimewa)

Publika

Papi Umba Pakocir: Catatan Pamungkas dari Muktamar ke-35 NU

SENIN, 31 AGUSTUS 2026 | 18:40 WIB

SAYA terinspirasi oleh Presiden pertama kita, Bung Karno. Beliau ahli merangkai akronim. Yang paling masyhur tentu berdikari: berdiri di atas kaki sendiri. Sebuah kata yang lahir dari kepala seorang pemimpin, lalu hidup lebih panjang daripada yang menciptakannya.

Pada catatan terakhir saya tentang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang baru saja usai ini, izinkan saya membuat satu akronim juga. Saya tidak berharap ia menjadi kata abadi seperti berdikari. Ia cuma catatan pamungkas seorang kiai kampung dari Situbondo, tentang apa yang saya lihat sendiri di Tambakberas, Jombang.

Akronim itu Papi Umba Pakocir: Panglima pergi umrah tiba-tiba, pasukan kocar-kacir.


Banyak yang mengira penguasa, dengan panglima perang Saifullah Yusuf dan Nusron Wahid telah memenangkan pertarungan. Orang menyebutnya paket penguasa. KH Miftachul Akhyar kembali sebagai Rais Aam, dan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031. Persis seperti yang berbulan-bulan lalu sudah berdesas-desus di kalangan nahdliyin, dan yang pernah saya sampaikan sendiri secara terbuka.

Saya ingin mengatakan: tidak. Mereka tidak menang. Mereka menang karena tidak ada pertarungan.

Mengapa tidak ada pertarungan? Di situlah letak ceritanya.

Beberapa pekan sebelum muktamar, saya berbicara di podcast Madilog, di LP3ES, dan di kanal YouTube NBI, Netra Bakti Indonesia. Semangat yang saya gelorakan sederhana saja: merdeka tanpa campur tangan penguasa, suksesi tanpa intervensi. NU harus merdeka memilih pemimpinnya sendiri.

Sambutannya di luar dugaan saya. Gagasan itu menular, menggema sampai ke pelosok. Dan pada hari pertama muktamar dibuka, 27 Agustus, kemenangan itu terasa benderang.

Bukan hanya di kalangan muktamirin. Warga NU di seluruh Indonesia meyakini bahwa para pihak yang selama lima tahun sibuk bertengkar tidak akan terpilih lagi.

Sebab NU ingin tenteram: tanpa pertikaian, tanpa intrik, tanpa manuver, tanpa saling buka borok sendiri. Lalu terjadilah papi umba pakocir.

Dua Penguasa, Satu Mangsa

Mari kita mundur sejenak ke Muktamar ke-34 di Lampung. Hampir semua orang tahu, kekalahan Buya Said Aqil Siradj waktu itu terjadi karena PKB dan Gus Muhaimin Iskandar memilih abstain, tidak melibatkan partai dan jaringannya untuk mendukung beliau. Buya Said kalah.

Di Tambakberas, ceritanya sempat berbeda. Gus Muhaimin bersama kekuatan PKB-nya bergerak serius menata pemenangan.

Semua optimistis Buya Said Aqil akan menjadi Rais Aam. Dan optimisme itu berdasar: dalam pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi, Buya Said masuk sembilan besar dengan 273 suara, duduk sebagai salah satu dari sembilan kiai yang berhak menentukan siapa Rais Aam.

Sampai kemudian, pada malam yang paling menentukan, Gus Muhaimin tiba-tiba hilang dari arena. Ditelepon tidak diangkat. Di-WA (WhatsApp) enggak dibalas. Belakangan diketahui beliau sedang berada di atas pesawat, dalam perjalanan umrah.

Umrah tentu mulia. Tidak ada satu pun warga NU yang pantas mencelanya.

Tetapi meninggalkan gelanggang pada malam pemungutan suara, ketika ribuan orang sedang menunggu, menyisakan satu pertanyaan besar yang sampai hari ini belum terjawab: mengapa harus malam itu?

Saya perlu menegaskan, saya bukan pasukan Gus Muhaimin. Saya hanya warga NU, kiai kampung, yang ingin NU merdeka memilih pemimpinnya tanpa intervensi, supaya kita bisa berlomba dalam kebaikan dengan saudara-saudara kita di Muhammadiyah.

Saya sudah melemparkan gagasan itu, mengolahnya menjadi wacana, dan menyajikannya kepada warga NU di seluruh Indonesia. Gagasan itu disambut, wacana itu menggema.

Sedihnya, saya hanyalah kiai kampung. Saya tidak punya suara. Saya tidak punya pasukan. Saya tidak punya kemampuan menggerakkan dan mengawal suara PCNU dan PWNU di seluruh Indonesia.

Ada yang punya itu. Salah satunya Ketua Umum PKB, Gus Muhaimin Iskandar. Partai yang dilahirkan NU.

Dan wajar NU melahirkan PKB, sebab NU punya jutaan anak kandung yang menjadi politisi; saluran mereka adalah PKB, bukan berpolitik di dalam NU.

Syahdan, setelah nyaris menang, yang terjadi di Lampung terulang di Jombang. Dulu penguasa memangsa Gus Muhaimin sehingga beliau abstain.

Kini penguasa memangsa Gus Muhaimin sehingga beliau hilang. Dua penguasa, satu mangsa, satu hasil. Buya Said Aqil Siradj gagal menjadi Rais Aam.

Bukan Menang, Tapi Dimenangkan

Ada satu hal lagi yang layak dicatat sejarah, dan ini bukan kabar burung melainkan tercatat resmi dalam risalah muktamar.

Di tengah forum, aturan main diubah. Sidang Pleno III memutuskan Ketua Umum PBNU tidak lagi dipilih langsung oleh muktamirin, melainkan ditetapkan oleh AHWA dari lima nama hasil penjaringan. Sebanyak 401 dari 552 pemilik suara menyetujui, 150 menolak, satu suara tidak sah.

Saya sudah memperingatkan hal ini jauh-jauh hari, dalam buku dan dalam setiap forum yang mau menerima saya bicara: mengubah aturan main di ambang kontestasi, apa pun niatnya, selalu membuka syak wasangka.

Peringatan itu lewat begitu saja. Tiga hari kemudian, aturan baru itulah yang dipakai.

Maka berdasarkan seluruh fakta itu, izinkan saya menyampaikan satu pernyataan, dan hanya satu: Mereka bukan menang. Tapi dimenangkan.

Di atas semua kisah yang saya ceritakan, saya tetap ingin mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Selamat kepada KH Miftachul Akhyar dan kepada Gus Kikin. Semoga amanah itu membawa maslahat bagi umat.

Dan seperti lima tahun yang telah berlalu, untuk lima tahun yang akan datang, saya tetap akan melantangkan satu slogan yang sama: Ber-NU tanpa ber-PBNU.

Sebab NU itu bukan kantor. NU itu cara beragama. Ia hidup di langgar-langgar, di majelis tahlil, di pengajian selepas maghrib, di khidmah para kiai kampung yang tidak pernah masuk daftar hadir muktamar mana pun.

Kantor boleh berganti penghuni. Cara beragama tidak boleh berganti pemilik.

Salam amar makruf nahi munkar.

HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy
Warga Nahdlatul Ulama, Kiai Kampung

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

PT CNI Serahkan Duit Rp401 Miliar ke Kejagung

Senin, 31 Agustus 2026 | 20:27

Detik-Detik Bareskrim Gerebek Kasino di Batam: Pemain Panik, Rp7,7 Miliar Disita

Senin, 31 Agustus 2026 | 20:23

Owner VIMA Buka Suara soal Legalitas dan Perizinan Resmi

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:51

Masyarakat Diminta Berikan Data Jujur untuk Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:46

Enam Perusahaan di Kalimantan Disanksi Terkait Karhutla

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:38

Corpus Juris Civilis Tahun 528 M sebagai Fondasi Hukum Modern

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:34

Destry Pimpin BI Cerminkan Kuatnya Kepemimpinan Perempuan

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:24

Prabowo Tahu Persis Siapa yang Ingin Menjatuhkannya

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:05

PGNMAS Boyong BerandaMAS di Danantara Housing Expo 2026

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:03

Kemenperin Minta Tambahan Anggaran Rp1,72 Triliun

Senin, 31 Agustus 2026 | 18:54

Selengkapnya