Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Harga Emas Dunia Stabil Usai Anjlok Akibat Sinyal Suku Bunga The Fed

SENIN, 31 AGUSTUS 2026 | 09:43 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga emas dunia terpantau bergerak stabil pada perdagangan Senin pagi, 31 Agustus 2026, setelah sehari sebelumnya mengalami kejatuhan tajam hingga lebih dari 3 persen. 

Koreksi besar tersebut dipicu oleh pernyataan Chairman Federal Reserve, Kevin Warsh, yang memberikan sinyal kuat bahwa bank sentral Amerika Serikat mungkin perlu kembali menaikkan suku bunga guna menjinakkan tekanan inflasi yang masih membayangi.

Emas spot tercatat bertahan di angka 4.455,29 Dolar AS per ons, usai menyentuh level terendahnya sejak 19 Agustus lalu. Di sisi lain, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman bulan Desember turut melemah sebesar 0,6 persen menjadi 4.504,90 Dolar AS per ons.


Pergerakan di pasar logam mulia lainnya menunjukkan variasi yang tipis. Harga perak spot terpantau stabil di posisi 66,34 Dolar AS per ons. Platinum mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,1 persen ke level 1.822,46 Dolar AS per ons, sedangkan paladium ikut menguat tipis 0,2 persen menjadi 1.424,89 Dolar AS per ons.

Warsh pada Jumat menegaskan bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan rumah yang besar selama para pembuat kebijakan belum benar-benar yakin inflasi melandu menuju target 2 persen. Sinyal terbuka ini langsung mengubah peta ekspektasi di pasar keuangan. 

Merujuk pada FedWatch Tool milik CME Group, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan bulan September melompat tajam ke angka 57 persen, melonjak jauh dari posisi sebelumnya yang hanya 36 persen. Kebijakan suku bunga yang lebih tinggi secara tradisional selalu menjadi musuh bagi emas, karena menaikkan biaya peluang bagi investor yang memegang aset tanpa imbal hasil.

Menghadapi pekan ini, para investor sudah bersiap memusatkan perhatian pada serangkaian data pasar tenaga kerja penting dari Amerika Serikat. Deretan data tersebut meliputi laporan ketenagakerjaan ADP, klaim pengangguran mingguan, angka lowongan pekerjaan, hingga data nonfarm payrolls yang dinanti-nanti. Kumpulan data ini bakal menjadi kompas utama bagi pasar untuk menerka langkah lanjutan The Fed setelah ekspektasi pengetatan moneter menguat.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Hadiri Penutupan Muktamar NU, Prabowo Dikalungi Sorban

Senin, 31 Agustus 2026 | 10:17

Muktamar ke-35 NU: LAZISNU Bagikan Santunan Yatim dan Kacamata Gratis untuk Guru Ngaji

Senin, 31 Agustus 2026 | 10:13

Tim Formatur PBNU Diberi Waktu Sebulan Susun Kepengurusan

Senin, 31 Agustus 2026 | 10:07

Rupiah Lesu ke Rp17.754 per Dolar AS di Awal Pekan, Pasar Wait and See

Senin, 31 Agustus 2026 | 09:57

Harga Emas Dunia Stabil Usai Anjlok Akibat Sinyal Suku Bunga The Fed

Senin, 31 Agustus 2026 | 09:43

IHSG Pagi Tertekan, Tiga Saham Malah Melompat

Senin, 31 Agustus 2026 | 09:28

Muslim Arbi Soroti Amandemen UUD 1945 dan Maraknya Politik Dinasti

Senin, 31 Agustus 2026 | 09:14

Emas Antam Mandek di Rp2,6 Juta per Gram

Senin, 31 Agustus 2026 | 08:56

Kapolri Mutasi Sejumlah Pejabat Strategis, Dua Kapolda Berganti

Senin, 31 Agustus 2026 | 08:53

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih dari 3 Persen

Senin, 31 Agustus 2026 | 08:38

Selengkapnya