Berita

Dony Oskaria (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube CNBC Indonesia)

Bisnis

Peta Danantara: 52 Persen dari 1.074 Perusahaan Masih Catat Rugi

JUMAT, 28 AGUSTUS 2026 | 07:57 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Konsolidasi perusahaan negara menjadi salah satu pekerjaan besar Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sejak dibentuk sekitar satu setengah tahun lalu. Dari pemetaan awal terhadap 1.074 perusahaan, Danantara menemukan masih banyak persoalan yang perlu dibenahi, mulai dari kerugian hingga tumpang tindih bisnis.

Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa 52 persen dari 1.074 perusahaan tersebut berada dalam kondisi rugi. Total kerugian langsung yang ditemukan mencapai sekitar Rp20 triliun.

Temuan itu menjadi salah satu dasar Danantara melakukan fundamental business review terhadap seluruh perusahaan BUMN dan entitas terkait secara satu per satu.


“Jumlahnya sangat banyak sekali. Nah ini fakta awal ketika kita mulai membangun Danantara, dari 1.074 ini, 52 persen adalah rugi,” kata Dony dalam wawancara yang disiarkan CNBC Indonesia baru-baru ini, dikutip redaksi di Jakarta, Jumat 28 Agustus 2026.

Menurut Dony, persoalan lainnya muncul dari pola bisnis antarperusahaan yang selama ini berjalan secara terpisah. Sekitar 80 persen perusahaan diketahui melakukan bisnis dengan induknya sendiri sehingga menciptakan banyak transaksi antarpihak dalam satu kelompok usaha.

Kondisi tersebut, kata Dony, berpotensi menimbulkan inefisiensi karena margin bisnis tidak sepenuhnya berasal dari aktivitas dengan pihak eksternal.

“80 persen daripada perusahaan-perusahaan kita ini berbisnis dengan induknya sendiri, sehingga menyebabkan adanya intercompany transaction yang mana marginnya diambil dari induknya bukan pure margin,” ujarnya.

Dony memperkirakan inefisiensi dari pola tersebut mencapai sekitar Rp50 triliun per tahun. Karena itu, Danantara melihat peluang penghematan yang besar apabila struktur bisnis BUMN dapat disederhanakan dan dikonsolidasikan.

“Kalau kita lakukan streamlining, kita secara langsung mendapatkan penghematan 50 triliun,” kata Dony.

Menurutnya, konsolidasi menjadi penting karena sebelumnya banyak BUMN menjalankan bisnis dalam struktur yang terpisah. Kondisi itu membuat perusahaan negara sulit saling mendukung ketika salah satu perusahaan menghadapi masalah.

Dony mencontohkan Krakatau Steel. Ketika perusahaan tersebut menghadapi persoalan, dividen dari BUMN lain seperti Pertamina tidak dapat begitu saja digunakan untuk membantu karena belum terdapat mekanisme kepemilikan dan konsolidasi yang memungkinkan hal tersebut.

Melalui Danantara, struktur tersebut mulai diubah. Perusahaan-perusahaan negara ditempatkan dalam satu kerangka kepemilikan dan pengelolaan yang lebih terkonsolidasi.

“Dengan Danantara, ini menjadi berubah karena keseluruhan perusahaan ini disatukan di dalam super holding,” ujar Dony.

Setelah pemetaan awal, Danantara kemudian melakukan fundamental business review terhadap 1.074 perusahaan dengan menggunakan sejumlah parameter. Di antaranya benchmark global, model bisnis, sumber pendapatan, komposisi pendapatan, struktur biaya, ukuran pasar, pangsa pasar, hingga kemampuan internal perusahaan.

Hasil kajian tersebut kemudian digunakan untuk menentukan arah masing-masing perusahaan. Danantara membaginya ke dalam empat kelompok, yakni perusahaan yang dilikuidasi, didivestasi, dikonsolidasi, dan direstrukturisasi.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Sambut Wacana Revisi UU Tipikor, Komisi III DPR: Perlu Dikaji Lebih Mendalam

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:32

Mahasiswa Bentangkan Poster Raksasa Tolak Karhutla

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:27

Asta Cita Sulit Berjalan Tanpa Stabilitas Keuangan dan Pemerintahan Bersih

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:22

Sahroni Minta Polisi Jaga Adik-adik Mahasiswa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:11

Mahasiswa Demo Mabes Polri, Jangan Kriminalisasi Pegawai PLN

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:57

Nasdem Bedah Pemikiran Bung Hatta untuk Perkuat Etika Politik

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:51

Koperasi Sawit Didorong Bangun Pabrik CPO hingga Kilang Minyak Goreng

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:45

Massa Tertahan di Depan Gedung UOB, Desak Polisi Buka Jalan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:41

IHSG Menguat Tipis Usai RUPSLB BEI Setujui Dividen Rp1,56 T

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:24

Massa Berbaju Hitam Lewat Kantor KPU RI Menuju Bundaran HI

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:14

Selengkapnya