ADA peristiwa bersejarah yang terjadi satu bulan setelah dibacakannya Proklamasi kemerdekaan Indonesia. Peristiwa itu adalah Rapat Raksasa di Lapangan Ikada.
Berlangsung pada 19 September 1945, rapat tersebut menjadi momen pertama kalinya diselenggarakan pertemuan rakyat dengan pemerintah Indonesia. Pemerintah ketika itu diwakili oleh Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan sejumlah menteri.
Ikada adalah singkatan dari Ikatan Atletik Djakarta. Lapangan Ikada sekarang menjadi lokasi berdirinya Monumen Nasional (Monas).
Ketika itu, ratusan ribu rakyat Indonesia memadati Lapangan Ikada untuk menghadiri rapat raksasa itu. Aksi tentara Jepang bersenjata lengkap yang menghalangi mereka tak dapat menghentikan kehadiran rakyat Indonesia di Lapangan Ikada.
Saat itu, Rapat Raksasa di Lapangan Ikada dipelopori para pemuda yang tergabung dalam Komite Van Aksi. Komite Van Aksi waktu itu diketahui kerap memotori berbagai gerakan pemuda di Jakarta.
Markas mereka ada di Jalan Menteng 31, Jakarta Pusat. Para pemuda yang tergabung dalam Komite van Aksi ketika itu di antaranya Sukarni, Chaerul Saleh, AM Hanafi, Adam Malik, dan kawan-kawan.
Rapat Raksasa itu memang dimotori dan dimobilisasi secara masif oleh para pemuda dalam Komite Van Aksi. Namun, pengusul diadakannya Rapat Raksasa di Lapangan Ikada adalah tokoh penting dari golongan tua. Ia adalah Mr. Achmad Soebardjo.
Peran Achmad Soebardjo di tingkat pemerintahan pasca kemerdekaan memang sangat krusial. Setelah Indonesia merdeka, Presiden Soekarno menunjuk Achmad Soebardjo untuk mengetuai Panitia Kecil yang bertugas menyusun organisasi pemerintah pusat.
Ketika menjadi Ketua Panitia Kecil itulah beliau mengusulkan diadakannya Rapat Raksasa di Lapangan Ikada dan menyusun agenda pertemuan besar ini, sebagai bentuk konsolidasi dan penegasan kedaulatan Indonesia di hadapan rakyat.
Sebelum Rapat Raksasa diadakan di Lapangan Ikada pada 19 September 1945, Achmad Soebardjo adalah tokoh yang turut merumuskan teks proklamasi.
Ia yang merumuskan kalimat pertama di naskah Proklamasi, yaitu: "Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia".
Beliau juga adalah tokoh dari golongan tua yang menjemput Soekarno dan Mohammad Hatta kala dibawa para pemuda ke Rengasdengklok untuk dipaksa segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945.
Di Rengasdengklok, beliau dapat meyakinkan para pemuda agar mengizinkan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta guna segera memproklamasikan kemerdekaan.
Mengapa Rapat Raksasa Digelar?Setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, tentara Jepang belum pergi dari Indonesia dengan alasan akan menyerahkan kendali Indonesia kepada Sekutu sebagai pihak yang menang perang.
Maka, status
quo terjadi, karena pihak Sekutu belum datang. Di tengah situasi itu, sering terjadi bentrokan di antara para pemuda Indonesia dengan penguasa militer Jepang saat itu.
Ketika itu, tersiar kabar tentara Sekutu akan membentuk markas besar di Jakarta. Mendengar hal itu, para pemuda merasa khawatir.
Sebab, kalimat di dalam teks proklamasi "...hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya..." belum terlaksana walau sudah sebulan setelah proklamasi dikumandangkan. Di dalam pertemuan dengan Achmad Soebardjo, muncullah inisiasi Rapat Raksasa di Lapangan Ikada.
Para pemuda dari Komite Van Aksi lantas menggalang kekuatan rakyat sembari meyakinkan para pemimpin negara semisal Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan para menteri.
Para pemimpin negara waktu itu masih memperhitungkan bakal terjadinya berbagai kemungkinan yang tak terduga, akibat reaksi pihak Jepang terhadap rapat itu, yang mungkin saja dapat merugikan perjuangan Indonesia.
Suasana politik ketika itu memang tegang, karena tentara Jepang belum sepenuhnya menyerahkan kekuasaan dan masih bersikap reaktif, sementara di lain pihak, ada juga ancaman kedatangan tentara Sekutu dan NICA (Belanda) yang ingin kembali menjajah Indonesia.
Perwakilan pemerintah lantas mengadakan rapat kabinet di rumah Presiden Soekarno. Rapat itu tidak mencapai kesepakatan. Rapat kabinet itu dilanjutkan di Jalan Lapangan Banteng Barat. Di sini, wakil dari Komite Van Aksi turut hadir. Komite Van Aksi pun berhasil meyakinkan agar rapat raksasa disetujui untuk diselenggarakan.
Tujuan penyelenggaraan Rapat Raksasa di Lapangan Ikada adalah agar para pemimpin negara ketika itu dapat berbicara secara langsung di hadapan rakyat. Sehingga, mereka dapat menegaskan dan memberi kepastian bahwa Indonesia telah merdeka.
Di sisi lain, rakyat pun dapat menegaskan dukungan terhadap negara Indonesia yang telah memproklamasikan kemerdekaan, dan akan mempertahankan kedaulatan negara yang saat itu baru berumur satu bulan.
Rapat Raksasa di Lapangan Ikada akhirnya berhasil diselenggarakan pada 19 September 1945. Pihak Jepang telah mengeluarkan larangan untuk mengadakan rapat raksasa.
Namun, sejak pagi hari 19 September 1945, rakyat dari Jakarta dan sekitarnya sudah bergerak dan mulai memadati Lapangan Ikada. Jumlah masyarakat yang datang dari Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, Karawang, Sukabumi, Cianjur, dan Bandung, itu diperkirakan mencapai 300.000 orang.
Mereka tidak gentar meski tentara Jepang dengan senjata lengkap terlihat siap siaga mengelilingi Lapangan Ikada. Pihak Jepang yang tidak senang melihat peristiwa itu bahkan memagari Lapangan Ikada dengan tank.
Rakyat dengan sabar menunggu sejak pagi di Lapangan Ikada. Sekitar pukul 15.00 WIB, Presiden Soekarno akhirnya datang bersama Wakil Presiden Mohammad Hatta dan para menteri.
Rapat Raksasa itu pun berhasil mempertemukan langsung Presiden dengan ratusan ribu rakyat Indonesia untuk pertama kalinya setelah merdeka. Di Rapat Raksasa itu, mereka pun membulatkan tekad untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari ancaman tentara Jepang maupun Sekutu.
Pidato Singkat Bung KarnoRapat Raksasa di Lapangan Ikada berhasil menunjukkan dukungan rakyat secara langsung kepada pemerintah Republik Indonesia yang baru sebulan berdiri.
Peristiwa itu menjadi demonstrasi rakyat Indonesia, sebagai unjuk kekuatan kepada pihak Jepang dan dunia tentang kebulatan tekad bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya dan mendukung pemerintah Indonesia di bawah pimpinan Soekarno-Hatta.
Rapat Raksasa di Lapangan Ikada juga membantah propaganda Belanda yang menyatakan bahwa Republik Indonesia adalah buatan Jepang dan kepemimpinan Soekarno-Hatta tidak didukung oleh rakyat.
Apalagi, di kesempatan itu Presiden Soekarno juga menyampaikan pidato walau singkat. Pidato singkat Soekarno seperti dikutip
Kompas, berbunyi,
"Kita sudah memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Proklamasi ini tetap kami pertahankan, sepatah pun tidak kami cabut. Dalam pada itu, kami sudah menyusun suatu rancangan. Tunduklah pada rancangan kami. Tenang, tenteram, tetapi tetap siap sedia menerima perintah yang kami berikan".Di dalam pidato singkat itu, Soekarno meminta rakyat untuk tenang, mempercayai pemerintah, dan membubarkan diri dari rapat itu secara tertib demi menghindari pertumpahan darah. Setelah mendengar pidato singkat presiden dan memahami maknanya, rakyat membubarkan diri dengan tertib.
Rapat Raksasa di Lapangan Ikada memang berlangsung singkat. Namun, walau berlangsung singkat, Rapat Raksasa di Lapangan Ikada 19 September 1945 itu berhasil mengawali berputarnya roda revolusi dan proses pengambilalihan kekuasaan dari tangan Jepang.
Rapat Raksasa di Lapangan Ikada juga menjadi wujud pertama kewibawaan Pemerintah Republik Indonesia kepada rakyatnya. Sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa ada suatu pemerintahan bernama Republik Indonesia yang didukung penuh oleh rakyatnya.
Rapat itu menjadi bukti nyata persatuan antara rakyat dan pemimpin Republik Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan. Dan rakyat Indonesia pun berhasil menunjukkan kepada dunia internasional bahwa kemerdekaan Indonesia adalah tekad murni rakyat, bukan hadiah dari Jepang.
Sejarah Singkat Lapangan IkadaKetika menjadi lokasi Rapat Raksasa pada 19 September 1945, tempat itu bernama Lapangan Ikada. Nama "Ikada" yang merupakan singkatan dari “Ikatan Atletik Djakarta” itu mulai digunakan di masa pendudukan Jepang tahun 1942.
Sebelumnya, lapangan itu bernama Koningsplein atau Lapangan Gambir. Di masa kolonial Belanda, kawasan Gambir adalah pasar. Namanya Pasar Gambir.
Di masa Orde Lama, di Lapangan Ikada itu sempat berdiri Stadion Ikada yang berkapasitas 30.000 penonton. Stadion serba guna itu diresmikan tahun 1951 dan digunakan sebagai venue ketika Jakarta menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) II tahun 1951.
Namun, di tahun 1963 stadion dan lapangan tersebut dirobohkan atas instruksi Presiden Soekarno, karena di lokasi tersebut kemudian dibangun tugu Monas (Monumen Nasional). Hingga saat ini, tugu Monas berdiri megah menjadi land mark Jakarta dan tetap menjadi kebanggaan warganya.
Yogi W UtomoWartawan senior