Berita

Politik

Rais Syuriah PWNU Gorontalo Mundur, Soroti Politik Uang di Muktamar

LAPORAN: ADIRIN*
KAMIS, 27 AGUSTUS 2026 | 20:16 WIB

Dinamika Nahdlatul Ulama (NU) dalam pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, kembali mendapat sorotan. 

Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo, dr. KH. Burhanudin Umar, mendadak menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya.

Pernyataan tersebut dituangkan dalam surat pengunduran diri yang ditujukan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta. 


Surat itu dibuat dan ditandatangani Burhanudin di Gorontalo pada 26 Agustus 2026, atau tepat sehari sebelum dimulainya rangkaian Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026.

Dalam surat tersebut, Burhanudin menyebut keputusan untuk meninggalkan jabatan Rais Syuriah PWNU Gorontalo bukan keputusan yang diambil secara ringan. 

Ia mengatakan keputusan tersebut telah melalui perenungan dan pertimbangan yang mendalam dengan memohon petunjuk serta pertolongan Allah SWT.

“Saya menyatakan mengundurkan diri dari jabatan Rais Syuriah PWNU Gorontalo,” tulis Burhanudin dalam surat pengunduran dirinya, dikutip Kamis 27 Agustus 2026.

Ada dua pertimbangan utama yang secara tegas disampaikan Burhanudin dalam surat tersebut. Pertama berkaitan dengan kondisi kesehatan. 

Ia mengungkapkan kondisi kesehatannya dalam beberapa waktu terakhir mengharuskannya mengurangi aktivitas dan tanggung jawab yang membutuhkan tenaga serta perhatian besar.

Menurut Burhanudin, posisi Rais Syuriah merupakan amanah yang berat dan harus dijalankan secara maksimal. 

Karena itu, ketika kondisi kesehatan tidak lagi memungkinkan dirinya menjalankan amanah tersebut sebagaimana mestinya, ia menilai pengunduran diri merupakan pilihan yang lebih bertanggung jawab.

“Ketika kondisi kesehatan tidak lagi memungkinkan saya menjalankan amanah tersebut sebagaimana mestinya, maka mengundurkan diri adalah pilihan yang menurut saya lebih bertanggung jawab,” tulisnya.

Namun, selain alasan kesehatan, Burhanudin juga mengungkapkan kegelisahan terhadap dinamika internal NU yang berkembang menjelang Muktamar.

Dalam suratnya, ia mengatakan mengikuti dan mengamati berbagai dinamika menjelang Muktamar NU dengan keprihatinan. Ia menilai proses tersebut semakin kuat diwarnai kepentingan politik, pragmatisme, hingga praktik-praktik yang mengarah pada politik uang.

Pernyataan tersebut menjadi bagian paling tajam dalam surat pengunduran diri Burhanudin karena disampaikan ketika struktur NU dari berbagai daerah tengah bersiap mengikuti forum Muktamar ke-35.

“Keadaan ini menimbulkan kegelisahan mendalam dalam diri saya sebagai bagian dari jam’iyah yang sejak awal dibangun di atas nilai keulamaan, keikhlasan, amanah, dan khidmah,” tulisnya.

Burhanudin juga menyoroti semakin berkurangnya pertimbangan moral dan akhlak dalam sikap maupun tindakan sebagian pengurus. 

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena NU sejak awal dibangun tidak hanya sebagai organisasi dengan jumlah jamaah dan struktur yang besar, tetapi juga sebagai jam'iyah yang bertumpu pada nilai keulamaan.

Ia menegaskan kekuatan NU tidak semata-mata terletak pada besarnya organisasi, banyaknya jamaah, maupun kedekatan dengan kekuasaan.

Sebaliknya, menurut Burhanudin, kekuatan utama NU berada pada wibawa moral para ulama, keteladanan para pengurus, serta kepercayaan umat.

“Padahal kekuatan utama Nahdlatul Ulama bukan semata-mata terletak pada besarnya organisasi, banyaknya jamaah, ataupun kedekatannya dengan kekuasaan, melainkan pada wibawa moral para ulama, keteladanan para pengurus, serta kepercayaan umat,” tuturnya.

Ia mengingatkan, ketika sebuah amanah mulai didekati dengan logika transaksi dan kepentingan, persoalan yang dipertaruhkan tidak berhenti pada siapa yang menang maupun siapa yang kalah dalam perebutan posisi.

Menurut Burhanudin, yang lebih besar dipertaruhkan adalah marwah organisasi dan tingkat kepercayaan warga NU kepada ulama serta para pengurusnya.

“Ketika sebuah amanah mulai didekati dengan logika transaksi dan kepentingan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi juga marwah jam’iyah dan kepercayaan umat kepada para ulama dan pengurusnya,” pungkasnya.

*Kontributor Blora

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Tak Pandang Bulu, Prabowo Akui Serahkan Dadan ke Kejaksaan

Kamis, 17 September 2026 | 12:29

MGBKI Soroti Isu Pendidikan Dokter Spesialis

Kamis, 17 September 2026 | 12:21

Prabowo Tugaskan Bahlil Bahas RUU Migas, SKK Migas Bisa Bubar!

Kamis, 17 September 2026 | 12:15

MNK Rokan Resmi Jadi Pionir Pengembanga Migas Nonkonvensional Indonesia

Kamis, 17 September 2026 | 12:13

Dasco Pastikan Seluruh Parpol Dilibatkan dalam Pembahasan Lanjutan RUU Pemilu

Kamis, 17 September 2026 | 12:00

Ternyata Prabowo Suka Evidence-Based

Kamis, 17 September 2026 | 12:00

SMEC Perluas Akses Layanan Kesehatan Mata

Kamis, 17 September 2026 | 11:50

Berjalan Beriringan, Operasi PLTP Tak Pengaruhi Situs Waruga di Tomohon

Kamis, 17 September 2026 | 11:43

Optimalisasi Sumur Sepinggan V-7: PHKT Genjot Produksi Migas Lampaui Target

Kamis, 17 September 2026 | 11:35

Prabowo Ungkap Bakal Ada Investasi Besar-besaran Masuk RI

Kamis, 17 September 2026 | 11:19

Selengkapnya