Berita

Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah. (Foto: RMOL)

Politik

Pejabat Jangan Merasa Sok Tahu Persoalan Rakyat

KAMIS, 27 AGUSTUS 2026 | 05:12 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Pemerintah, DPR, aparat keamanan dan masyarakat diingatkan tidak terjebak melihat berbagai gejolak politik hanya dari permukaan. 

Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah mengatakan, persoalan yang muncul di masyarakat Pati yang berdemo di Jakarta, perlu dibedakan antara gejala dan akar masalah.

“Banyak pejabat merasa pintar. Siapa yang tidak kenal Socrates. Ada ungkapan, satu-satunya yang saya tahu adalah saya tidak tahu apa-apa. Karena itu masyarakat datang untuk memberi tahu,” kata Amir, dikutip Kamis 27 Agustus 2026.


Menurut Amir, pernyataan Socrates tersebut menjadi pengingat bagi para pemegang kekuasaan agar tidak merasa paling mengetahui persoalan masyarakat. 

Ia menilai, aksi dan gejolak masyarakat Pati merupakan gejala, sementara persoalan yang lebih mendasar berkaitan dengan tata kelola konstitusional dan hubungan antara rakyat, pemerintah daerah, hingga pemerintah pusat.

“Sekarang sampai hari ini kita harus membedakan gejala dan akar masalah. Bicara masyarakat Pati, itu gejala. Akar masalahnya adalah konstitusi yang palsu,”  kata Amir.

Amir menjelaskan, dalam sistem pemerintahan, aspirasi masyarakat di kabupaten semestinya disampaikan melalui bupati dilanjutkan kepada gubernur dan kemudian diteruskan kepada pemerintah pusat melalui Menteri Dalam Negeri (Mendagri).

Karena itu, ia meminta seluruh pihak tidak memperbesar persoalan menjadi konflik horizontal maupun benturan antara masyarakat dengan aparat. 

“Presiden Prabowo Subianto manusia biasa. Kalau salah, kita kritik. Tetapi jangan membuat rusak,” kata Amir.

Amir juga menyoroti pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset yang saat ini tengah dikebut DPR.

Pernyataan Amir tersebut sejalan dengan perkembangan terbaru di DPR. Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman pada 25 Agustus 2026 memastikan RUU Perampasan Aset ditargetkan disahkan paling lambat dalam rapat paripurna Desember 2026.

Komisi III menyebut telah melakukan 35 kali Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU), tiga kunjungan kerja ke daerah, serta menerima masukan tertulis dari puluhan elemen masyarakat. 

"DPR memang perlu membuka ruang partisipasi publik," kata Amir.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Hashim Bantah Janjikan HP Gratis, Ngaku Dipelintir Media

Jumat, 30 Oktober 2026 | 00:13

Hemat Biaya Operasional, Drone Pertanian Frogs Bidik Program Cetak Sawah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:45

28 Jam Pemuda Bicara di Malang Usung Deklarasi ‘Sumpah Promptmuda’

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:24

Kemenkop dan Pertamina Patra Niaga Luncurkan Model Pengumpulan Minyak Jelantah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:59

Asap dan Sengsara

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:52

Sempat Ditahan, 19 Demonstran Sumpah Pemuda Dibebaskan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:38

32,7 Juta Investor Kecewa Nilai Saham Anjlok Imbas MSCI, Hashim: Saya Juga

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:12

PLN Siap Pasok Daya Andal untuk Jaringan Usaha Telkom Group

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:47

Tim Yaqut Hadirkan Saksi Meringankan dalam Sidang Kuota Haji

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:36

Singapura Panggil 10 Perusahaan RI soal Karhutla, Rosan: Investasi Tetap Terbuka

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:21

Selengkapnya