Penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur. (Foto: Istimewa)
Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum terus mempercepat penanganan infrastruktur terdampak bencana dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan, langkah itu terlihat dalam penanganan gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, NTT.
Saat turun ke Nagekeo, Dody meminta pemerintah daerah segera menyampaikan titik-titik kerusakan tanpa harus menunggu seluruh proses pendataan rampung.
“Arahan Pak Presiden sudah jelas bahwa kita tidak boleh berduka berlama-lama, secepatnya kita harus bangkit. Jadi saya mohon diberikan data lengkapnya, titik-titiknya,” kata Dody dalam keterangan tertulis, Sabtu 22 Agustus 2026.
Hingga 16 Agustus 2026, sembilan ruas jalan nasional yang terdampak gempa telah kembali fungsional. Delapan ruas berada di jalur Trans Flores dari Labuan Bajo menuju Ende dan Maumere, sementara satu lainnya ruas Ruteng-Reo-Kedindi.
Sebanyak 40 titik longsoran dan empat titik patahan badan jalan ditangani. Balai Pelaksanaan Jalan Nasional NTT mengerahkan tujuh ekskavator dan empat loader ke berbagai lokasi terdampak.
Meski akses utama dapat dibuka, Dody tetap menghadapi pekerjaan di sejumlah titik. Salah satunya ruas Krica-Lidi sepanjang 4,1 kilometer di Desa Pulue yang memiliki sedikitnya 10 titik longsor.
Dua ekskavator dan satu kendaraan pikap dikerahkan. Hingga 19 Agustus, tim gabungan berhasil menembus salah satu titik longsor dan pembersihan masih terus dilakukan.
Penanganan Dody tidak berhenti pada konektivitas jalan. Pemulihan layanan dasar, terutama air bersih, ikut menjadi prioritas.
Di Kabupaten Ende, jaringan perpipaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Inpres 2024 IKK Nangaba rusak akibat gempa. Perbaikan dimulai pada 16 Agustus dan rampung pada malam berikutnya. Air kemudian kembali mengalir hingga sambungan rumah warga.
Di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, sekitar 7.000 warga di delapan desa membutuhkan dukungan air bersih. Empat tandon berkapasitas masing-masing 1.200 liter dikirim ke lokasi.
Penanganan tidak hanya dilakukan untuk kebutuhan darurat. Pemerintah juga menyiapkan survei geolistrik guna mencari sumber air tanah baru sehingga pasokan air dapat diperkuat dalam jangka lebih panjang.
Dody juga mendorong pemeriksaan fasilitas publik. Personel yang diterjunkan untuk memeriksa bangunan terdampak ditambah dari tiga menjadi 14 orang. Rumah Sakit Komodo, kantor pemerintahan, rumah ibadah, dan fasilitas umum menjadi bagian dari bangunan yang diperiksa.
Kerusakan jaringan irigasi ikut menjadi perhatian. Di Daerah Irigasi Mbay Kiri Lanjutan, saluran tersier rusak sepanjang 250 meter dan patah pada tiga titik. Sekitar 175 hektare lahan terdampak.
"Akses dibuka lebih dahulu agar mobilitas kembali berjalan, sementara pemulihan air, fasilitas publik, dan infrastruktur pendukung dikerjakan secara paralel," demikian Dody.