Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Bisnis

Efek El Nino dan B50 Bikin Harga CPO Terbang ke Level Tertinggi

SABTU, 22 AGUSTUS 2026 | 14:11 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kinerja harga minyak sawit mentah (CPO) tampil gemilang sepanjang pekan ini. Di Bursa Malaysia Derivatives, harga CPO melonjak hampir 6,54 persen, sekaligus mencetak rekor kenaikan mingguan tertinggi dalam 24 pekan terakhir. 

Di akhir pekan ini, kontrak berjangka CPO terkerek naik 1,15 persen dan bertengger di posisi 5.018 ringgit Malaysia per ton. 

Pencapaian ini memperpanjang tren penguatan mingguan untuk tiga kali berturut-turut, membawa harga CPO ke level tertingginya sejak Desember 2024.


Melansir data Trading Economics pada Sabtu 22 Agustus 2026, reli harga ini tertopang oleh tren positif minyak nabati di Bursa Dalian.

Sentimen kuat juga datang dari dalam negeri. Sebagai produsen CPO terbesar di dunia, permintaan domestik Indonesia diprediksi terus merangkak naik menjelang implementasi penuh program biodiesel B50 yang dijadwalkan bergulir pada Oktober 2026. 

Di samping itu, ancaman fenomena El Nino turut memicu kekhawatiran pasar akan potensi cuaca kering yang bisa memangkas angka produksi sawit di Indonesia dan Malaysia.

Kendati sedang dalam tren menanjak, ruang penguatan harga CPO masih dibayangi sejumlah tantangan dari sisi pasokan dan permintaan alternatif. Pasokan minyak sawit Malaysia pada Juli 2026 lalu tercatat menumpuk hingga menyentuh level tertinggi dalam lima bulan terakhir. 

Sementara itu, dari sisi permintaan global, kilang minyak nabati di India berpotensi mulai beralih ke minyak kedelai yang harganya lebih miring. Angka impor minyak kedelai di India bahkan diproyeksikan bisa memecahkan rekor pada bulan Agustus ini.

Pelemahan daya serap pasar juga tercermin dari lesunya momentum ekspor CPO Malaysia baru-baru ini. Mengutip laporan Reuters, lembaga survei kargo Intertek Testing Services mencatat adanya kemerosotan pengiriman minyak sawit Malaysia sebesar 13,2 persen pada periode 1-20 Agustus dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. 

Searah dengan data tersebut, lembaga AmSpec Agri Malaysia juga menaksir adanya penurunan ekspor di angka 5,5 persen.

Meskipun diadang sentimen negatif dari pelemahan volume ekspor, prospek harga CPO Malaysia diyakini masih akan tetap kokoh di atas 4.600 ringgit Malaysia per ton pada September 2026 mendatang. 

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya