Berita

Tokoh muda NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy. (Foto: Dok. Pribadi)

Politik

Muncul Seruan "Gerbang Toll" Jelang Muktamar ke-35 NU

JUMAT, 21 AGUSTUS 2026 | 16:17 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Tensi politik internal Nahdlatul Ulama (NU) menghangat jelang gelaran Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang. Tokoh muda NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur secara terbuka menggaungkan Gerakan Bareng Tolak LPJ PBNU alias "Gerbang Toll PBNU".

"Saya warga NU, kiai kampung, menyerukan Gerbang Toll PBNU, gerakan bareng tolak LPJ PBNU," kata Gus Lilur dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 21 Agustus 2026.

Menolak LPJ bukan permusuhan. Menolak LPJ adalah menolak menandatangani keterangan yang isinya tidak sesuai dengan keadaan. Ia justru bentuk penghormatan tertinggi kepada Muktamar: pengakuan bahwa forum ini bukan tempat basa-basi, melainkan mahkamah tertinggi jam’iyah.


Gus Lilur menegaskan, gerakan ini bukan wujud gerakan anti-NU atau bentuk permusuhan terhadap jajaran pengurus yang akan mengakhiri masa khidmahnya. Sebaliknya, seruan ini menjadi ajakan bagi para muktamirin untuk bersikap kritis, objektif, dan menggunakan hak organisasinya secara bertanggung jawab.

"Terima kasih bukan tanda tangan, dan sungkan bukan pertanggungjawaban," tegasnya.

Ia menegaskan, LPJ merupakan dokumen vital penentu mandat organisasi yang tidak boleh disetujui sekadar karena tradisi ewuh pakewuh atau formalitas belaka.

Kritik Kinerja dan Gesekan Elite

Gus Lilur menyoroti dinamika internal PBNU pada akhir 2025 yang sempat memanas dan menjadi tontonan publik. Aksi saling pecat dan klaim kewenangan antarpimpinan sangat disayangkan karena warga NU di tingkat akar rumput seperti petani, buruh, nelayan, dan guru madrasah membutuhkan keteladanan persaudaraan, bukan perpecahan elite.

Ia juga menagih hasil kerja konkret dari kepengurusan periode ini. Keberhasilan PBNU harus diukur dari karya nyata yang dirasakan langsung oleh jemaah seperti pembangunan kampus atau rumah sakit riil, bukan sebatas seremonial MoU, konferensi, atau publikasi program.

"Semangat membangun ini penting untuk mengembalikan NU pada tradisi para muassis seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri," jelasnya.

Selain itu, Gus Lilur mengkritik pola hubungan PBNU dengan struktur di daerah. Maraknya penggunaan instrumen caretaker, pembekuan SK, hingga pemberhentian pengurus wilayah (PWNU) dan cabang (PCNU) dinilai mengikis rasa memiliki terhadap jam'iyah

"NU adalah jaringan persaudaraan berbasis sanad dan silaturahmi, bukan perusahaan dengan relasi kantor pusat dan cabang," tegasnya.

Soroti Kasus Hukum dan Pelayanan Jemaah

Persoalan hukum yang melibatkan tokoh-tokoh yang melekat dengan entitas NU juga tak luput dari perhatian. Kendati tetap menghormati asas praduga tak bersalah, Gus Lilur menilai perkara hukum seperti kasus Bendahara Umum PBNU muktamar Lampung, Mardani H Maming yang berakhir sebagai terpidana perkara izin usaha pertambangan hingga dugaan korupsi kuota haji yang menyeret nama Yaqut Cholil Qoumas secara sosial berdampak pada persepsi publik dan harus dijadikan bahan evaluasi etik kelembagaan.

Ia menekankan, seluruh struktur PBNU dari tingkat pusat hingga ranting pada hakikatnya dibentuk untuk melayani jemaah, bukan menjadi alat untuk mempertahankan kekuasaan.

Menutup keterangannya, Gus Lilur menyerukan agar seluruh muktamirin dari berbagai daerah datang ke arena Muktamar ke-35 dengan membawa mandat independen organisasi tanpa titipan kepentingan kelompok tertentu.

"Penolakan terhadap LPJ bukanlah akhir dari NU, melainkan langkah korektif agar kepengurusan baru tidak mengulang kesalahan yang sama demi mengembalikan NU kepada khidmah utamanya," tandasnya.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya