Berita

Ekonom UOB, Enrico Tanuwijaya (paling kiri) dalam acara UOB Media Editors Circle 2026 bertajuk "Powering Indonesia's Next Engine of Growth", di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026 (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

24 Persen Penduduk Sumbang 56 Persen Konsumsi, Ekonom Soroti Kelas Menengah

RABU, 12 AGUSTUS 2026 | 15:03 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ekonomi global tengah memasuki fase new normal, ditandai perang geopolitik yang berkepanjangan dan volatilitas tarif yang diperkirakan masih mewarnai perekonomian hingga beberapa tahun ke depan. 

Bagi Indonesia, kondisi ini menuntut reformasi dan penguatan sumber-sumber pertumbuhan domestik.

Ekonom UOB, Enrico Tanuwijaya, menilai Indonesia perlu memberi perhatian lebih besar pada kelas menengah-atas yang menjadi motor utama konsumsi. Meski kelompok middle to high-income earner hanya mencakup sekitar 24 persen populasi, kontribusinya mencapai 56 persen terhadap konsumsi.


“Dari 280 juta manusia di Indonesia, yang dinamakan middle to high-income earner itu sekitar 24 persenan yang paling atas. Tapi by spending, mereka contribute 56 persen,” kata Enrico dalam acara UOB Media Editors Circle 2026 bertajuk "Powering Indonesia's Next Engine of Growth", di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026.

Menurut Enrico, tantangannya adalah pertumbuhan PDB dalam beberapa kuartal terakhir belum sepenuhnya ditopang oleh konsumsi masyarakat. Ia menyoroti pelemahan survei dunia usaha, khususnya pada sektor padat karya, yang berpotensi menekan daya beli kelas menengah.

Di sisi lain, Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar dari sektor keuangan dan digital. Enrico mencatat penetrasi kredit Indonesia baru sekitar 39 persen, sementara penggunaan pembayaran digital juga masih berada di kisaran 40-an persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa inklusi keuangan dan digitalisasi masih jauh dari titik jenuh.

“Penetrasi rendah, kapitalisasi low, digitalisasi under-potential,” katanya.

Karena itu, menurut Enrico, agenda reformasi tidak cukup hanya berfokus pada satu sektor. Sustainability, konektivitas, transisi energi, transformasi digital, hingga penguatan kelas menengah perlu berjalan beriringan.

Di tengah dunia yang semakin volatil, Indonesia memiliki peluang besar untuk tumbuh lebih tinggi, asal mampu menghidupkan kembali konsumsi kelas menengah sekaligus membuka potensi ekonomi yang masih belum tergarap, terutama melalui perluasan akses kredit dan percepatan digitalisasi.


Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Prabowo Bertemu Wakil Menteri Perang AS Elbrigde Colby, Bahas Apa?

Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:22

Aksi Kocak dan Absurd dalam Film Kung Fu Soccer

Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:18

KPK Panggil Pejabat Hingga Pegawai Pemkab Langkat

Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:05

Polri Klarifikasi Rutan Bareskrim Disebut jadi Sarang Narkoba

Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:01

Legislator Nasdem Minta Negara Kasih Insentif ke Ibu Rumah Tangga

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:56

KPK Panggil Direktur Bank DBS Indonesia di Kasus TPPU Andhi Pramono

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:46

Lawyer Sebut Kasus Pelabuhan Tanjung Perak Sarat Kriminalisasi

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:29

UOB Geser Strategi, Fokus Garap Emerging Affluent dan Kebutuhan Nasabah

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:26

Golkar Dukung Wakil Kepala Daerah Tak Dipilih Lewat Pilkada

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:22

24 Persen Penduduk Sumbang 56 Persen Konsumsi, Ekonom Soroti Kelas Menengah

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:03

Selengkapnya