Berita

Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Bimo Wijayanto. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)

Bisnis

Insentif Pajak ETF Emas Masih Digodok, DJP Tunggu Restu Purbaya

SENIN, 10 AGUSTUS 2026 | 20:42 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pemerintah tengah menggodok kebijakan insentif pajak untuk instrumen investasi berupa perdagangan komoditas emas tanpa penyerahan fisik atau exchange traded fund (ETF) emas non-delivery.

Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) Bimo Wijayanto mengatakan, rencana pemberian insentif berupa pembebasan Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tersebut masih dikoordinasikan dengan unit lain di Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Menurutnya, ETF emas dapat dipersamakan dengan surat berharga sehingga berpotensi memperoleh perlakuan pajak yang sama.


"Secara teknis, seharusnya itu (ETF emas) bisa dipersamakan dengan surat berharga dan bisa dibebaskan PPh dan PPN-nya. Cuma, kita mesti koordinasi dulu dengan Dirjen SEF dan lapor ke Pak Menteri Keuangan," ujar Bimo di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta pada Senin, 10 Agustus 2026.

Bimo mengatakan, pembahasan teknis mengenai mekanisme pemberian insentif pajak tersebut sudah diselesaikan oleh Ditjen Pajak. Namun, penerapannya masih menunggu persetujuan Menteri Keuangan.

"Pembahasan teknis di DJP sudah final, tetapi kan mesti koordinasi dengan DJSEF dan Pak Menteri Keuangan," tegasnya.

Jika nantinya ETF emas dipersamakan dengan surat berharga, instrumen tersebut berpotensi tidak dikenai PPN.

Sebagai informasi, surat berharga tidak termasuk barang kena pajak (BKP) sehingga tidak dikenai PPN sebagaimana diatur dalam Pasal 4A UU PPN s.t.d.d UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP).

Sebelumnya, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi pada Juli 2026 telag mengusulkan agar pemerintah memberikan insentif fiskal untuk produk investasi baru di sektor jasa keuangan, termasuk ETF emas non-delivery.

"Kita minta beberapa insentif lah untuk produk-produk baru di sektor jasa keuangan seperti ETF emas dan lain-lain. Kami juga menyampaikan update terkait perkembangan bulion, lalu terkait beberapa inisiatif baru seperti rencana demutualisasi bursa yang Insyaallah nanti POJK-nya akan selesai September," ujarnya.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto kemudian mengatakan pemerintah akan mengkaji usulan tersebut. Menurutnya, insentif fiskal diperlukan untuk mendukung penguatan peran OJK sebagai regulator dan pengawas sektor keuangan.

"Terhadap regulasi baru P2SK, terkait dengan penugasan OJK selanjutnya, termasuk untuk tahap berikutnya yaitu perdagangan ETF emas non-delivery, nah itu mungkin membutuhkan insentif fiskal. Ini kita pelajari juga," pungkasnya.

Untuk diketahui, ETF emas merupakan instrumen investasi yang diperdagangkan di bursa dan dirancang untuk mengikuti pergerakan harga emas atau aset yang berkaitan dengan emas.

Melalui instrumen tersebut, investor tidak perlu memiliki atau menyimpan emas secara fisik karena transaksi ETF emas bersifat non-delivery. Namun, investor tetap dapat memperoleh eksposur terhadap perubahan harga emas di pasar global.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

AMMN Cetak Laba Bersih Rp15,9 Triliun hingga September 2026

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:24

Hasto Ingatkan Kader PDIP Tak Boleh Takut Bela Rakyat

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:01

Kapolres Jakbar Obrak-abrik Kampung Boncos, Tiga Orang Dicokok

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:16

Respons Ijazah Gibran, PDIP: Tidak Ada Kebohongan yang Abadi

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:01

Fahira Idris Apresiasi Kepastian Ujian Ulang Siswa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:36

Prajurit Marinir Perbaiki Jembatan di Distrik Aradide

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:11

Diduga Terjerat Kasus Korupsi, AKBP Edy Songkel Dicopot

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:00

Prabowo Didorong Percepat Reformasi Energi Nasional

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:31

Komunitas Pengawas WNA Desak Dirjen Pajak Telaah Dumas PT BCI

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:14

Jogja Cultural Wellness Festival 2026 Usung Wisata Kebugaran

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:00

Selengkapnya