Berita

Ilustrasi. (Foto: RMOLJateng)

Nusantara

Petani Diminta Jangan Tertipu Konten Pupuk Viral di Medsos

MINGGU, 09 AGUSTUS 2026 | 06:23 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Masyarakat diingatkan agar tidak mudah percaya terhadap berbagai konten pertanian di media sosial yang mempertontonkan hasil panen melimpah, bibit tanaman, hingga pupuk yang diklaim mampu memberikan hasil secara instan. 

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Persaudaraan Tani dan Nelayan Indonesia (PETANI), Arief Darmawan dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Minggu, 9 Agustus 2026.

"Jangan tertipu oleh konten viral yang seolah-olah menggambarkan bertani itu mudah dan serba instan. Pertanian adalah ilmu sekaligus keterampilan yang membutuhkan proses, ketekunan, pengalaman, dan pemahaman terhadap kondisi alam. Tidak ada jalan pintas untuk menghasilkan panen yang berkualitas," ujar Arief.


Ia menjelaskan bahwa keberhasilan budidaya tanaman tidak hanya ditentukan oleh kualitas bibit atau pupuk yang digunakan. Lebih dari itu, terdapat berbagai faktor yang saling memengaruhi, mulai dari jenis tanah, tingkat kesuburan lahan, ketersediaan air, intensitas cahaya matahari, curah hujan, suhu udara, kelembaban, hingga kondisi agroklimat di setiap daerah.

"Bibit yang berhasil tumbuh subur di suatu daerah belum tentu memberikan hasil yang sama di daerah lain. Begitu pula dengan pupuk. Tidak ada satu produk yang dapat diklaim cocok untuk semua kondisi lahan di Indonesia. Setiap wilayah memiliki karakteristik lingkungan yang berbeda sehingga pendekatan budidayanya juga harus berbeda," jelasnya.

Arief mengingatkan bahwa keputusan membeli bibit, pupuk, atau sarana produksi pertanian hanya karena melihat testimoni di media sosial merupakan langkah yang berisiko apabila tidak disertai pemahaman teknis yang memadai.

"Jangan sampai masyarakat mengeluarkan biaya besar hanya karena tergiur iklan atau testimoni yang belum tentu sesuai dengan kondisi lahannya. Keputusan dalam bertani harus didasarkan pada pengetahuan, hasil uji lapangan, dan rekomendasi yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar tren media sosial," tegas dia.

Arief mengajak para petani pemula untuk memperbanyak belajar langsung dari sumber yang kompeten, seperti penyuluh pertanian, praktisi lapangan, akademisi, maupun pakar pertanian yang memiliki pengalaman sesuai dengan komoditas yang akan dikembangkan.

"Media sosial boleh dijadikan sumber inspirasi, tetapi jangan menjadi satu-satunya guru dalam bertani. Belajar langsung kepada penyuluh, praktisi, atau pakar akan membantu masyarakat memahami teknik budidaya yang sesuai dengan kondisi wilayahnya sehingga risiko kegagalan dapat diminimalkan," katanya.

Di sisi lain, Arief juga menyampaikan kritik kepada para kreator konten pertanian agar tidak hanya mengejar jumlah penonton, pengikut, atau keuntungan penjualan produk. Menurutnya, kreator memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan informasi yang benar, berimbang, dan tidak memberikan harapan berlebihan kepada masyarakat.

"Konten pertanian seharusnya menjadi sarana edukasi, bukan sekadar alat promosi. Jangan membangun narasi bahwa cukup membeli satu jenis bibit atau satu jenis pupuk, lalu hasil panennya pasti luar biasa. Klaim seperti itu tidak mencerminkan praktik pertanian yang sesungguhnya dan berpotensi merugikan masyarakat," imbuh dia.

Arief menilai konten yang baik justru harus menjelaskan keseluruhan proses budidaya, termasuk tantangan, risiko kegagalan, pengendalian hama dan penyakit, biaya produksi, hingga faktor-faktor lingkungan yang memengaruhi hasil panen. 

"Dengan demikian, masyarakat memperoleh gambaran yang utuh sebelum memutuskan terjun ke sektor pertanian," tegasnya. 

Masih kata Arief, konten yang baik adalah konten yang mencerdaskan masyarakat, membangun optimisme yang realistis. 

"Kami imbau para konten kreator dapat lebih bertanggung jawab membuat konten-kontennya, dengan konten yang edukatif maka akan dapat mendorong lahirnya petani yang mampu mengelola lahannya berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengalaman, bukan sekadar mengikuti tren yang sedang viral," pungkas Arief.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Bezzecchi Juara MotoGP Mandalika, Martin Kembali ke Puncak Klasemen

Minggu, 11 Oktober 2026 | 16:27

Prabowo dan El-Sisi Kecam Keras Pembangunan Permukiman Ilegal Israel

Minggu, 11 Oktober 2026 | 16:20

Gus Lilur Minta KPK Usut Dugaan Aliran Dolar di Muktamar NU

Minggu, 11 Oktober 2026 | 16:06

Quiles Juara Moto3 Mandalika, Veda Ega Finis Keenam

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:52

Koperasi Didorong Bergerak ke Sektor Produksi Hingga Keuangan

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:44

Mesir Tambah Beasiswa untuk Mahasiswa Kedokteran, Teknik, dan Sains Indonesia

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:42

20 Kapolres dan Kapolresta Pulau Jawa Dirombak Jenderal Suyudi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:33

Prabowo Bidik Penguatan Ekonomi RI-Mesir Lewat Perjanjian Dagang dan Dana Investasi Bersama

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:14

Krisman Harefa Gugat MSIG Life Insurance Indonesia Rp1 Miliar ke PN Jaksel

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:11

Muzakarah Tauhid Sufi Jadi Momentum Perkuat Persatuan Umat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:01

Selengkapnya