Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Prospek Suku Bunga The Fed Bikin Dolar AS Tertekan di Akhir Pekan

SABTU, 08 AGUSTUS 2026 | 07:37 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Nilai tukar Dolar AS di pasar uang New York melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia, termasuk Yen Jepang dan Euro, pada penutupan perdagangan Jumat 7 Agustus 2026 waktu setempat. 

Penurunan ini dipicu oleh rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang secara mengejutkan memburuk, sehingga memperlemah peluang bank sentral AS (The Fed) untuk menaikkan suku bunga.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan hilangnya 23.000 lapangan kerja pada Juli, padahal para ekonom memperkirakan adanya penambahan 80.000 lapangan kerja. Meskipun tingkat pengangguran berada di angka 4,1 persen, tingkat partisipasi angkatan kerja merosot ke level terendah dalam hampir lima setengah tahun, yaitu 61,4 persen. 


Kondisi pasar tenaga kerja yang melemah ini memicu pergeseran ekspektasi suku bunga, di mana pasar kini menilai The Fed akan menunda kenaikan suku bunga dari September ke Oktober atau Desember. Peluang The Fed untuk menahan suku bunga pada September pun melonjak menjadi 56 persen, naik dari 45 persen sehari sebelumnya.

Secara spesifik terhadap Yen Jepang, Dolar AS melemah 0,57 persen ke posisi 157,56 Yen. Penurunan ini menghapus penguatan harian Dolar AS sebelumnya, meski secara akumulasi mingguan Dolar AS masih mencatat kenaikan tipis sekitar 0,10 persen.

Sementara itu terhadap Euro, Dolar AS melemah seiring dengan penguatan Euro sebesar 0,39 persen menjadi 1,1568 Dolar AS per Euro. Secara mingguan, Dolar AS terdepresiasi sebesar 0,41 persen terhadap mata uang kawasan Eropa tersebut.

Secara keseluruhan, Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan Dolar AS terhadap sekumpulan mata uang utama, turun 0,44 persen ke level 99,50. Catatan ini menandai penurunan mingguan sebesar 0,31 persen sekaligus menjadi tren penurunan selama dua pekan berturut-turut. 

Melemahnya prospek Dolar AS ini turut memicu penurunan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS bertenor 2 tahun menjadi 4,245 persen dan tenor 10 tahun ke level 4,649 persen.


Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Tak Pandang Bulu, Prabowo Akui Serahkan Dadan ke Kejaksaan

Kamis, 17 September 2026 | 12:29

MGBKI Soroti Isu Pendidikan Dokter Spesialis

Kamis, 17 September 2026 | 12:21

Prabowo Tugaskan Bahlil Bahas RUU Migas, SKK Migas Bisa Bubar!

Kamis, 17 September 2026 | 12:15

MNK Rokan Resmi Jadi Pionir Pengembanga Migas Nonkonvensional Indonesia

Kamis, 17 September 2026 | 12:13

Dasco Pastikan Seluruh Parpol Dilibatkan dalam Pembahasan Lanjutan RUU Pemilu

Kamis, 17 September 2026 | 12:00

Ternyata Prabowo Suka Evidence-Based

Kamis, 17 September 2026 | 12:00

SMEC Perluas Akses Layanan Kesehatan Mata

Kamis, 17 September 2026 | 11:50

Berjalan Beriringan, Operasi PLTP Tak Pengaruhi Situs Waruga di Tomohon

Kamis, 17 September 2026 | 11:43

Optimalisasi Sumur Sepinggan V-7: PHKT Genjot Produksi Migas Lampaui Target

Kamis, 17 September 2026 | 11:35

Prabowo Ungkap Bakal Ada Investasi Besar-besaran Masuk RI

Kamis, 17 September 2026 | 11:19

Selengkapnya