Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Politik

Beredar Kabar AS Incar Personnel Protection Agreement di RI

SABTU, 08 AGUSTUS 2026 | 04:06 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Amerika Serikat (AS) dikabarkan mendesak Indonesia untuk menyepakati draf perjanjian terkait perlindungan personel militer (military personnel pact).

Dokumen yang diungkapkan oleh The Sunday Guardian, sebuah media internasional asal India, menyebutkan bahwa perjanjian ini akan memberikan hak istimewa yang luas bagi personel militer dan sipil AS selama berada di Indonesia.

Menurut laporan tersebut, dokumen yang bersifat rahasia ini masih dalam proses negosiasi antara Washington dan Jakarta. 


Dalam dokumen yang diperoleh, disebutkan bahwa proposal ini diajukan sejak Juli tahun lalu yang mencakup kerangka hukum untuk mengatur keberadaan dan kegiatan personel militer AS, staf sipil Pentagon serta kontraktor pertahanan AS di Indonesia, dengan berlaku untuk kegiatan seperti latihan militer, kunjungan kapal, misi kemanusiaan, dan berbagai aktivitas resmi lainnya.

Indonesia diminta untuk memberikan hak kekebalan dan yurisdiksi yang setara dengan staf administratif dan teknis misi diplomatik berdasarkan Konvensi Wina. 

“Perjanjian ini dirancang untuk memberi kewenangan penuh kepada AS agar dapat menjalankan yurisdiksi pidana terhadap personelnya di wilayah Indonesia,” ungkap  sumber. 

“Ini berarti personel militer dan sipil AS yang berada di Indonesia dapat dikenai hukum AS saat melakukan pelanggaran selama di wilayah Indonesia, bukan di bawah hukum Indonesia,” tambahnya.

Selain aspek hukum, perjanjian juga mengatur berbagai fasilitas administratif dan operasional. Dalam berita tersebut, disebutkan bahwa personel militer AS akan diberi hak masuk dan keluar Indonesia tanpa perlu visa dan dapat mengenakan seragam resmi saat bertugas di wilayah Indonesia. Mereka juga diizinkan membawa senjata setelah mendapat persetujuan dari otoritas AS.

Lebih jauh lagi, dokumen itu mengungkapkan bahwa Indonesia akan memberikan kemudahan bagi militer AS untuk mengimpor dan mengekspor perlengkapan serta teknologi tanpa hambatan inspeksi atau bea cukai. Kendaraan militer, kapal, dan pesawat yang digunakan oleh AS juga akan menikmati hak bebas dari biaya overflight, biaya pelabuhan, dan inspeksi dari pihak Indonesia.

“Jika disetujui, perjanjian ini akan memberikan AS akses luas ke wilayah udara dan laut Indonesia serta memperkuat posisinya strategis di kawasan Indo-Pasifik,” ujar seorang sumber. “Ini termasuk hak untuk mengoperasikan sistem komunikasi militer dan menggunakan spektrum radio secara gratis untuk keperluan resmi,” sambungnya,

Namun demikian, langkah ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan. Pemerintah Indonesia selama ini dikenal dengan kebijakan luar negeri yang bebas aktif dan menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai kekuatan besar di kawasan. 

“Memberikan hak hukum dan operasional sedemikian luas kepada pihak asing bisa mengancam kedaulatan nasional dan mengurangi kendali Indonesia terhadap wilayahnya sendiri,” kata perwakilan dari Media International, Hadi Saputra, dikutip Sabtu 8 Juli 2026.

Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Indonesia maupun AS terkait isi dokumen tersebut. Kementerian Pertahanan dan Kementerian Luar Negeri Indonesia belum memberikan tanggapan resmi atas laporan ini. 

Dari perspektif geopolitik, langkah ini diperkirakan akan mempengaruhi dinamika kekuatan di kawasan. Jika benar Indonesia menyetujui perjanjian ini, maka posisi strategis Indonesia akan semakin diperkuat dalam jaringan proyeksi kekuatan militer AS di kawasan.

Sementara itu, masyarakat dan kalangan pengamat menunggu kejelasan dari pemerintah terkait implikasi jangka panjang dari perjanjian ini. 

Apakah Indonesia akan benar-benar menandatangani atau justru memperkuat posisi untuk menegaskan kedaulatannya? Isu ini tetap menjadi perhatian utama dalam dinamika hubungan Indonesia dan AS di masa mendatang.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Ketua KNPI Merauke Ajak Generasi Muda Berkontribusi bagi Kemajuan Daerah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 04:19

Kedaulatan Teknologi Faktor Penting Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:55

PKS Desak Pemerintah Bersikap Proporsional Terkait MSCI

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:25

Solusi Kasus Business Judgement Rule Sektor Perumahan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:57

Waka BRIN Pimpin Delegasi RI Perjuangkan Space Economic di Konferensi PBB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:32

Pertamina Didorong Ambil Alih Proyek Migas Mangkrak Demi Genjot Produktivitas

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:12

KPK Endus Ada Kickback Vendor kepada Pejabat BNPB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:59

Presiden PKS Wanti-wanti Bahaya AI sebagai Senjata Fitnah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:34

Masih Atur Waktu, KPK Bantah Ada Kendala dalam Pemanggilan Nusron

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:04

Polri Utamakan Pendekatan Humanis dan Edukatif Selama Operasi Patuh 2026

Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:42

Selengkapnya