Berita

Puluhan ribu warga Spanyol berusaha memasuki Ceuta, wilayah otonomi Spanyol di Afrika Utara. (Foto: Media Sosial)

Publika

Puluhan Ribu Warga Maroko Kabur ke Spanyol dengan Berenang

MINGGU, 02 AGUSTUS 2026 | 05:23 WIB

SAAT Piala Dunia 2026 lalu, dunia dibuat melongo oleh Maroko. Timnasnya menembus perempat final. 

Kini Maroko kembali trending dunia. Sayangnya bukan karena sepak bola. Bukan pula karena menemukan obat awet muda. Kali ini karena hampir 49.000 orang dalam sehari ramai-ramai mencoba menyeberang ke wilayah Spanyol di Ceuta.

"Bang, kenapa mereka kabur, apakah diusir rajanya karena suka bilang gelap?"


"Sepertinya bukan soal gelap, soal susah cari kerja aja, wak" Ups

Mari kita lanjutkan sambil seruput Koptagul.

Lokasinya di Ceuta, wilayah Spanyol yang nempel di Afrika Utara. Jarak penyeberangannya cuma sekitar 300 sampai 500 meter. 

Secara teori, itu lebih jauh Batam-Singapura. Tapi entah kenapa, jarak pendek itu berubah menjadi Samudra Atlantik versi rakyat miskin.

Dari hampir 49.000 orang yang bergerak menuju perbatasan, sekitar 2.000 hingga 3.000 orang memilih jalur akuatik. 

Mereka berenang, mengapung, memeluk ban dalam bekas. Ada berteman akrab dengan pelampung bocor. Sisanya lewat darat. Mungkin karena sadar kemampuan renangnya cuma sebatas mengaduk kopi.

Pemandangannya absurd. Di satu sisi, Eropa membangun pagar, radar, kapal patroli, drone, kamera termal, dan teknologi miliaran euro. 

Di sisi lain, rakyat membawa ban dalam bekas motor yang mungkin umurnya lebih tua dari pemiliknya.

Pertarungan teknologi melawan karet vulkanisir. Namun di balik komedi gelap itu, tragedinya tidak lucu sama sekali.

Data korban tewas saja sampai membuat media seperti sedang ikut lomba tebak angka. CNN melaporkan 9 korban jiwa. BBC menyebut 18 orang. Lalu laporan lain menunjukkan jumlah korban dalam beberapa bulan terakhir bisa mencapai sekitar 60 jiwa.

Bukan karena mereka ingin liburan ke Spanyol. Bukan karena ingin melihat stadion Real Madrid. Bukan pula karena ingin foto estetik di pantai Mediterania. Penyebab utamanya sederhana dan menyakitkan, ekonomi.

Di Maroko, tingkat pengangguran pemuda mencapai 36,8 persen. Artinya hampir 4 dari 10 anak muda sedang mengikuti kompetisi nasional bernama "Mencari Kerja yang Tidak Ada". 

Survei juga menunjukkan 74 persen migran mengaku alasan utama mereka berangkat adalah faktor ekonomi dan uang.

Mereka tidak sedang membawa manifesto politik. Mereka tidak sedang meneriakkan revolusi. Mereka cuma mengejar pekerjaan. Kalau perut kosong, demokrasi sering kalah penting dibanding sepotong roti.

Lalu masuklah kita ke babak paling ajaib, hukum Spanyol. Mahkamah Agung Spanyol memutuskan, migran tertangkap di laut tidak boleh langsung dideportasi. Begitu kabar itu beredar, mungkin ada yang langsung berteriak, "Wak, kita berenang saja!"

Maka ribuan orang pun menjadi atlet dadakan. Logikanya sederhana. Kalau masih di laut, aman. Kalau sampai darat, masalah. Sayangnya mereka terlalu sukses.

Mereka berenang cepat sekali. Kurang dari 15 menit sudah tiba di pantai Ceuta. Begitu kaki menyentuh daratan, aturan berubah seperti sinetron yang ganti penulis skenario.

Spanyol dan Maroko langsung kompak. "Kalau sudah di darat, bisa dipulangkan." Luar biasa.

Ini seperti ada aturan melarang menangkap ikan di sungai, tetapi begitu ikan melompat ke ember, langsung disita.

Akhirnya banyak yang naik bus pulang ke Maroko. Status mereka berubah dari "calon pekerja Eropa" menjadi "wisatawan gagal total".

Yang lebih membuat kepala berasap adalah dugaan permainan politik di belakang layar. Sejumlah analis menuding pemerintah Maroko sengaja membiarkan arus manusia ini sebagai alat tekanan diplomatik terhadap Spanyol.

Kalau benar, maka para perenang itu bukan manusia merdeka. Mereka pion catur yang basah kuyup.

Sementara itu Ceuta kewalahan. Kota itu sampai meminta status darurat nasional. Polisi dan tentara dikerahkan ke mana-mana. Pemandangannya seperti film invasi alien.

Padahal yang datang bukan monster dari galaksi Andromeda. Mereka cuma manusia lelah membawa ban dalam, sandal jepit, dan harapan mendapatkan pekerjaan sebagai buruh bangunan atau petani.

Lalu setelah semua drama selesai, apa yang berubah? Mereka kembali ke Maroko. Pengangguran pemuda tetap 36,8 persen.

Spanyol dan Maroko tetap saling sindir. Para birokrat tetap rapat. Laut tetap asin.

Selamat kepada para peserta Kejuaraan Renang Lintas Benua yang berhasil mencetak rekor dunia kategori "Berenang Terpendek untuk Hasil Sia-sia Terbesar". Mereka berenang menuju kebebasan, tetapi akhirnya diantar pulang oleh polisi dengan penuh keramahan.

Kadang dunia memang lebih lucu dari acara komedi. Masalahnya, yang menjadi bahan lelucon adalah nasib manusia.

Rosadi Jamani
Mantan Wartawan

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR: Korporasi Penyebab Karhutla Harus Diberi Sanksi Berat

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:22

Pantau Karhutla Riau, Menteri Jumhur Diperlihatkan Inovasi Green Policing

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:22

Tanpa Masker, Prabowo Tinjau Langsung Karhutla di Kalbar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:09

Sasar Ribuan Korban Gempa Nagekeo, BHS dan DLU Kirim Bantuan Logistik Hingga Mainan Edukatif

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:57

Karhutla Meluas hingga Permukiman Warga Banjarbaru

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:47

Segel 4 Lahan Konsesi, Menteri LH Bertolak ke Kalimantan Usai Pantau Karhutla Riau

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:29

Efek El Nino dan B50 Bikin Harga CPO Terbang ke Level Tertinggi

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:11

Kabut Asap Karhutla Makin Parah, Kabupaten Kotim Hentikan Sekolah Tatap Muka

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:40

Kalah Gugatan Privasi, Pangeran Harry Wajib Bayar Rp317 Miliar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:24

Aliansi Mahasiswa DIY Soroti Ancaman Perampasan Ruang Hidup di Pracimantoro

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:12

Selengkapnya