Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Publika

Ip Man dan Cara Tiongkok Mengeja Dunia Barat

SABTU, 01 AGUSTUS 2026 | 06:51 WIB

KEBANGKITAN Tiongkok sebagai kekuatan adidaya dunia (new emerging super power) bukanlah sebuah isapan jempol belaka, ia merupakan sebuah keniscayaan. Kebangkitan tersebut memang berjalan pelan, merambat, dan diaksentuasikan dalam banyak dimensi--ekonomi, politik, militer, tak terkecuali budaya. Tiongkok sangat memahami bahwa untuk menjadi sebuah negara kuat di belantika global, tak cukup hanya menguasai dan menonjol di satu bidang, ia harus berjejaring membentuk interkonektivitas keunggulan di semua bidang. 

Tiongkok tampaknya belajar banyak dari kemajuan Eropa dan Amerika Serikat (AS) sebelumnya. Kehadiran film Ip Man: Kung Fu Legend yang tayang di Indonesia mulai 22 Juli 2026 lalu perlu disimak baik-baik. Ia bukan sekadar instrumentasi hiburan bagi para pecinta jagad sinematik, melainkan cara Tiongkok untuk menopang visi global dalam menguasai dunia. Pada aspek yang lebih dalam, ia menjadi cara Tiongkok untuk mengeja dunia Barat--subjek yang pernah mengolonialisasi Tiongkok di masa lalu sekaligus rival kemajuan Tiongkok hari ini.

Kekuatan Lunak dan Propaganda Budaya


Joseph S. Nye Jr, seorang ilmuwan politik dari Universitas Harvard AS memperkenalkan sebuah konsepsi menarik ketika memotret fenomena rivalitas negara-negara dunia untuk menjadi kekuatan adidaya. Ia memperkenalkan istilah kekuatan lunak (soft power) sebagai elemen vital yang harus dimiliki oleh sebuah negara, bahkan cenderung lebih strategis dibandingkan dengan elemen konvensional seperti angkatan perang dan sistem persenjataan militer. Gagasan yang ia tuangkan dalam bukunya berjudul Bound to Lead: the Changing Nature of American Power (1990) mendapatkan respons luas dari para pemangku kebijakan negara-negara di dunia. 

Gagasan Nye menjadi stratak--strategi dan taktik mujarab bagi negara-negara dunia ketiga seperti Tiongkok untuk bersalin rupa menjadi kekuatan baru dunia melalui instrumentasi non-tradisional yang menjadi keunggulan yang melekat. Nye secara taktis dan lugas menggarisbawahi bahwa kemampuan suatu negara untuk mempengaruhi negara lain harus bermetamorfosis secara cepat, tidak lagi menggunakan laku-laku tradisional seperti paksaan atau kekuatan, melainkan dengan cara persuasi. Dalam konteks ini, Nye menekankan nilai-nilai (values) yang berasal dari aspek sosial budaya.

Perang budaya dan kampanye nilai-nilai yang dilakukan Tiongkok di kancah global sudah dilakukan secara masif sejak beberapa dekade silam. Strategi ini dilakukan untuk membersamai peningkatan kekuatan militer Tiongkok--baik angkatan perang maupun sistem persenjataan--yang dibangun secara berkelanjutan. Strategi ini juga ditempuh untuk membersamai progresivitas pertumbuhan ekonomi dua digit Tiongkok yang melejit sejak dekade 1990-an melalui industrialisasi skala masif, ekspor, dan investasi infrastruktur. 

Perang budaya dan kampanye nilai-nilai yang dilakukan oleh Tiongkok ini dimanifestasikan dalam banyak cara; membangun Institut Konfusius di seluruh dunia untuk memperkenalkan Bahasa Mandarin dan budaya Tiongkok, memberikan beasiswa pendidikan kepada sesama negara dunia ketiga untuk mengirimkan putera-puteri terbaiknya ke Tiongkok, membangun pusat-pusat seni beladiri Wushu dan Wing Chun khas Tiongkok di berbagai negara, hingga proliferasi nilai-nilai dengan menggunakan media film yang memiliki daya jangkau luas dan kekuatan persuasi dalam skala yang lebih intens dan masif.

Muatan Politis Gigantis

Ada banyak film-film produksi dan garapan sutradara Tiongkok yang beredar di jagad Hollywood--episentrum film global. Namun, film Ip Man--legenda bela diri Tiongkok, menjadi sebuah pengecualian. Kehadiran kembali film Ip Man dengan tajuk Ip Man: Kungfu Legend (2026) ini memang menjadi sekuel dari film-film Ip Man sebelumnya yang diproduksi sejak 2008. Tapi, kehadiran kembali film Ip Man pada 2026 ini sejak film terakhir pada 2019 memiliki ketebalan makna tersendiri. Ia menjadi semacam sikap asertif Tiongkok untuk menandai kehadirannya, menjelaskan genealogi politiknya. 

Dalam skala yang lebih luas dan mendalam, ia menjadi cara Tiongkok untuk mendefinisikan dan mengeja dunia Barat hari ini. Film Ip Man 2026 ini memiliki arsiran yang sama dengan film-film Ip Man sebelumnya; anti-kolonialisme dan imperialisme, anti-Barat, dan standing-position Tiongkok sebagai sebuah entitas sosial budaya sekaligus entitas sosial politik yang sangat persisten menjunjung tinggi nilai-nilai dan warisan budaya leluhurnya--sebuah fragmen nasionalis yang mewah karena tak semua negara mampu menghormati nilai-nilai budayanya sendiri di tengah gempuran budaya asing, terutama liberalisme dan hedonisme Barat.

Film Ip Man 2026 memiliki muatan politis dan budaya yang gigantis didalamnya. Ia menghadirkan fragmen konfrontatif antara Tiongkok dan dunia Barat yang dihadirkan dalam bentuk bentrok cara pandang berbisnis, klaim superioritas atas seni bela diri masing-masing, hingga cara mereka memandang hukum. 

Betul bahwa ada unsur subjektivitas di film ini, tapi bukankah sebuah film sebagai instrumentasi sosial budaya kerap menjadi ladang pembantaian dari satu pihak kepada pihak lainnya? Melalui figur Ip Man yang berseteru dengan figur Parker, Tiongkok hendak menyampaikan bahwa cara-cara berbisnis yang kolonialis dan imperialis merupakan wajah Barat sejak dahulu kala, bahwa klaim superioritas Barat terhadap Timur dalam banyak hal--dalam film beladiri Wing Chun vis a vis dengan tinju Barat--menjadi ornamen yang selalu membersamai politik kolonialisme dan imperialisme Barat sejak lampau. 

Film Ip Man 2026 ini juga secara tidak langsung mengedukasi para penonton di seluruh dunia mengenai relasi Tiongkok dan Hong Kong dewasa ini bahwasanya keduanya merupakan entitas yang tidak bisa dipisahkan, meskipun Hong Kong diberikan keistimewaan tersendiri oleh Tiongkok untuk mengatur administrasi pemerintahannya. Aspek relasi ini sepertinya menjadi bagan penting yang perlu dinarasikan oleh Tiongkok hari ini di tengah makin menguatnya upaya Taiwan--wilayah Tiongkok lainnya--untuk memisahkan diri.

Agar film Ip Man 2026 ini tidak terlalu kental anasir propaganda budayanya, sutradara Li Liming memasukkan fragmen kompradorisme yang cukup dominan dalam pengisahan. Adalah sosok Lei Yihu yang menjadi komprador dalam film ini. Ia yang mengomandoi gangster lokal menjalin kerja sama dengan para saudagar Inggris untuk menguasai bangunan milik para pribumi dengan segala cara, bahkan dengan menumpahkan darah bangsanya sendiri. 

Dalam konteks ini, kita bisa membaca, bahwa dalam fragmen sampingan yang mereduksi intensi propaganda budaya, Tiongkok masih sempat-sempatnya menyindir dunia Barat yang kerap menggunakan cara-cara kotor (dirty ways) dengan merangkul orang-orang pribumi yang bisa disuap untuk mencapai kepentingan ekonomi-politiknya. Di negara-negara berkembang, fenomena kompradorisme ini menjadi patologi sosial klasik yang menjadi celah masuk kekuatan asing. Dalam konteks film ini, Tiongkok tak segan untuk menyentil syaraf kesadaran para penontonnya.

Patut Diapresiasi

Strategi Tiongkok melakukan kampanye dan propaganda sosial budaya melalui jalur sinematik ini patut diparesiasi. Dinamika geopolitik global dalam beberapa dekade terakhir sangat tidak ramah bagi Tiongkok. AS dan kekuatan Barat--bahkan ekosistem politik Asia Timur yang menjadi lebensraum Tiongkok--sangat tidak ramah. AS tak segan untuk mengobarkan rivalitas di berbagai dimensi mulai dari perang dagang, tarif, teknologi, logam tanah jarang, hingga jalur-jalur ekonomi. AS juga menghimpit Tiongkok di Asia Timur dengan membangun proksi melalui Jepang dan Korea Selatan yang membuat nafas politik Tiongkok cukup sesak di kawasan. 

Tapi tanpa disadari, tekanan khas Barat yang dilakukan oleh AS inilah yang membuat Tiongkok banyak belajar. Tiongkok menerapkan strategi mirroring dengan melakukan kebijakan taktis yang sama; membangun proksi di berbagai kawasan, menciptakan aliansi bersama Rusia dan Iran di BRICS+ dan Shanghai Cooperation Organization (SCO), hingga “mencatu” wilayah-wilayah dunia secara tidak langsung melalui kebijakan One Belt One Road (OBOR). Yang tak bisa dinegasikan dari langkah mirroring Tiongkok terhadap dunia Barat adalah dengan melakukan kampanye melalui media film, persis seperti yang dilakukan oleh Barat dengan narasi Hollywood-nya selama ini. Bahkan Tiongkok tak segan menyentil Barat dalam substansi sinematiknya.

Catatan Akhir

Terlepas dari betapa piawai Tiongkok menerapkan kampanye dan propaganda sosial budaya melalui film sebagaimana dipostulatkan Nye dalam konsepsi soft power-nya, Tiongkok bukan tanpa catatan. Perlahan tapi pasti, Tiongkok hari ini mulai bergeser menjadi kekuatan kolonialis dan imperialis seperti Barat, bahkan tak segan menggunakan cara-cara yang unilateralis dan konfliktual. Apa yang terjadi di Laut China Selatan, di mana Tiongkok berselisih klaim dengan negara-negara Asia Tenggara merupakan potret metamorfosis Tiongkok menjadi kekuatan hegemonik. Inilah cermin paradoksal geopolitik dunia hari ini, di mana Tiongkok menjadi salah satu aktornya.

Boy Anugerah
Tenaga Ahli DPR RI Bidang Hubungan Internasional dan ESDM/Founder Think Tank Senayan Geopolitical Forum (SGF)


Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Kopilot Malaysia Ngaku Diupah Rp220 Juta Selundupkan 26 Kg Ekstasi ke Jakarta

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 00:20

Merdeka dalam Keserakahan: Ilusi Kemerdekaan di Usia 81 Tahun

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 00:02

Polda Metro Masih Selidiki Dugaan Pencabulan oleh Oknum Pendeta

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:52

Loyalis Anies Dicecar KPK soal Jual Beli Properti di Kasus TPPU Rita Widyasari

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:25

Begini Respons Deddy Sitorus Usai Dilaporkan KWP ke MKD

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:02

Warga Tuban Terdampak Debu Pabrik, Semen Indonesia Mangkir Dipanggil DPRD

Jumat, 31 Juli 2026 | 22:11

Terjang Ombak, Dedikasi Mantri BRI Buka Jalan Akses Finansial Pulau Seram

Jumat, 31 Juli 2026 | 22:02

Bea Cukai Ciduk Kopilot Kurir Narkoba, Duit Negara Rp207,9 Miliar Selamat

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:41

Transformasi Danantara Dongkrak Pendapatan Telkom hingga Tembus Rp75,9 Triliun

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:22

Polda Metro Jaya Cokok 728 Tersangka Curanmor

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:06

Selengkapnya