Berita

Mantan Wamen Imipas, Silmy Karim (Foto: RMOL)

Bisnis

KPK Kembangkan Dugaan TPPU dalam Kasus Silmy Karim

RABU, 22 JULI 2026 | 11:02 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai mengembangkan dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam perkara korupsi pengurusan izin tinggal warga negara asing (WNA) yang menjerat mantan Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Silmy Karim.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyidikan KPK, Achmad Taufik Husein, mengatakan penyidik kini tidak hanya mengusut dugaan pemerasan dalam layanan keimigrasian, tetapi juga menelusuri aset para tersangka sebagai bagian dari konstruksi perkara TPPU.

"Beberapa tim sudah melakukan penyitaan-penyitaan terhadap aset-aset para tersangka karena memang sangat banyak. Untuk perkara imigrasi itu kan ada delapan tersangka, dan masing-masing itu sudah ada penyitaan aset dari masing-masing tersangka itu dan itu juga sudah sedang dikembangkan, dikonstruksikan untuk perkara TPPU-nya," kata Taufik kepada wartawan, Rabu, 22 Juli 2026.


Menurut Taufik, penyidik juga masih mengonsolidasikan nilai uang yang diduga berasal dari praktik pemerasan di sejumlah kantor imigrasi. Pendalaman dilakukan tidak hanya di Kantor Imigrasi Khusus Jakarta Barat dan Bali, tetapi juga di kantor imigrasi lain yang masuk dalam pengembangan penyidikan.

"Fokus tim masih terkait dengan pengumpulan fakta-fakta ada setoran-setoran di beberapa Kanim yang lain selain yang di Jakarta Barat, Bali, dan beberapa juga kita kembangkan," ujarnya.

KPK memperkirakan setiap pengurusan izin tinggal dikenai pungutan sekitar Rp1 juta hingga Rp1,2 juta per pemohon. Penyidik kini juga mengkaji apakah penyidikan TPPU akan digabung dengan perkara korupsi atau diproses secara terpisah.

"Apakah bisa nanti untuk Sprindik TPPU-nya itu naik bareng dan akan dilimpahkan bersamaan dengan proses tindak pidana korupsinya. Karena memang ini sudah berjalan penahanan, kan sudah ada batasnya," kata Taufik.

Ia menambahkan, salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah melimpahkan perkara korupsi dan TPPU secara bersamaan ke pengadilan. Namun, tidak tertutup kemungkinan penyidikan TPPU tetap dikembangkan setelah perkara pokok korupsinya lebih dahulu disidangkan.

Kasus ini bermula dari operasi tangkap tangan (OTT) KPK pada 2-3 Juni 2026. KPK kemudian menetapkan delapan tersangka, termasuk Silmy Karim, terkait dugaan pemerasan dan gratifikasi dalam pengurusan izin tinggal WNA selama periode 2022-2026.

Penyidikan merupakan pengembangan dari perkara korupsi Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) di Kementerian Ketenagakerjaan serta analisis transaksi keuangan dari PPATK. Dari penelusuran, KPK menemukan transaksi senilai Rp366,7 miliar pada 96 rekening milik atau terkait 35 pegawai Kementerian Imipas sepanjang 2019-2025. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp357 miliar diduga berasal dari pemohon layanan keimigrasian.

Dalam konstruksi perkara, Silmy yang saat itu menjabat Direktur Jenderal Imigrasi diduga memerintahkan pengumpulan setoran dari pengurusan izin tinggal WNA melalui sejumlah pejabat di Direktorat Jenderal Imigrasi. Dana tersebut diduga dikumpulkan melalui rekening penampung atau rekening nominee sebelum dibagikan kepada pihak-pihak yang terlibat.

KPK menduga sedikitnya Rp145,5 miliar berhasil dihimpun dari praktik tersebut selama periode 2022-2026. Modusnya, pemohon izin tinggal sengaja dipersulit hingga bersedia membayar biaya tambahan di luar ketentuan resmi. Praktik itu dikenal di internal pelaku dengan istilah "setiap klik ada harganya".

Penyidik juga menduga Silmy menerima setoran rutin sebesar Rp100 juta setiap pekan. Untuk menyamarkan aliran dana, para pelaku diduga menggunakan sejumlah kode seperti "malaikat", "vokalis", "gitaris", "backing vocal", dan "koreografer".

Sebagian hasil dugaan korupsi tersebut diduga dialihkan ke berbagai aset, seperti emas, kendaraan, tanah dan bangunan, aset kripto, hingga usaha towing. KPK bahkan menemukan indikasi pembelian rumah menggunakan kepingan emas yang kini menjadi bagian dari pendalaman untuk penerapan pasal TPPU.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

IPW Desak Transparansi Penegakan Hukum Kasus 1.048 Ton Udang Impor di Jatim

Minggu, 01 November 2026 | 01:50

Langkah Polisi Tangani Kasus Perusakan Warung Mi Babi Sukoharjo Diapresiasi Warga

Minggu, 01 November 2026 | 01:24

Polda Metro Siap Dikritik Buntut Penyelenggaraan Deklarasi Sumpah Pemuda 29 Oktober

Minggu, 01 November 2026 | 00:43

Ramai Logo Muncul di TIME100 Next Gala, Danantara Bantah Bayar Dana Sponsorship

Minggu, 01 November 2026 | 00:16

Pengurus Baru SAPMA PP DKI Jakarta Siap Berkolaborasi dengan Pemprov

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:47

Polisi Tangkap Pelaku Penembakan di Kampung Ambon, Ini Motifnya

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:17

Winda Marfita Pastikan Tak Terlibat Kasus Investasi PT MBS yang Dilaporkan Nur Istianti

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:57

Asrul Haruna Terpilih Sebagai Koorpresnas BEM PTMA Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:43

Rembuk Pemuda Himpun Aspirasi dari 29 Provinsi, Kukuhkan DPP Pertama

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:32

PPP Maluku Tolak Pemberhentian Agus Suparmanto-Taj Yasin

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:44

Selengkapnya