Berita

Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto. (Foto: RMOL/Faisal Aristama)

Politik

PDIP Berkomitmen Bangun Politik untuk Peradaban di Peringatan Kudatuli

RABU, 22 JULI 2026 | 00:02 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) berkomitmen untuk senantiasa mengedepankan etika politik yang membangun peradaban bangsa (politik yang membangun peradaban).

Pesan itu merupakan bagian dari refleksi dan amanat Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri dalam memperingati 30 tahun tragedi kemanusiaan dan demokrasi 27 Juli 1996 atau peristiwa Kudatuli.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP, Hasto Kristiyanto menjelaskan, dalam merefleksikan jalannya sejarah masa lalu pihaknya berkomitmen mendorong agar iklim perpolitikan tanah air senantiasa menjunjung tinggi nilai peradaban.


Sesuai arahan Megawati, Hasto menekankan bahwa penyampaian kritik di ruang publik harus ditujukan langsung pada substansi kebijakan pemerintah (kebijakan), bukan mengarah pada serangan personal demi mendiskreditkan figur tertentu (tidak boleh ada pendiskreditan terhadap orang per orang).

"Dari pesan Ibu Megawati Soekarnoputri, maka PDI Perjuangan juga akan mendorong agar politik yang membangun peradaban itu dikedepankan. Bahwa kritik harus dikedepankan berkaitan dengan kebijakan, tidak boleh ada pendiskreditan terhadap orang per orang. Tetapi yang diberikan sebagai kritik adalah sekali lagi kebijakan agar watak dari kekuasaan betul-betul sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa kita," kata Hasto kepada wartawan seusai menghadiri pembukaan pameran sejarah dan arsip foto bertajuk ‘Meretas Jalan Demokrasi’ di Ruang Museum Koleksi, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Selasa, 21 Juli 2026.

Hasto menambahkan, iklim politik nasional harus dijauhkan dari segala bentuk fitnah, ujaran kebencian, serta upaya saling menjatuhkan martabat pribadi antaraktor politik.

Ia memaparkan bahwa peristiwa kelam Kudatuli memberikan pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia bahwa watak kekuasaan yang otoriter dan menindas rakyatnya sendiri tidak boleh dibiarkan hidup. 

Demokrasi harus senantiasa diterangi oleh nilai-nilai kemanusiaan, kebenaran, dan keadilan.

"Bahwa demokrasi memerlukan pers yang bebas, memerlukan kekuatan masyarakat sipil, memerlukan suatu pendidikan politik yang baik dan kehidupan demokrasi yang sehat, serta hukum yang betul-betul berkeadilan, hukum yang tidak tebang pilih," kata Hasto.

Demokrasi yang sehat, lanjut Hasto, adalah ruang di mana rakyat secara merdeka dan tanpa rasa takut dapat menyalurkan seluruh kehendaknya untuk berkumpul, berserikat, serta menyampaikan aspirasi mereka.

Mengingat peristiwa Kudatuli 30 tahun silam, Hasto menyoroti adanya penggunaan narasi politik kambing hitam (scapegoating) oleh rezim penguasa saat itu. 

Kelompok-kelompok kritis, mahasiswa, dan intelektual secara sepihak dituduh melakukan tindakan subversi serta makar, padahal mereka hanya menyuarakan tuntutan keadilan sosial bagi rakyat.

Guna menjaga memori kolektif bangsa agar tragedi kekerasan serupa tidak terulang kembali, PDIP mengusung tema besar (tagline) ‘Kami Tidak Pernah Lupa’ pada peringatan 30 tahun peristiwa kemanusiaan ini.

"Kami berharap semua pihak belajar agar tidak boleh terjadi kekerasan atas nama apa pun oleh kekuasaan terhadap rakyatnya," tandas Hasto.

Sekadar informasi, Peristiwa Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli) adalah insiden berdarah pada 27 Juli 1996 di kantor DPP PDI, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. 

Tragedi ini dipicu oleh perebutan kekuasaan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) antara kubu Megawati Soekarnoputri dan kubu Soerjadi yang didukung oleh pemerintah Orde Baru.

Penyerbuan markas pendukung Megawati oleh massa pro-Soerjadi dan aparat memicu kerusuhan massal. Berdasarkan catatan Komnas HAM, insiden ini mengakibatkan 5 orang tewas, 149 luka-luka, dan 23 orang hilang.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

Perempuan Tani HKTI Terapkan Teknologi IoT, Pangkas Penggunaan Pupuk hingga 50 Persen

Minggu, 01 November 2026 | 12:32

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

PTKIN Siapkan Langkah agar Inovasi Mahasiswa Tak Berhenti di Ajang Lomba

Minggu, 01 November 2026 | 11:56

Kloter Pertama Haji 2027 Terbang 11 April, Ini Jadwal Lengkapnya

Minggu, 01 November 2026 | 11:50

Imigrasi Sudah Cegah Ahmad Dedi ke Luar Negeri Atas Permintaan KPK

Minggu, 01 November 2026 | 11:36

Puluhan Orang Diamankan Polisi saat Gerebek Kampung Bahari

Minggu, 01 November 2026 | 11:30

Maroko Sambut Keputusan PBB Akhiri Misi MINURSO di Sahara Barat

Minggu, 01 November 2026 | 11:17

Citra Polri Bisa Rusak Akibat Dua Kejadian Ini

Minggu, 01 November 2026 | 11:05

Ombudsman Ingatkan Polri Jaga Etika dan Hormati HAM saat Penggeledahan

Minggu, 01 November 2026 | 10:48

PPK Ajak Masyarakat Berperan bersama Presiden Prabowo Wujudkan Kedaulatan

Minggu, 01 November 2026 | 10:42

Selengkapnya