Pengamat Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Faruq Arjuna Hendroy. (Foto: Dok. Pribadi)
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dinilai tidak hanya memperbesar risiko eskalasi konflik Iran dan Amerika Serikat di kawasan, tetapi juga berpotensi memperpanjang krisis energi global.
Dalam hal ini, turut mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia.
Begitu disampaikan Pengamat Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Faruq Arjuna Hendroy, saat berbincang dengan RMOL, Minggu, 19 Juli 2026.
Faruq mengatakan, gejolak di kawasan Teluk akan terus memberikan tekanan terhadap pasar energi selama konflik Iran dan Amerika Serikat belum menemukan penyelesaian yang permanen.
“Efeknya tentu bisa tambah panjang pada krisis energi dunia. Itu sudah konsekuensi logis. Mahalnya harga bahan bakar sekarang ya dipicu oleh konflik ini. Sehingga kalau konflik ini nggak selesai ya krisis energi tidak akan mereda,” kata Faruq.
Menurut Faruq, situasi tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengoptimalkan politik luar negeri bebas aktif dengan menjalin hubungan yang seimbang dengan seluruh pihak yang terlibat dalam konflik maupun negara-negara mitra lainnya.
"Saya rasa di sinilah Indonesia harus menunjukkan politik bebas aktifnya dan menggunakannya secara efektif dan efisien. Indonesia harus bisa membangun hubungan baik dengan berbagai Kubu, entah itu kubu Iran ataupun kubu Amerika. Atau juga kubu lain di luar dua entitas tersebut, utamanya dalam upaya diversifikasi sumber energi,” ujarnya.
Master Candidate of Peace and Conflict Studies The University of Queensland ini menilai peluang berakhirnya konflik dalam waktu dekat masih kecil karena akar permusuhan antara Teheran dan Washington belum terselesaikan. Kondisi tersebut membuat eskalasi sewaktu-waktu dapat kembali terjadi.
“Saya tidak bisa bilang konflik ini akan segera selesai, karena faktor pemicu yang dapat mengakibatkan letupan-letupan itu bisa muncul tiba-tiba. Utamanya ketika dua negara ini tidak menyelesaikan permusuhan sistemik mereka,” jelasnya.
Faruq juga membandingkan langkah diplomasi Indonesia dengan India yang dinilainya lebih luwes dalam menjaga hubungan dengan berbagai negara yang saling berseberangan.
Oleh karenanya, ia menilai perlu agar Indonesia meniru cara India dalam berdiplomasi menyikapi konflik Iran versus AS ini.
“Dalam hal ini saya lihat kita malah kalah dari India, yang begitu aktif menjalin hubungan baik dengan semua pihak. Saking uniknya India ini bisa mesra sekali dengan Israel, tapi di sisi lain dia bisa juga mengamankan kepercayaan dari Iran,” pungkasnya.
Sebelumnya, ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz.
Iran juga memperingatkan seluruh kapal agar tidak melintasi jalur pelayaran strategis tersebut tanpa persetujuan otoritas Iran.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia karena menjadi pintu utama ekspor minyak dari negara-negara kawasan Teluk.
"Korps Pengawal Revolusi Iran telah mengumumkan penutupan Selat Hormuz, sekaligus memperingatkan kapal-kapal agar tidak mencoba melintasinya melalui rute apa pun yang tidak disetujui oleh pihak berwenang Iran," mengutip Al Jazeera, Minggu, 1 Juli 2026.