Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Harga Logam Mulia Beragam, Emas Menguat tetapi Catat Kerugian Mingguan Terbesar

SABTU, 18 JULI 2026 | 11:29 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga logam mulia bergerak beragam pada akhir perdagangan Jumat 17 Juli 2026. Emas berhasil menguat pada akhir pekan, namun masih mencatat penurunan mingguan terbesar dalam enam pekan terakhir di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran inflasi global.

Harga emas spot naik 1 persen menjadi 4.011,29 Dolar AS per ons, sementara emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus ditutup menguat 0,7 persen di 4.018,80 Dolar As per ons. 

Meski demikian, harga emas masih terkoreksi sekitar 2,6 persen sepanjang pekan ini setelah sempat menyentuh level terendah sejak 30 Juni.


Kenaikan harga minyak akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran inflasi, sehingga mendorong ekspektasi suku bunga global tetap tinggi. Kondisi tersebut turut memperkuat dolar AS selama dua sesi berturut-turut, membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Sementara itu, pergerakan logam mulia lainnya juga cenderung terbatas. Perak naik 1 persen menjadi 56,06 Dolar AS per ons, platinum turun 1,4 persen menjadi 1.595,64 Dolar AS per ons. 

Presiden World Markets EverBank, Chris Gaffney, mengatakan penguatan dolar AS dan kenaikan ekspektasi inflasi menjadi faktor utama yang menekan harga emas dalam beberapa hari terakhir.

Menurutnya, meski peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan berikutnya sedikit menurun, lonjakan harga minyak berpotensi membuat bank sentral AS mempertahankan sikap hawkish terhadap kebijakan moneternya.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 58 persen bagi Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga pada September mendatang.

Di sisi lain, Goldman Sachs menilai porsi kepemilikan emas oleh investor swasta masih relatif rendah. Bank investasi tersebut memperkirakan meningkatnya ketidakpastian geopolitik dapat mendorong diversifikasi investasi ke aset logam mulia, tidak hanya oleh bank sentral tetapi juga investor swasta.


Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Cerita Zulhas, Numpang Helikopter TNI ke Bogor

Kamis, 17 September 2026 | 21:47

Hari Transportasi Nasional, Momentum Wujudkan Kedaulatan Energi Bersama Program B50

Kamis, 17 September 2026 | 21:17

Ulasan Buku: Sumbangan Filsafat dari Indonesia untuk Dunia yang Kehilangan Makna

Kamis, 17 September 2026 | 21:15

KPK Amankan Dokumen dan Bukti Elektronik dari Penggeledahan di Kementerian ATR/BPN

Kamis, 17 September 2026 | 20:53

Bahlil Pastikan BUK Pengganti SKK Migas Langsung di Bawah Presiden

Kamis, 17 September 2026 | 20:41

Haji Isam Borong 10 Miliar Saham Bayan Resources

Kamis, 17 September 2026 | 20:21

Prabowo Pimpin Sidang Dewan Energi Nasional, Dorong Persiapan Produksi E50

Kamis, 17 September 2026 | 20:04

Ekoteologi PTKIN Raih Penghargaan UI GreenMetric 2026

Kamis, 17 September 2026 | 19:44

Ratusan Karyawan PT HD Arjuna Tuntut Kembali Bekerja

Kamis, 17 September 2026 | 19:44

Bahlil Akui Kasus Korupsi Fahd A Rafiq Musibah bagi Golkar

Kamis, 17 September 2026 | 19:38

Selengkapnya