Berita

Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Istimewa)

Politik

Presiden Prabowo Galak Berantas Korupsi, Jawaban Masalah Kesejahteraan Rakyat

SENIN, 13 JULI 2026 | 14:53 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Pemberantasan tindak pidana korupsi yang semakin galak dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto, dianggap sebagai satu jawaban atas permasalahan kesejahteraan masyarakat.

Direktur Arus Survei Indonesia, Ali Rif'an mengungkap, hasil survei Arus Survei Indonesia terakhir menunjukkan persoalan ekonomi masih menjadi beban terbesar yang dirasakan masyarakat, yang setidaknya dipicu oleh empat persoalan utama yang paling banyak dikeluhkan publik.

"Yakni mahalnya harga kebutuhan pokok, sulitnya memperoleh lapangan pekerjaan, meningkatnya angka kemiskinan, serta tuntutan agar pemerintah semakin serius memberantas korupsi," ujar Ali kepada RMOL, Senin, 13 Juli 2026.


Dari hasil surveinya tersebut, Ali menyebut tantangan yang dihadapi bangsa ke depan akan semakin kompleks dan berat, sehingga responden kebanyakan membutuhkan kepastian dalam penghidupan 

"Temuan survei kami menunjukkan bahwa masyarakat menginginkan solusi nyata. Mereka ingin harga kebutuhan pokok lebih terjangkau, lapangan pekerjaan terbuka lebih luas, angka kemiskinan ditekan, dan korupsi diberantas secara serius," katanya.

"Keempat persoalan ini saling berkaitan sehingga tidak bisa diselesaikan secara parsial," sambungnya.

Menurut Ali, korupsi menjadi salah satu faktor yang menghambat efektivitas pembangunan karena mengurangi kualitas pelayanan publik dan menggerus anggaran yang seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat.

Ia menilai, langkah pemerintah dalam mengusut berbagai dugaan kasus korupsi dapat menjadi fondasi bagi terciptanya stabilitas politik dan ekonomi nasional, sehingga turut mempengaruhi sentimen pelaku usaha termasuk investor dari luar negeri.

"Stabilitas politik tidak lahir hanya karena situasi yang tenang, tetapi juga karena masyarakat melihat adanya keadilan dalam penegakan hukum. Ketika pemerintah berani menindak dugaan korupsi secara konsisten, kepercayaan publik akan meningkat dan itu berdampak positif terhadap stabilitas nasional," jelasnya.

Lebih lanjut, Ali meyakini pemberantasan korupsi yang dilakukan secara konsisten juga memiliki dampak strategis terhadap iklim investasi Indonesia. 

Investor, menurutnya, selalu mempertimbangkan kepastian hukum, transparansi birokrasi, serta integritas institusi sebelum menanamkan modal.

"Semakin kuat komitmen pemerintah dalam membersihkan praktik korupsi, semakin besar pula peluang Indonesia memperoleh kepercayaan dari investor. Investasi yang meningkat pada akhirnya akan membuka lapangan pekerjaan, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Ditambah, lanjut Dosen Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini, terdapat sejumlah manfaat lain apabila agenda pemberantasan korupsi dijalankan secara menyeluruh, misalnya meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara, terciptanya birokrasi yang lebih profesional dan akuntabel, 

"Juga meningkatnya efektivitas penggunaan anggaran negara, serta menguatnya posisi Indonesia di mata dunia sebagai negara yang berkomitmen terhadap prinsip tata kelola pemerintahan yang baik," tutur Ali  

Oleh karena itu, ia mengingatkan pemberantasan korupsi tidak boleh berhenti pada penindakan semata, tetapi harus dibarengi dengan reformasi sistem, penguatan pengawasan, transparansi pengelolaan anggaran, serta pencegahan agar praktik serupa tidak kembali terulang.

"Momentum ini sebaiknya kita jadikan sebagai gerakan nasional untuk mendukung pemerintahan yang bersih," demikian Ali.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Iran Ancam Gunakan Segala Cara untuk Hadapi Agresi AS

Minggu, 02 Agustus 2026 | 16:01

Serangan Israel Luluhlantakkan Gudang Obat Rumah Sakit Gaza

Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:25

GP Al-Washliyah Dukung Kapolri Jadikan Semangat Hoegeng Budaya Kerja Polri

Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:12

Kemensos Terbitkan Kartu Penyandang Disabilitas Virtual

Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:04

PM Thailand Dijadwalkan Kunjungi Indonesia pada 3-4 Agustus

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:45

Bea Cukai Bongkar Dua Kontainer Berisi 7,8 Juta Batang Rokok Ilegal di Sulsel

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:43

BRI Peduli Bantu Peternak Sapi Perah Malang Naik Kelas Lewat Klaster Unggulan

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:33

AS Terapkan Deposit Visa untuk 50 Negara hingga Rp360 Juta

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:22

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Berawal dari Keresahan, Rabundo Tembus Pasar Nasional Berkat Pendampingan BRI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:03

Selengkapnya