Berita

Trofi Piala Dunia. (Foto: Istimewa)

Publika

Semifinal Piala Dunia 2026: Argentina vs Inggris:

Aroma Malvinas dan Misi Menghentikan Dominasi Eropa

SENIN, 13 JULI 2026 | 03:15 WIB | OLEH: AGUNG NUGROHO*

EMPAT tim sudah memastikan tempat di semifinal Piala Dunia 2026. Tiga di antaranya berasal dari Eropa: Inggris, Prancis, dan Spanyol. Hanya Argentina yang masih membawa nama Amerika Selatan. 

Melihat komposisi ini, rasanya seperti menghadiri reuni besar negara-negara Eropa yang tiba-tiba kedatangan satu tamu dari seberang Atlantik. Bedanya, tamu yang satu ini datang bukan sekadar meramaikan acara, tetapi berniat membubarkan pesta.

Dalam beberapa dekade terakhir, banyak liga dan klub paling kompetitif di dunia memang berasal dari Eropa. 


Kekuatan finansial, kualitas kompetisi, hingga kedalaman skuad membuat negara-negara Eropa hampir selalu menjadi favorit setiap Piala Dunia. 

Tak heran jika banyak yang memprediksi partai final akan kembali menjadi duel sesama wakil Benua Biru. Namun Argentina punya kebiasaan yang cukup menyebalkan bagi para pembuat prediksi: mereka sering menang justru ketika tidak terlalu diunggulkan.

Lawan berikutnya adalah Inggris. Di atas lapangan, ini memang hanya semifinal. Namun dalam sejarah sepak bola dunia, Argentina versus Inggris hampir tidak pernah terasa seperti pertandingan biasa. 

Setiap pertemuan kedua negara selalu membawa lapisan cerita yang lebih dalam dibanding sekadar perebutan tiket menuju babak berikutnya.

Hubungan emosional itu tidak muncul begitu saja. Pada 1982, Argentina dan Inggris terlibat Perang Malvinas -- atau Falklands War menurut Inggris -- yang berlangsung sekitar sepuluh pekan. 

Konflik tersebut meninggalkan luka sejarah yang masih membekas dalam memori kedua bangsa hingga kini. Sengketa atas kepulauan itu pun belum benar-benar selesai, sehingga setiap duel sepak bola antara keduanya sering kali memiliki makna simbolis bagi sebagian masyarakat di kedua negara.

Empat tahun setelah perang tersebut, rivalitas itu menemukan panggung baru di Piala Dunia 1986. Di Stadion Azteca, Diego Armando Maradona mencetak dua gol yang kemudian menjadi bagian dari sejarah sepak bola dunia. 

Yang pertama dikenal sebagai "Hand of God", sementara yang kedua dikenang sebagai "Goal of the Century" setelah melewati sejumlah pemain Inggris sebelum mencetak gol. 

Argentina menang 2-1, dan bagi banyak warga Argentina, kemenangan itu memiliki makna simbolis yang melampaui sepak bola serta kerap dikaitkan dengan memori kolektif pasca-Perang Malvinas. Tentu saja, sepak bola dan konflik bersenjata tetap merupakan dua hal yang berbeda.

Kini, tepat empat puluh tahun setelah duel legendaris di Azteca, Argentina dan Inggris kembali bertemu di fase gugur Piala Dunia. 

Bedanya, kali ini yang diperebutkan bukan tiket semifinal, melainkan satu tempat di partai final. 

Tidak ada lagi Maradona, Gary Lineker, ataupun Peter Shilton. Sebagian besar pemain yang akan tampil bahkan lahir jauh setelah pertandingan ikonik itu berlangsung. 

Namun sejarah memang punya cara unik untuk tetap hadir, meski hanya sebagai bayang-bayang yang menambah tensi sebuah pertandingan.

Kalau melihat perjalanan menuju semifinal, Inggris tampil lebih konsisten. Mereka bermain disiplin, memiliki organisasi permainan yang rapi, dan jarang kehilangan kendali pertandingan. 

Sebaliknya, Argentina berkali-kali dipaksa bekerja keras untuk lolos dari tekanan. Mulai dari Tanjung Verde, Mesir, Swiss, hingga akhirnya mengamankan tiket semifinal, Albiceleste selalu dipaksa bertarung sampai titik terakhir.

Lucunya, justru itulah identitas Argentina di turnamen ini. Mereka seperti punya bakat membuat suporternya tegang selama hampir 90 menit sebelum akhirnya menghadirkan senyum di peluit akhir. 

Rasanya setiap pertandingan Argentina selalu satu paket dengan kopi hitam, doa bersama, dan persediaan obat maag. 

Mungkin sponsor yang paling cocok buat Albiceleste kali ini bukan perusahaan olahraga, melainkan produsen vitamin jantung.

Semifinal nanti diperkirakan akan berlangsung sangat ketat. Inggris memiliki organisasi permainan yang lebih rapi dan efektif, sedangkan Argentina membawa mental bertanding yang sudah berkali-kali teruji ketika menghadapi tekanan. 

Pertandingan kemungkinan akan berjalan alot karena kedua tim sama-sama memiliki kualitas individu yang mampu mengubah jalannya laga hanya dalam satu momen.

Prediksi saya, pertandingan tidak akan selesai dalam waktu normal. Argentina akan kembali menemukan cara untuk bertahan hidup di tengah tekanan dan memenangkan pertandingan dengan skor tipis 2-1 setelah perpanjangan waktu. 

Jika itu terjadi, Albiceleste bukan hanya mengulang kemenangan atas Inggris di panggung Piala Dunia, tetapi juga menjaga harapan Amerika Selatan tetap hidup sekaligus menjadi penghalang dominasi Eropa menuju partai puncak.

Pada akhirnya, inilah yang membuat Argentina versus Inggris selalu menjadi salah satu duel paling dinantikan di Piala Dunia. Yang bertanding memang sebelas lawan sebelas, tetapi sejarah selalu ikut duduk di tribun. 

Dan ketika peluit panjang berbunyi nanti, dunia akan kembali diingatkan bahwa di Piala Dunia, masa lalu memang tidak pernah benar-benar pergi—ia hanya menunggu momen yang tepat untuk kembali menjadi bagian dari cerita.

*Pemain bola kampung

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

UPDATE

Kejagung Periksa PNS Pemprov Banten terkait Korupsi MBG

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:17

Ahli dari Polri Untungkan Febri Adriansyah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:03

Kinerja BUMD DKI Dituntut Lebih Terukur

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:53

Bayar Rp650 Juta tapi Gagal Lolos Kedokteran Unsoed

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:41

KPK Bongkar Mahar Rp1,12 Miliar di Jalur Mandiri Unsoed

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:29

Kiai Marsudi Dinilai Mampu Membangun Kemajuan NU Tanpa Kehilangan Jati Diri

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:17

Rektor Unsoed Diduga Terima Gratifikasi Rp680 Juta Lewat Mulyono

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:46

Ahli Praperadilan Febrie Sebut TPPU Perlu Tindak Pidana Asal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:29

Sjafrie Terima Menhan China: Perkuat Kerja Sama Militer

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:16

Mantan Dirdik Jampidsus Jasman Panjaitan Beberkan Kesaksian terkait Febrie

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:05

Selengkapnya