Berita

Piala Dunia 2026. (Foto: Istimewa)

Publika

Prancis, Argentina, Spanyol, Inggris di Semifinal, Settingan FIFA atau Konspirasi?

MINGGU, 12 JULI 2026 | 23:20 WIB

EMPAT negara akhirnya resmi mengunci tiket semifinal Piala Dunia 2026. Prancis menjadi pertama. Disusul Spanyol, lalu Inggris. Tiket terakhir, Argentina. 

Sampai di sini semuanya terlihat normal. Coba nanti perhatikan ranking FIFA-nya, kok presisi. Apakah ini sudah di-setting, kebetulan, atau memang ada konspirasi? 

Piala Dunia 2026 akhirnya tinggal menyisakan empat kerajaan sepak bola. Prancis. Argentina. Spanyol. Inggris. Empat negara itu lolos ke semifinal. Masalahnya, netizen tidak melihat pertandingan. Mereka melihat Ranking FIFA.


Prancis nomor satu dengan 1.925,86 poin. Argentina nomor dua dengan 1.913,71 poin. Spanyol nomor tiga dengan 1.912,34 poin. Inggris nomor empat dengan 1.871,39 poin.

Seketika dunia maya hening. Lalu terdengar satu suara. "Ini... kok rapi banget?"

Dalam hitungan detik, jutaan netizen berevolusi menjadi agen rahasia. Yang tadinya jual cilok berubah menjadi analis geopolitik sepak bola. Yang kemarin masih demo pro MBG, sekarang menjelaskan algoritma FIFA sambil menggambar bagan memakai spidol merah.

Konon, menurut Universitas WA Fakultas Cocoklogi Internasional, FIFA ternyata bukan singkatan dari Federation Internationale de Football Association. Melainkan...Forum Internasional Finalis Sudah Ada.

Katanya, jauh sebelum bola pertama ditendang, empat kursi semifinal sudah diberi tulisan. "Khusus Prancis." "Khusus Argentina." "Khusus Spanyol." "Khusus Inggris." Tim lain hanya mendapat kursi lipat.

Masih menurut penelitian Profesor Cocoklogi bin Ngasal, markas FIFA sebenarnya memiliki ruang superrahasia bernama Departemen Sinkronisasi Kebetulan. Tugasnya sederhana. Mengatur supaya semua kejadian terlihat seperti kebetulan. 

Kalau terlalu kebetulan...Dibuat lebih kebetulan lagi. Bahkan kalender pertandingan diduga dicetak menggunakan printer yang bisa melihat masa depan. Tentu saja semua ini hanya satire. Jangan sampai ada yang benar-benar mencari alamat Departemen Sinkronisasi Kebetulan.

Namun, internet memang mendapat bahan bakar. Laga Argentina melawan Mesir menjadi pemicunya. Gol Mostafa Ziko sempat membawa Mesir unggul dianulir VAR karena ditemukan pelanggaran pada fase serangan sebelumnya. Seketika media sosial meledak. 

Mark Clattenburg menilai VAR seperti terlalu jauh mencari pelanggaran. Sedangkan Fernando Guerrero mempertanyakan apakah keputusan itu benar-benar sesuai protokol. Kritik tersebut nyata. Yang tidak nyata adalah teori netizen, operator VAR memakai kaca pembesar peninggalan Sherlock Holmes.

Konon, ruang VAR sekarang bukan lagi Video Assistant Referee, melainkan Very Ambitious Revision. Begitu ada gol, operator tidak langsung memeriksa tayangan ulang. Mereka memanggil arkeolog. "Pak, coba gali lagi kejadian tiga menit sebelum gol."

Kalau masih belum ketemu pelanggaran...Dipanggil ahli geologi. "Rumput sebelah kiri bergeser dua milimeter. Ada indikasi niat menyerang." Kalau tetap belum ada...Dipanggil cenayang. "Mas, saya melihat aura offside." Internet pun tepuk tangan.

Belum selesai bab VAR, datang episode yang membuat teori konspirasi naik kasta menjadi sinetron multiverse. Donald Trump dikabarkan menelepon Presiden FIFA Gianni Infantino agar hukuman kartu merah Folarin Balogun ditinjau ulang. FIFA kemudian menangguhkan larangan bermain selama satu tahun dan hanya menjatuhkan denda 40 ribu dolar AS, sehingga Balogun bisa tampil melawan Belgia.

UEFA geleng kepala. Asosiasi Sepak Bola Belgia protes. Pengamat olahraga bingung. Netizen? Netizen justru yakin sekarang trofi Jules Rimet disimpan di kontak favorit telepon.

Bahkan muncul teori baru. Nomor Gianni Infantino katanya bukan diawali kode negara. Melainkan kode cheat. Masukkan nomor. Tekan panggil. Pemain kembali aktif.

Ada pula bercanda, akademi sepak bola tahun depan tidak lagi mengajarkan passing, pressing, atau finishing. Mata pelajaran wajibnya berubah menjadi Teknik Menelepon Orang Penting 1. Semester dua naik ke Diplomasi Unlimited Call. Semester akhir skripsinya berjudul “Pengaruh Paket Pascabayar terhadap Peluang Menjadi Juara Dunia.

Lalu muncullah teori pamungkas yang mengalahkan semua teori sebelumnya. Katanya, Ranking FIFA bukan dibuat mengikuti hasil pertandingan. Justru pertandinganlah yang mengikuti ranking FIFA. 

Angka-angka itu diduga memiliki magnet kosmik yang menarik bola menuju semifinal. Semakin tinggi poin, semakin kuat gaya gravitasinya. Isaac Newton pun, kalau masih hidup, mungkin akan pensiun lagi.

Tentu semua itu hanyalah ngasal dari saya, akibat kebanyakan ngopi. Fakta yang ada tetap sederhana. Empat semifinalis memang merupakan empat tim teratas Ranking FIFA saat ini. Kontroversi VAR memang memicu kritik. 

Kasus penangguhan hukuman Balogun memang menuai kecaman dari UEFA, Belgia, dan sejumlah pengamat. Namun, hingga sekarang tidak ada bukti resmi, FIFA mengatur hasil pertandingan. Hanya saja, di dunia maya, kebetulan yang terlalu rapi sering kali lebih cepat dipercaya sebagai konspirasi dari sekadar... kebetulan.

Rosadi Jamani
Wartawan senior

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya