Tuan rumah Amerika Serikat (AS) dibantai Belgia dengan skor telak 1-4 pada laga babak 16 besar di Seattle Stadium, Selasa, 7 Juli 2026, WIB. (Foto: Istimewa)
ENTAH kenapa ya, kalau Amerika Serikat kalah, rasanya gimana hati. Termasuk saat diayam-sayur Belgia sampai 4-1, duh seperti berharap Silferter Matutina ditangkap.
Seattle masih sore. Indonesia baru sarapan. Tahu-tahu jagat maya sudah seperti pasar malam ketabrak UFO. Belgia, peringkat 9 FIFA berjuluk De Rode Duivels, racikan Rudi Garcia asal Prancis, datang ke Lumen Field bukan membawa strategi, melainkan membawa blender ukuran industri.
Korbannya? Amerika Serikat, peringkat 17 FIFA asuhan Mauricio Pochettino. Skor akhirnya bikin geleng-geleng kepala, 4-1! Donald Trump telepon Gianni Infantino? Entahlah.
Wasit Adham Makhadmeh asal Yordania meniup peluit. Baru semenit, Timothy Castagne langsung melepaskan rudal jarak jauh. Untung Matt Freese berubah menjadi sistem pertahanan Patriot, berhasil menepis bola seperti mencegat misil hipersonik.
Namun pertahanan Amerika cuma sanggup menunda kiamat. Menit ke-9...gooooool!! Charles De Ketelaere menyambar umpan Nicolas Raskin.
Pendukung Belgia di Indonesia langsung seperti kesurupan massal. Ada loncat-loncat, lupa bos ada di belakang. Ada menyiram tanaman pakai saus tomat karena mengira itu pupuk kemenangan. Seekor ayam di Sambas dikabarkan bertelur empat butir sekaligus karena kaget mendengar teriakan gol.
Menit ke-21, Amadou Onana cedera. Hans Vanaken masuk. Belgia santai, seperti cuma mengganti baterai remot televisi.
Amerika membalas pada menit ke-31. Goool!! Mungkin Trump di White House ikut teriak sampai lupa neken sanksi tarif 50 persen.
Malik Tillman mencetak gol lewat tendangan bebas yang sempat mengenai pemain Belgia. Courtois hanya bisa bengong melihat bola berbelok seperti sen kiri belok kanan.
Pendukung Amerika langsung euforia. Ada membuka Google Maps mencari lokasi pesta juara. Bahkan mungkin rakyat Iran yang sedang berduka sempat tersenyum tipis melihat Amerika akhirnya bisa mencetak gol. Sayangnya, senyum itu cuma seumur iklan yang bisa di-skip lima detik.
Dua menit kemudian...duaaarrr... goooool!!
Leandro Trossard mengirim umpan silang. Charles De Ketelaere menyundul bola ke pojok gawang. Matt Freese cuma bisa menatap bola seperti mak-mak SPPG kaget dana dipotong Purbaya.
Turun minum. Di ruang ganti Belgia, Rudi Garcia berdiri seperti ustaz tujuh belas musim. Ia berkata, "Anak-anak, ingat. Jangan seperti sebagian pejabat di negeri nun jauh di sana. Baru pasang batu pertama, balihonya sudah satu kilometer. Kita baru unggul 2-1, jangan dulu selfie kemenangan."
Seluruh pemain Belgia mengangguk. Bahkan handuk yang tergantung di dinding hampir ikut tepuk tangan.
Di ruang ganti Amerika, Mauricio Pochettino menatap anak asuhnya sambil geleng-geleng kepala. "Kalian ini negara pembuat kapal induk, F-35, dan rudal Tomahawk. Tolong... operannya jangan seperti bantuan sosial buat Belgia. Nanti pulang-pulang yang diinterogasi bukan kalian, tapi GPS bola."
Babak kedua dimulai. Belum juga habis kopi, menit ke-57...gooooool!!
Ucapan Pochettino seperti tidak didengar. Kiper Amerika salah mengoper. Hans Vanaken memotong bola dan langsung mencetak gol. Skor 3-1.
Pendukung Belgia resmi naik level "kesurupan platinum". Ada yang joget sambil memeluk rice cooker. Ada memberi hormat ke kentang goreng. Bahkan kulkas tetangga dikabarkan ikut bergetar tanpa gempa. Sampai H Dadan di jeruji, kaget dari tidurnya.
Amerika terus mencoba. Pulisic cedera diganti Sebastian Berhalter. Malik Tillman mendapat kartu kuning. Tyler Adams diganti Ricardo Pepi. Balogun nyaris mencetak gol pada menit ke-82, tetapi Courtois berubah menjadi pintu brankas bank Swiss.
Menit 90+3...gooooooooool!! Romelu Lukaku menutup pesta. Skor menjadi 4-1. Si botak tenaga badak ini memang luar biasa, makin gacor.
Peluit panjang berbunyi. Belgia sukses mengayam-sayur Amerika dengan resep khas Eropa. Pendukung Belgia berpesta sampai tetangga mengira ada hajatan tujuh hari tujuh malam.
Sementara pendukung Amerika sibuk mencari kambing hitam, mulai dari rumput stadion, arah angin Seattle, hingga mungkin sinyal Wi-Fi. Kalau benar Trump menelepon Infantino, semoga bukan untuk meminta pertandingan diulang karena "server sedang maintenance."
Selanjutkan Belgia akan bertemu Spanyol di perempat final. Amerika, tamat. Malam nanti, pukul 23.00, Argentina melawan Mesir. Siapkan Koptagul dan pisgor lagi, wak.
Rosadi JamaniKetua Satupena Kalbar