Berita

Kantor BPS (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Struktur Ekspor Indonesia Harus Beralih ke Produk Bernilai Tambah

SENIN, 06 JULI 2026 | 13:08 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kinerja neraca perdagangan Indonesia yang mencatat defisit sebesar 1,61 miliar Dolar AS pada Mei 2026 menjadi pengingat bahwa struktur ekspor nasional masih perlu dibenahi. 

Defisit tersebut sekaligus mengakhiri tren surplus perdagangan yang telah berlangsung selama 72 bulan sejak Mei 2020.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menilai transformasi struktur ekspor menjadi langkah utama untuk memperkuat daya tahan perdagangan Indonesia.


“Kuncinya bukan hanya menaikkan volume ekspor, tetapi mengubah struktur ekspor dari berbasis komoditas mentah menjadi berbasis nilai tambah industri. Kalau tidak, setiap kali harga komoditas turun atau impor energi melonjak, neraca perdagangan Indonesia akan kembali rapuh,” kata Rizal di Jakarta, dikutip Senin 6 Juli 2026. 

Menurut Rizal, defisit neraca perdagangan menunjukkan bahwa ekspor Indonesia masih sangat bergantung pada fluktuasi harga komoditas global serta rentan terhadap peningkatan impor, khususnya energi.

Ia menjelaskan, sektor nonmigas tetap menjadi tulang punggung ekspor Indonesia dengan kontribusi mencapai 110,19 miliar dolar AS atau sekitar 95,5 persen dari total ekspor sepanjang Januari-Mei 2026.

Meski demikian, Rizal menekankan bahwa orientasi ekspor tidak lagi cukup bertumpu pada komoditas primer seperti batu bara dan minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO). Indonesia perlu memperbesar porsi ekspor produk hasil hilirisasi dan industri manufaktur.

Produk yang dinilai memiliki prospek besar antara lain hasil hilirisasi nikel, besi dan baja, produk turunan sawit, kimia dasar berbasis pertanian, aluminium semi-finished, perikanan, kopi, kakao, rempah-rempah, furnitur, tekstil teknis, alas kaki, otomotif, hingga komponen elektronik.

“BPS juga mencatat kenaikan ekspor nonmigas Januari-Mei 2026 terutama didorong industri pengolahan, termasuk olahan nikel, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik berbasis pertanian, kimia anorganik, dan semi aluminium,” tambahnya.


Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Sita Aset Rp22 Miliar Milik Anwar Sadad, Mulai Rumah hingga SPBE

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:42

UPDATE

Ketika Seekor Ayam Lebih Berharga dari Nyawa Seorang Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 00:21

Disoal Kader, Pergantian Pengurus AMPI Langgar Aturan Organisasi?

Senin, 27 Juli 2026 | 00:20

Inilah Skuad Timnas Indonesia di Piala AFF 2026

Senin, 27 Juli 2026 | 00:00

Program Pembangunan Prabowo Memperhatikan Aspek Keberlanjutan

Minggu, 26 Juli 2026 | 23:29

Gaza for Israel Jika Kita Tetap Diam

Minggu, 26 Juli 2026 | 23:20

‘API’ Jaringan Umat

Minggu, 26 Juli 2026 | 23:01

Pakar Hukum: Tersangka Korupsi Bisa Ditetapkan Meski Belum Diperiksa

Minggu, 26 Juli 2026 | 22:45

Kaesang Pilih Dapil Neraka Lawan Puan, Kejar Legitimasi atau Sensasi?

Minggu, 26 Juli 2026 | 22:37

Kapitra Ampera Labeli Febrie Adriansyah Maling Gede

Minggu, 26 Juli 2026 | 22:14

ICW Dapat Bocoran Timses Prabowo-Gibran Sodok Posisi Gantikan Ketua Ombudsman RI

Minggu, 26 Juli 2026 | 21:50

Selengkapnya