Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Politik

Perpres 111/2025 Wujud Protective State bagi Generasi Bangsa

SENIN, 06 JULI 2026 | 06:16 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Dosen Ilmu Politik Universitas Udayana sekaligus pendiri Malleum Iustitiae Institute, Efatha Filomeno Borromeu Duarte menyoroti keluarnya Perpres Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025-2029 yang menggolongkan penyebaran budaya LGBT sebagai ancaman nonmiliter.

Efatha merespons dengan kepala dingin dan mengajak semua pihak menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan sosial terkait perpres tersebut.
  
"Saya memahami kekhawatiran mereka. Namun, kita harus membedakan antara individual orientation dan political movement. Negara tidak pernah menyentuh ranah privat. Yang menjadi perhatian negara adalah public advocacy dan social engineering yang mencoba mengubah mainstream value system secara paksa. Dalam kerangka state responsibility, negara memiliki kewajiban untuk melindungi masyarakat dari apa yang oleh para ahli disebut sebagai normative violence, kekerasan normatif," ucap Efatha kepada RMOL di Jakarta, Minggu malam, 5 Juli 2026.
 

 
Ia menambahkan bahwa kebijakan ini justru menjadi penegasan bahwa Indonesia memiliki strategic autonomy di bidang ideologi dan budaya. 

"Kita tidak bisa terus-menerus menerima begitu saja paket nilai dari luar. Ini membuktikan bahwa Indonesia adalah agent, bukan object, dalam percaturan global. Ini adalah momentum bagi kita untuk menunjukkan bahwa Pancasila adalah living ideology yang mampu merespons tantangan zaman,” ungkapnya.

Bagi Efatha, penerbitan Perpres di awal masa pemerintahan ini adalah sebuah political timing yang sangat brilian dan patut diapresiasi. Dalam teori siklus politik, masa awal pemerintahan adalah momen di mana political capital seorang pemimpin berada di titik tertinggi.
 
"Pak Prabowo menggunakan momen legitimasi puncak ini untuk meletakkan dasar-dasar kebijakan yang fundamental. Ini bukan kebijakan populis yang mencari tepuk tangan, ini adalah kebijakan visioner yang mungkin baru terasa manfaatnya 20 tahun ke depan. Inilah yang membedakan seorang statesman dengan sekadar politisi. Seorang statesman memikirkan generasi ke generasi, bukan hanya pemilu ke pemilu," ujarnya.
 
Ia juga menyoroti bahwa dengan adanya payung hukum ini, maka kebijakan di bidang pendidikan, sosial, dan agama menjadi terintegrasi. 

"Ini bukan lagi urusan salah satu kementerian, ini adalah whole-of-government approach yang komprehensif. Semua bergerak dalam satu frekuensi untuk menjaga ketahanan keluarga dan moralitas generasi," tegasnya.

Efatha menyampaikan dukungannya dengan cara yang menyentuh. Ia mengajak publik untuk tidak melihat kebijakan ini sebagai alat pemisah, melainkan sebagai alat pemersatu untuk tujuan yang lebih besar.
 
"Saya mendukung kebijakan ini bukan karena saya anti terhadap kelompok mana pun, tetapi karena saya melihat ketulusan niat negara untuk melindungi rakyatnya. Ini adalah wujud dari protective state, negara yang melindungi, bukan repressive state. Kita sedang bicara tentang masa depan anak-anak kita, tentang bagaimana mereka tumbuh dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendiri bangsa," tuturnya dengan mata berbinar.
 
Ia berpesan agar implementasi ke depan tetap mengedepankan pendekatan edukatif, dialogis, dan humanis. 

"Kita tidak perlu menjadi kasar. Cukup dengan memperkuat pendidikan karakter di sekolah, memperkuat peran keluarga, dan memberikan ruang dialog yang sehat. Itulah soft power sejati bangsa ini. Mari kita kawal kebijakan ini dengan penuh kedewasaan, karena ini adalah kerja besar untuk menjaga Indonesia tetap Indonesia. Terima kasih Pak Prabowo, atas keberanian dan visi yang jernih," pungkasnya.
 

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Baru 10 Jam, Tulisan SBY Soal Politik Liar Tembus 9 Juta Tayangan di X

Rabu, 04 November 2026 | 20:21

Menag Dorong PTKIN Jadi Pelopor Hilirisasi dan Inovasi Teknologi

Rabu, 04 November 2026 | 20:19

Polri Harus Jaga Integritas dan Kepercayaan Publik di Kasus Listyo Sigit

Rabu, 04 November 2026 | 20:17

Aturan Penyadapan Ilegal di Indonesia, Ini Ancaman Hukuman bagi Pelaku

Rabu, 04 November 2026 | 20:11

Ketum KNPI Minta Penegak Hukum Serius Usut Dugaan Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 20:07

Tanggapan Allianz Setelah Digugat Rp5,2 Miliar di PN Jaksel

Rabu, 04 November 2026 | 20:02

Jorindo Indonesia Gandeng Mubarak Dubai Jalin Kerja Sama Operasi Salvage

Rabu, 04 November 2026 | 19:57

4 Kasus Penyadapan Presiden Indonesia, dari Habibie hingga Prabowo

Rabu, 04 November 2026 | 19:52

BRI Kukuhkan 35 Penerima Beasiswa BRI Fellowship Journalism 2026

Rabu, 04 November 2026 | 19:49

Kasus Intimidasi Meningkat, Dewan Pers Tegaskan Komitmen Lindungi Wartawan

Rabu, 04 November 2026 | 19:48

Selengkapnya