Berita

Safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI). (Foto: Dok PSI)

Politik

Safari Politik Jokowi Berpotensi Picu Perpecahan Elite

JUMAT, 03 JULI 2026 | 13:35 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai bukan sekadar menjaga eksistensi politik, tetapi juga berpotensi memunculkan faksionalisme di dalam lingkaran elite kekuasaan.

Pengamat politik Selamat Ginting menilai salah satu tujuan utama langkah tersebut adalah menjaga posisi Jokowi sebagai tokoh politik yang tetap berpengaruh setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden.

"Jokowi tetap menjadi tokoh berpengaruh. Itu yang dia inginkan. Tetapi tidak mengganggu pemerintahan Prabowo. Dia ingin tetap berpengaruh, tetapi juga tidak ingin terus-menerus dikaitkan dengan Prabowo, apalagi sampai berhadap-hadapan," ujar Selamat lewat kanal Youtube Abraham Samad, Jumat, 3 Juli 2026.


Ia melihat hubungan Jokowi dan Presiden Prabowo Subianto saat ini masih bersifat saling melengkapi. Salah satu indikatornya adalah kunjungan putra Presiden Prabowo, Didit Hediprasetyo, ke kediaman Jokowi di Solo beberapa waktu lalu.

"Tentu ada pesan di balik pertemuan itu. Kita memang belum mengetahui pesan eksplisitnya, tetapi setidaknya ada pesan-pesan implisit yang ingin disampaikan," katanya.

Meski demikian, Selamat mengingatkan dinamika tersebut berpotensi berkembang menjadi faksionalisme permanen apabila basis loyalitas politik di sekitar Prabowo dan Jokowi semakin berbeda arah.

Dalam kajian ilmu politik, kata dia, faksionalisme muncul ketika terdapat kelompok-kelompok elite yang memiliki basis loyalitas berbeda dalam satu sistem kekuasaan.

"Jika pendukung Presiden Prabowo dan jaringan politik Jokowi semakin berbeda orientasi politiknya, maka Indonesia dapat dikatakan sedang memasuki fase kompetisi elite yang lebih intens dan lebih keras," jelasnya.

Menurut Selamat, kompetisi antarelite itu tidak selalu diwujudkan dalam bentuk konflik terbuka, tetapi juga dapat terjadi melalui proses negosiasi dan tawar-menawar politik.

"Faksionalisme ini dapat berlangsung dalam bentuk negosiasi. Akan ada bargaining, misalnya menjelang reshuffle kabinet dengan muncul permintaan agar tokoh tertentu tidak dicopot. Itu bagian dari dinamika politik yang mungkin terjadi," pungkasnya.




Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Gibran Mundur Saja

Selasa, 03 November 2026 | 04:20

Investasi Jakarta Tembus Rp249,3 Triliun

Selasa, 03 November 2026 | 04:08

MUI Apresiasi Pencopotan Kapolres Sukoharjo

Selasa, 03 November 2026 | 03:17

DJP Buka-bukaan soal Pajak Digital yang Disebut Hashim

Selasa, 03 November 2026 | 03:05

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Putusan MA soal Suket Gibran Jadi Momentum Akhiri Bayang-Bayang Jokowi

Selasa, 03 November 2026 | 02:13

Sikap Responsif Kapolri Pulihkan Kepercayaan Masyarakat

Selasa, 03 November 2026 | 02:05

RI Pamer Latihan Militer Gabungan Tiga Bidang di Forum Pertahanan ASEAN

Selasa, 03 November 2026 | 01:40

Anies Temui Seniman Iman Soleh di Bandung, Ini Kisahnya

Selasa, 03 November 2026 | 01:29

PAM Jaya Sumbang Dividen Rp257 Miliar

Selasa, 03 November 2026 | 01:07

Selengkapnya