BELGIA dikenal sebagai negeri cokelat, kentang goreng (frites), dan bir.
Namun dalam sejarah dunia, nama negara kecil di jantung Eropa itu juga lekat dengan kolonialismenya di Kongo, salah satu episode paling kelam dalam sejarah imperialisme modern yang hingga kini terus dikaji karena eksploitasi ekonomi dan pelanggaran kemanusiaan.
Sementara itu, Senegal bukan hanya dikenal sebagai gudang pesepak bola bertalenta, tetapi juga pernah menjadi pusat pemerintahan kolonial Prancis di Afrika Barat.
Dakar bahkan menjadi ibu kota Afrique-Occidentale Française (Afrika Barat Prancis), wilayah administratif yang membawahi delapan koloni Prancis.
Kini, setelah lembaran kolonialisme menjadi bagian dari sejarah, kedua negara bertemu di panggung yang jauh lebih damai: babak 32 besar Piala Dunia 2026. Yang diperebutkan bukan lagi pengaruh politik atau wilayah, melainkan satu tiket menuju babak 16 besar.
Di atas rumput Lumen Field, Seattle, sejarah tentu tidak ikut menendang bola. Namun ironi seolah tetap hadir.
Senegal memegang keunggulan skor hingga menit ke-86 dan tampil lebih efektif sepanjang sebagian besar pertandingan.
Akan tetapi, sepak bola jarang memberi hadiah kepada tim yang sekadar unggul lebih dulu. Ia lebih sering berpihak kepada tim yang mampu bertahan hingga peluit terakhir. Dan kali ini, Belgia berhasil menulis halaman terakhir cerita.
Sejak peluit pertama dibunyikan, justru Senegal yang tampil lebih meyakinkan. Singa Teranga bermain agresif, memenangkan banyak duel, dan berkali-kali membuat lini belakang Belgia kelabakan.
Belgia lebih banyak dipaksa bereaksi ketimbang mengendalikan permainan. Kalau ada penonton yang baru menyalakan televisi pada menit ke-30, mungkin mereka mengira Senegal-lah yang datang dengan status favorit.
Keunggulan Senegal akhirnya lahir pada menit ke-25 lewat Habib Diarra. Gol itu bukan sekadar membuka skor, tetapi juga membuat rasa percaya diri Senegal melambung tinggi.
Para pendukungnya mulai berani membayangkan tiket babak 16 besar. Masalahnya, Piala Dunia berkali-kali membuktikan bahwa mimpi yang datang terlalu cepat kadang juga pergi paling cepat.
Awal babak kedua menjadi mimpi indah bagi wakil Afrika itu. Menit ke-51, Ismaila Sarr sukses menggandakan keunggulan menjadi 2-0.
Belgia mulai terlihat kehabisan ide, sedangkan Senegal bermain semakin tenang. Hampir setiap serangan mereka berhasil membuat tekanan darah pendukung Belgia naik beberapa angka.
Melihat timnya kesulitan membongkar pertahanan lawan, pelatih Belgia memasukkan Romelu Lukaku sejak awal babak kedua.
Pergantian itu tidak langsung membuahkan hasil, tetapi perlahan mengubah ritme serangan Belgia hingga tekanan mereka semakin sulit dibendung.
Hasilnya baru benar-benar terasa saat pertandingan memasuki menit ke-86. Lukaku berhasil memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1 dan membangkitkan kembali harapan Belgia.
Gol itu seperti menyuntikkan energi baru. Permainan Belgia mendadak hidup, sementara bagi Senegal, lima menit terakhir waktu normal terasa jauh lebih panjang daripada 85 menit sebelumnya.
Belum sempat rasa panik itu reda, Youri Tielemans mencetak gol penyeimbang pada menit ke-89. Dalam hitungan menit, keunggulan dua gol Senegal lenyap begitu saja.
Yang semula tampak seperti jalan mulus menuju babak 16 besar, mendadak berubah menjadi tanjakan terjal yang harus didaki lagi dari awal.
Skor 2-2 memaksa pertandingan berlanjut ke babak tambahan. Senegal bertahan habis-habisan demi membawa laga ke adu penalti. Belgia terus menggempur.
Ketika banyak penonton mulai menebak-nebak siapa yang akan menjadi pahlawan di babak adu penalti, drama justru datang lebih cepat.
Setelah meninjau tayangan ulang melalui VAR, wasit menunjuk titik penalti untuk Belgia. Keputusan itu memicu protes keras dari para pemain Senegal. Namun, seperti biasa, setelah keputusan VAR diambil, yang bisa berubah biasanya hanya ekspresi para pemain.
Youri Tielemans maju sebagai algojo. Dengan ketenangan yang kontras dengan jantung jutaan pendukung Belgia, ia mengirim bola ke gawang dan memastikan kemenangan dramatis 3-2. Belgia pun melangkah ke babak 16 besar lewat salah satu comeback paling dramatis di fase gugur Piala Dunia 2026.
Sepak bola kembali membuktikan bahwa sejarah memang hanya milik masa lalu, tetapi drama selalu milik pertandingan yang belum berakhir.
Senegal mungkin menguasai sebagian besar isi pertandingan. Namun Belgia menguasai satu halaman yang paling penting: halaman terakhir.
Dan seperti buku yang baik, orang akan selalu mengingat bagaimana cerita itu berakhir, bukan sekadar bagaimana ia dimulai.
*Pemain Bola Kampung