Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Foto: RMOLJabar)
SUKSES! Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sukses menggeser elektabilitas Presiden Prabowo Subianto. Jauh di atas dan melampaui Prabowo.
Elektabilitas bukan soal baik atau buruk. Elektabilitas juga tidak menggambarkan bagusnya program dan efektifitasnya kinerja.
Tapi, elektabilitas berkaitan dengan bagaimana memikat hati dan mempengaruhi persepsi publik. Soal ini, selain Joko Widodo alias Jokowi, Dedi Mulyadi jagonya.
Hampir semua rakyat Indonesia punya ponsel dan membukanya dalam setiap menitnya. Youtube, Instagram, X, Tiktok, Facebook dan WhatsApp setiap hari muncul di layar ponsel dan menyapa pemiliknya.
Di situ Dedi Mulyadi muncul dengan berbagai konten. Konten Dedi berisi video-video pendek dan cenderung menghibur. Mayoritas rakyat Indonesia suka hiburan yang ringan dan renyah yang disajikan Dedi. Apalagi dalam kondisi stres akibat tekanan ekonomi seperti sekarang.
Jika Jokowi ngonten dengan tampilan wong ndeso, nyebur ke lumpur sawah dan masuk gorong-gorong, maka Dedi Mulyadi tampil lebih atraktif. Gusur bangunan atau bedeng di lahan milik negara. Baik dinas kehutanan maupun pengairan.
Umumnya yang digusur Dedi adalah bangunan berukuran kecil, karena pemiliknya juga rakyat kecil. Pengusaha kelas menengah ke bawah.
Bangunan besar? Terlalu berat risikonya kalau digusur. Bangunan besar biasanya milik pejabat tinggi atau orang kaya di Jakarta.
Terlalu rumit urusannya kalau harus diganggu. Bisa jadi bumerang. Bangunan besar sepertinya bukan wilayah mainan Dedi Mulyadi.
Kelas kakap seperti reklamasi, Anies Baswedan yang terbiasa menghadapinya. Setiap pemimpin punya ukuran nyali dan keberanian masing-masing.
Dedi adalah seorang gubernur yang aktif mendatangi rumah orang miskin dan kasih bantuan. Bicara ala orang desa yang bersahaja. Kasih semangat buat mereka. Lalu, ambil uang dari dompet, kemudian diberikan kepada mereka.
Sumber uang itu entah dari gaji atau dana operasional gubernur. Karena langsung diulurkan dari tangan Dedi sendiri, maka jadi konten yang sangat menarik.
Soal apakah bantuan langsung seperti ini dapat mengurangi angka kemiskinan di Jawa Barat? Itu bab lain. Yang penting mereka senang dan penonton Youtube, Instagram, X atau Tiktok merasa terhibur dan bisa ambil pelajaran.
Prabowo tidak bisa melakukan seperti yang Dedi lakukan. Begitu juga Anies. Sesekali bisa. Tapi tidak jadi pola. Mungkin Ganjar Pranowo bisa. Tapi masanya sepertinya sudah lewat.
Bagi Dedi, ngonten sudah menjadi pola kampanyenya. Dari konten ini, popularitas Dedi melambung tinggi dan elektabilitasnya menyalib Prabowo. Ini bukti bahwa ngonten Dedi sungguh sangat amat efektif.
Infonya, di belakang Dedi ada orang-orang handal yang menjadi konsultan politik dan tim profesional yamg menggarap medsos Dedi.
Jika menuju 2029 elektabiltas Dedi terus naik, minimal cukup stabil, maka ia akan menjadi magnet dan dilirik oleh banyak partai.
Partai-partai koalisi Prabowo ini tidak menutup kemungkinan akan tinggalkan Prabowo jika elektabilias sang presiden terus turun dan tidak cukup meyakinkan untuk memenangi pilpres. Mereka bisa beralih ke Dedi.
Jika "tumbu ketemu tutup", partai-partai melamar dan syahwat politik Dedi pun besar, maka ada kemungkinan Dedi pun tinggalkan Gerindra dan ikut partai pengusung.
Seperti ketika Dedi tinggalkan Golkar ketika akan maju ke Pilgub Jawa Barat. Hijrah dari Golkar ke Gerindra.
Pindah partai merupakan hal biasa dalam perpolitikan di Indonesia. Sebuah konsekuensi dari sistem multi partai yang minus kekuatan ideologi dan platform.
Apalagi Dedi di Partai Gerindra adalah kader baru. Sebelumnya Dedi adalah kader Golkar ketika calon bupati Purwakarta. Bahkan pernah menjadi ketua DPD Golkar Jawa Barat. Lalu pindah ke Gerindra ketika nyagub di Jawa Barat.
Gerindra merebut Jawa Barat dengan mengusung Dedi setelah berhasil mendorong Ridwan Kamil ke pilgub Jakarta dan kalah. Nasib Ridwan Kamil redup, sekarang digantikan Dedi. Ke depan, Dedi akan moncer, atau redup menyusul Ridwan Kamil.
Jawa Barat seksi. Pemilih Jawa Barat terbesar di Indonesia, 35 juta. Sangat singnifikan sebagai pendulang suara partai maupun untuk suara di pilpres.
Ketika elektabilitas Dedi menyalip Prabowo dan jauh meninggalkannya, lalu Dedi nyapres, akankah Prabowo mengalah dan estafet pencapresan diserahkan ke Dedi? Atau Prabowo tetap nyapres, lalu Dedi keluar dari Gerindra dan diusung oleh partai lain?
Tony RosyidPengamat Politik dan Pemerhati Bangsa