Berita

Pelatih Timnas Voli Reidel Toiran. (Foto: Istimewa)

Publika

Mengenal Coach Toiran, Pelatih Jenius yang Bawa Timnas Voli Juara AVC

SELASA, 30 JUNI 2026 | 03:31 WIB

SESUAI janji saya, kali ini mengulas pelatih jenius asal Kuba, Coach Toiran. 

Timnas Voli Putra kita datang membawa kabar tidak butuh juru bicara. Di Ahmedabad, India, Garuda meng-ayam sayur Korea Selatan 3-0. Resmi menjadi juara AVC Men's Volleyball Cup 2026. Tidak ada gimik. Tidak ada pencitraan. Cuma ada papan skor yang berkata, "Silakan dibaca sendiri."

Di balik sejarah itu berdirilah seorang pria yang mukanya tenang seperti orang lagi nunggu bakso, padahal baru saja membuat Asia geger. 


Dialah Coach Reidel Toiran, atau yang kini akrab dipanggil netizen sebagai Pak RT. Bedanya dengan RT di kampung, yang satu ini kalau mengumpulkan warga hasilnya bukan naikin pajak ini dan itu, melainkan trofi juara.

Toiran lahir di Kuba pada 31 Oktober 1984 dan kini berusia 41 tahun. Dulu ia merupakan Outside Hitter bertinggi 201 sentimeter yang sempat memperkuat SL Benfica di Portugal pada 2008-2013. 

Setelah itu ia menjadi salah satu pemain asing terbaik di Proliga bersama Surabaya Samator. Sekitar tahun 2020 ia gantung sepatu. Untungnya bukan gantung cita-cita. Ia memilih tetap tinggal di Indonesia dan kini justru menjadi dalang kebangkitan voli Merah Putih.

Yang bikin geleng-geleng kepala adalah gaya melatihnya. Pelatih lain teriak sampai urat leher muncul seperti kabel PLN. 

Pak RT? Santai. Jalan ke kiri, jalan ke kanan, kadang planga-plongo. Sesekali ia menepuk pundak pemain, lalu kembali diam. Mukanya datar. Kalau tidak tahu pertandingan sedang berlangsung, orang mungkin mengira beliau sedang inspeksi dapur SPPG.

Lebih ajaib lagi, dia hampir tidak pernah membawa buku catatan. Seolah semua strategi sudah tersimpan di hard disk otaknya. Sementara di negeri ini, ada yang membawa map setebal kamus ke rapat, keluar rapat cuma menghasilkan kalimat, "akan dibahas lebih lanjut."

Kebiasaan Pak RT meminta time-out juga bikin lawan kena prank. Saat Indonesia hampir mendapat poin krusial, ia malah menghentikan permainan. Penonton sempat panik, lawan mulai senyum. Lima menit kemudian? Senyum lawan menghilang seperti janji kampanye yang habis masa pemilihannya.

Keberaniannya juga luar biasa. Ia mencadangkan sejumlah pemain senior dan memberi panggung kepada pemain muda yang lapar prestasi. 

Bahkan, nama besar seperti Rivan Nurmulki tidak dipanggil. Netizen sempat ribut. Grup WA mendidih. Kolom komentar berubah jadi sidang nasional. Eh, setelah Indonesia juara, mendadak semua mengaku, "Saya memang dari awal percaya."

Sebagai pelatih, prestasinya memang bukan kebetulan. Ia membawa Jakarta Bhayangkara Presisi menjuarai Proliga 2024 dan 2026, sekaligus menjadi juara Asia antar klub. 

Hebatnya lagi, ia fasih berbahasa Indonesia sehingga bisa memberi instruksi tanpa penerjemah. Ternyata orang Kuba saja mau belajar bahasa Indonesia demi prestasi. Ironisnya, masih ada pejabat Indonesia yang lebih fasih mengucapkan, "Sedang kami kaji."

Saat visa pelatih kepala Sergio Veloso belum selesai, PBVSI menunjuk Toiran sebagai caretaker Timnas. Persiapannya singkat di Padepokan Voli Jenderal Kunarto, Sentul. Banyak yang menganggap ini solusi darurat. Nyatanya, darurat versi Pak RT menghasilkan gelar juara Asia.

Coach Toiran mengajarkan satu pelajaran sederhana, hasil selalu lebih keras suaranya dari pidato. Ia tidak sibuk mencari kamera, tidak gemar membuat slogan, dan tidak hobi menjual harapan. Ia bekerja, pemain bertanding, Indonesia menang.

Terima kasih, Pak RT. Negeri ini sudah terlalu kenyang dengan janji, terlalu sering disuguhi pencitraan, dan terlalu lama menunggu prestasi. 

Untung masih ada pelatih yang membuktikan, kemenangan tidak lahir dari baliho, rapat maraton, atau konferensi pers, melainkan dari strategi, keberanian, dan kerja nyata. 

Kalau semua pemimpin bekerja seperti Coach Toiran, mungkin rakyat sudah lupa rasanya mendengar kalimat, "Mohon bersabar, masih dalam proses."

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

BRI Catat 6.022 Debitur KUR di Pangkalpinang, Didominasi Petani Sawit

Senin, 29 Juni 2026 | 22:23

Mengenal Emission Trade System

Senin, 29 Juni 2026 | 22:06

KPK Perpanjang Penahanan ASN BPK Sumsel Titin Rita Lestari

Senin, 29 Juni 2026 | 21:52

DPR Minta Polisi Segera Penjarakan Penganiaya Caddy di Tangerang

Senin, 29 Juni 2026 | 21:36

Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Perkuat Resiliensi Media demi Pembangunan Papua

Senin, 29 Juni 2026 | 21:34

Ahmad Muzani Bicara Potensi Wisata Religi Saat Temui Ketua MPR Uzbekistan

Senin, 29 Juni 2026 | 21:32

Bupati Muara Enim Edison Masih Nginep di Rutan KPK dalam 40 Hari

Senin, 29 Juni 2026 | 21:14

DMO dan RKAB Harus jadi Prioritas Amankan Pasokan Batu Bara

Senin, 29 Juni 2026 | 20:44

Hampir Rampung, Sekolah Rakyat Kementerian PU di Bekasi Usung Gentengisasi

Senin, 29 Juni 2026 | 20:36

Brasil vs Jepang: Duel Raksasa di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Senin, 29 Juni 2026 | 20:28

Selengkapnya