Berita

Ilustrasi Heatwave (Sumber: Gemini Generated Image)

Dunia

Apa Itu Heatwave? Mengenal Gelombang Panas Ekstrem yang Sebabkan Ribuan Kematian di Eropa

SENIN, 29 JUNI 2026 | 19:09 WIB | OLEH: TIFANI

Gelombang panas ekstrem kembali menjadi sorotan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 orang meninggal dunia di Eropa sejak 21 Juni 2026. Sejumlah negara bahkan mencatat suhu udara melampaui 40 derajat Celsius yang memicu gangguan kesehatan hingga meningkatkan risiko kematian.

Fenomena cuaca ekstrem tersebut dikenal sebagai heatwave atau gelombang panas, yaitu kondisi ketika suhu udara meningkat jauh di atas kondisi normal dan berlangsung selama beberapa hari atau lebih. Dalam beberapa dekade terakhir, kejadian heatwave tercatat semakin sering terjadi dan memiliki dampak yang makin besar.

Apa Itu Heatwave?


Heatwave atau gelombang panas adalah periode cuaca panas yang terjadi secara tidak normal dan berlangsung dalam waktu tertentu dibandingkan dengan kondisi suhu rata-rata di suatu wilayah. Fenomena ini dapat berlangsung selama beberapa hari, minggu, bahkan berbulan-bulan dan menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat cuaca ekstrem di berbagai negara.

Secara global, frekuensi dan intensitas gelombang panas terus meningkat sejak tahun 1950-an. Mengutip Britannica, heatwave termasuk salah satu fenomena cuaca paling berbahaya karena dapat menimbulkan risiko kesehatan, sosial, lingkungan, hingga ekonomi.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mendefinisikan heatwave sebagai kondisi ketika suhu maksimum harian meningkat setidaknya 5 derajat Celsius di atas suhu normal dan berlangsung selama lima hari atau lebih secara berturut-turut. Periode cuaca panas yang tidak normal ini dapat terjadi dengan suhu maksimum maupun minimum yang sama-sama tinggi pada suatu lokasi.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada satu definisi standar yang berlaku secara global. Sejumlah negara menerapkan batas dan indikator yang berbeda sesuai kondisi iklim masing-masing.

Sementara itu, menurut UNICEF, heatwave terjadi ketika udara panas terperangkap di atmosfer sehingga menyebabkan suhu meningkat dalam periode tertentu. Para ilmuwan mencatat perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang memperkuat intensitas dan frekuensi gelombang panas di berbagai wilayah dunia.

Peningkatan emisi gas rumah kaca membuat panas terperangkap lebih lama di atmosfer sehingga suhu permukaan bumi cenderung meningkat. Selain itu, heatwave sering disertai kelembapan udara yang rendah sehingga dapat memperburuk kondisi kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran.

Apakah Indonesia Bisa Mengalami Heatwave?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa suhu panas yang terjadi di Indonesia tidak serta-merta dapat disebut sebagai heatwave atau gelombang panas. Indonesia berada di wilayah tropis yang memiliki karakteristik suhu relatif stabil sepanjang tahun. 

Kondisi ini berbeda dengan negara-negara subtropis atau wilayah empat musim yang lebih rentan mengalami gelombang panas. Menurut BMKG, heatwave umumnya terjadi di wilayah lintang menengah hingga tinggi yang mengalami pergantian musim. 

Fenomena tersebut ditandai oleh lonjakan suhu yang jauh melampaui rata-rata klimatologis selama beberapa hari berturut-turut. Karakteristik tersebut tidak ditemukan di Indonesia.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

UPDATE

Bandit Keuangan Terorganisir

Minggu, 20 September 2026 | 00:02

Perjuangkan Hak Retaker, Willy Aditya: Republik Berdiri dari Tangan Dokter

Sabtu, 19 September 2026 | 23:58

Kemenkeu Tahan SAL Rp200 Triliun di Bank Hingga Juli 2027

Sabtu, 19 September 2026 | 23:32

KSAD Siapkan Helikopter Mi-35M Buatan Rusia untuk Misi Kemanusiaan di Papua

Sabtu, 19 September 2026 | 23:21

Disorot Publik, Nusron Wahid Ternyata Sudah Mundur dari Pengurus Golkar

Sabtu, 19 September 2026 | 22:47

Sektor Pariwisata RI Stagnan, Indonesia Kalah Cepat dari Vietnam

Sabtu, 19 September 2026 | 22:34

Kopasgat dan Satgas Habema Tangkap Pentolan OPM Abdon Kisamdu

Sabtu, 19 September 2026 | 21:56

PP IPA Dukung Prabowo Gratiskan Biaya Pendidikan SD hingga Universitas Negeri

Sabtu, 19 September 2026 | 21:37

Selebgram Jule Tak Jadi Tersangka Meski Konsumsi Etomidate, Ini Penjelasan Polisi

Sabtu, 19 September 2026 | 21:31

Bongkar Praktik Shadow Economy WNA di Bali, Hotel Lokal Terancam Kalah Saing

Sabtu, 19 September 2026 | 20:31

Selengkapnya