Berita

Gedung wisma Danantara Indonesia. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

BUMN Sakit Bisa jadi Virus, Pemerintah Diminta Jangan Asal Merger

SENIN, 29 JUNI 2026 | 18:45 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Rencana penggabungan jumlah badan usaha milik negara (BUMN) perlu dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan perusahaan yang memiliki kinerja sehat.

Pengamat BUMN sekaligus Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan mengatakan konsolidasi sebaiknya diawali pada BUMN yang secara operasional dan keuangan sudah kuat agar proses penggabungan berjalan lebih mudah.

"Diawali oleh BUMN yang kinerjanya sehat, sehingga penggabungan lebih mudah. Bukan justru memindahkan beban. Misalnya, BUMN di sektor perkebunan yang masih tercerai-berai, seperti ada PalmCo, Agrinas, ID Food, atau lainnya," kata Herry kepada RMOL di Jakarta pada Senin, 29 Juni 2026.


Sementara itu, untuk BUMN yang kondisi keuangannya kurang sehat, seperti perusahaan di sektor karya maupun farmasi, Herry menyarankan agar pemerintah menyelesaikan terlebih dahulu persoalan restrukturisasi sebelum melakukan merger.

"Untuk BUMN yang kurang sehat, seperti pada BUMN karya maupun farmasi, sebaiknya diselesaikan dulu masalah keuangannya, misalnya melalui restrukturisasi. Sehingga, ketika digabung, tidak memindahkan beban," ujarnya.

Menurutnya, langkah tersebut penting agar perusahaan yang sehat tidak ikut terbebani oleh entitas yang bermasalah.

"BUMN maupun anak usahanya yang akan dikonsolidasikan perlu melakukan restrukturisasi keuangan sebelum penggabungan. Kalau tidak, nanti bisa menjadi virus bagi perusahaan yang sehat," tegasnya.

Lebih jauh, Herry menilai BUMN atau anak usaha yang sudah tidak memiliki prospek untuk dipulihkan sebaiknya ditutup agar tidak terus membebani keuangan negara.

"Untuk BUMN atau anak usaha BUMN yang memang sudah tidak layak dibenahi, sebaiknya ditutup. Jangan biarkan jadi beban berkepanjangan," imbuh dia.

Senada, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengingatkan pemerintah agar tidak keliru menentukan BUMN yang akan dilebur, dijual, maupun ditutup.

"Risiko terbesarnya adalah salah memilih perusahaan yang dilebur, dijual, atau ditutup. Ada BUMN yang secara keuangan lemah tetapi memiliki fungsi pelayanan publik penting, misalnya di transportasi, pangan, energi, kesehatan, atau daerah tertinggal. Untuk perusahaan seperti ini, ukuran keberhasilannya tidak bisa hanya laba, tetapi juga manfaat sosial," ujar Josua kepada RMOL.

Ia menilai solusi yang tepat bukan membiarkan kerugian terus berlangsung, melainkan memisahkan fungsi komersial dan penugasan negara. 

"Jika pemerintah memberi tugas sosial, biaya penugasan harus dihitung terbuka dan dibayar melalui APBN, bukan disembunyikan dalam neraca BUMN," jelasnya.

Joshua juga mengingatkan agar konsolidasi tidak sekadar melahirkan perusahaan raksasa yang tetap tidak efisien.

"Menggabungkan banyak perusahaan tidak otomatis membuatnya lebih sehat. Jika penggabungan hanya memindahkan masalah utang, manajemen lemah, dan budaya kerja tidak produktif ke satu badan usaha yang lebih besar, maka reformasi hanya berubah bentuk, bukan memperbaiki kinerja," tegasnya.

Karena itu, ia menilai proses konsolidasi harus dibarengi dengan pembersihan neraca keuangan, perbaikan kualitas manajemen, penguatan sistem pengawasan, penyederhanaan rantai anak dan cucu perusahaan yang tidak produktif, serta penetapan target kinerja yang jelas dan terukur.


Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Haji Isam Temui Seskab Teddy, Bahas Investasi Pertambangan hingga Hilirisasi

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:17

Kolombia Ubah Sikap, Kini Akui Kedaulatan Maroko atas Sahara

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:02

KPK Periksa 2 ASN Pemkot Bengkulu dalam Pengembangan Kasus Suap Rejang Lebong

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:01

Jelang Sidang Tahunan MPR, Pemerintah Matangkan Persiapan Pidato Kenegaraan Prabowo

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:56

Bitcoin Menguat Berkat Derasnya Aliran Dana ETF

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:49

Keamanan Data Pajak Jadi Prioritas Usai Kebakaran Bapenda

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:45

Destry Damayanti Resmi Jadi Calon Tunggal Gubernur BI

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:36

Kejagung Periksa 16 Saksi di Kasus BGN, 10 di Antaranya Direktur Perusahaan

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:32

Greenland Tolak Aktivitas Perusahaan AS di Tengah Ancaman Aneksasi Trump

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:27

Gibran Jadi Presiden Solusi atau Petaka?

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:26

Selengkapnya