Berita

ILustrasi (Artificial Intelligence)

Bisnis

Pengusaha Dorong Harga Gas Turun, Ingatkan Pentingnya Keberlanjutan Pasokan

SENIN, 29 JUNI 2026 | 08:48 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kalangan dunia usaha menyambut positif rencana pemerintah menurunkan harga gas industri, termasuk membuka peluang penyesuaian harga gas alam cair (liquified natural gas/LNG). 

Kebijakan tersebut dinilai dapat menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, mengatakan biaya energi selama ini menjadi salah satu komponen terbesar dalam struktur biaya produksi berbagai sektor industri. Karena itu, harga gas yang lebih kompetitif akan memberikan dampak positif bagi pelaku usaha.


"Selama ini, biaya energi, termasuk gas, menjadi salah satu komponen biaya produksi yang cukup besar bagi berbagai sektor industri, sehingga harga gas yang lebih terjangkau akan meningkatkan daya saing produk nasional, baik di pasar domestik maupun ekspor," katanya dalam keterangan tertulis, dikutip Senin 29 Juni 2026. 

Meski demikian, Anindya menilai penurunan harga saja belum cukup. Menurutnya, kepastian pasokan gas dan keberlanjutan kebijakan juga menjadi faktor penting bagi dunia usaha dalam menyusun rencana investasi maupun ekspansi bisnis.

Ia menekankan perlunya kebijakan harga gas yang konsisten, transparan, dan memiliki kepastian jangka panjang agar pelaku industri dapat merencanakan usaha dengan lebih baik.

Kadin juga mendorong evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dengan melibatkan pelaku usaha. Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas penerima manfaat bagi sektor-sektor strategis sekaligus menghindari munculnya ketidakpastian baru.

Anindya menambahkan, apabila pemerintah turut menurunkan harga LNG, kebijakan tersebut akan menjadi solusi bagi industri yang belum memperoleh akses jaringan gas pipa atau masih menanggung biaya energi tinggi.

"Apabila pemerintah juga membuka ruang penurunan harga LNG, tentu hal itu dapat menjadi alternatif yang baik, terutama bagi industri yang selama ini belum memperoleh akses gas pipa atau masih menghadapi harga energi yang relatif tinggi," tegasnya.

Selain persoalan harga energi, dunia usaha juga berharap pemerintah mempercepat perbaikan sektor logistik, memberikan kepastian regulasi, menyederhanakan perizinan, serta mempercepat pembangunan infrastruktur energi agar manfaat kebijakan dapat dirasakan lebih optimal oleh sektor riil.

Senada, Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Anggawira, mengingatkan agar evaluasi harga gas tetap memperhatikan keberlanjutan sektor hulu migas.

"Harga yang terlalu rendah tanpa mekanisme kompensasi yang jelas berpotensi mengurangi insentif investasi pada kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan gas baru. Dalam jangka panjang, hal tersebut justru dapat mempersempit pasokan gas domestik," jelasnya.

Menurut Angga, keterbatasan pasokan gas nasional masih menjadi tantangan utama. Oleh sebab itu, apabila HGBT direvisi, sektor penerima manfaat perlu diprioritaskan berdasarkan nilai tambah industri, orientasi ekspor, dan besarnya penyerapan tenaga kerja.

"Di sinilah peran Kementerian Perindustrian menjadi sangat penting dalam menyusun prioritas alokasi gas agar manfaatnya benar-benar optimal," tegasnya.

Ia juga mengusulkan pemerintah membuka ruang yang lebih fleksibel bagi pemenuhan kebutuhan gas melalui skema impor LNG maupun gas secara government to government (G-to-G). Skema tersebut bukan untuk menggantikan produksi domestik, melainkan menjadi pelengkap ketika pasokan dalam negeri belum mencukupi kebutuhan industri.

Menurut Angga, pendekatan tersebut dapat memperkuat cadangan energi nasional sekaligus meningkatkan fleksibilitas sistem pasokan. Karena itu, kebijakan gas nasional sebaiknya tidak hanya berorientasi pada penurunan harga, tetapi juga menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen, industri pengguna, dan ketahanan energi nasional.

Populer

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

UPDATE

Babak Baru Perang Iran-AS: Apa yang Berbeda?

Selasa, 21 Juli 2026 | 04:40

Telkom AI Connect Dorong Lahirnya Talenta Digital yang Berguna bagi Industri

Selasa, 21 Juli 2026 | 04:20

Daftar Peraih Penghargaan Piala Dunia 2026, Kylian Mbappe Sabet Sepatu Emas

Selasa, 21 Juli 2026 | 04:11

Daftar 6 Negara yang Lolos ke Piala Dunia 2030, Tuan Rumah Otomatis Melaju ke Putaran Final

Selasa, 21 Juli 2026 | 04:00

Pakar Fisika Ulas Konsep Mimpi secara Ilmiah

Selasa, 21 Juli 2026 | 03:53

Film Hope Na Hong-jin Tembus 1 Juta Penonton dalam 3 Hari, Pecahkan Rekor Box Office Korea 2026

Selasa, 21 Juli 2026 | 03:53

Jangan Biarkan Indonesia Diceraiberaikan Perang Informasi

Selasa, 21 Juli 2026 | 03:33

Tantangan Kembali ke UUD 1945

Selasa, 21 Juli 2026 | 03:13

TNI-Polri Gagalkan Perdagangan Timah Ilegal Senilai Senilai Ratusan Juta

Selasa, 21 Juli 2026 | 02:55

Gibran Tak di Sebelah Prabowo

Selasa, 21 Juli 2026 | 02:40

Selengkapnya