Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Dunia

Serangan Iran ke Bahrain dan Kuwait Ancam Gagalkan Proses Damai

SENIN, 29 JUNI 2026 | 07:50 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Proses perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat kembali berada di ujung tanduk setelah Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke Bahrain serta Kuwait pada Minggu, 28 Juni 2026, waktu setempat.

Serangan ini dilakukan sebagai respons atas serangan udara terbaru Amerika Serikat ke wilayah Iran, sekaligus disertai ancaman bahwa Teheran akan menghentikan seluruh perundingan jika Washington terus melakukan aksi militer.

Ketegangan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa kesepakatan sementara yang baru disepakati kedua negara bisa gagal sebelum pembahasan teknis selesai. Dalam kesepakatan itu, Iran dan AS memiliki waktu 60 hari untuk merundingkan sejumlah isu penting, mulai dari pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade terhadap pelabuhan Iran dan sanksi ekonomi, hingga masa depan cadangan uranium yang diperkaya milik Iran.


Sementara itu, Pakistan selaku mediator menyatakan pembicaraan dijadwalkan berlanjut pada Selasa. Pemerintahan Presiden Donald Trump juga menegaskan bahwa seluruh agenda negosiasi masih berjalan sesuai rencana.

Di tengah upaya diplomasi tersebut, Iran memperingatkan agar tidak ada pihak yang mencoba mengatur lalu lintas di Selat Hormuz tanpa persetujuannya. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa langkah seperti itu hanya akan memperburuk situasi.

"Upaya apa pun untuk membuat pengaturan baru atau terpisah dari pengaturan yang saat ini dilakukan oleh Republik Islam Iran hanya akan menyebabkan komplikasi lebih lanjut, menunda pembukaan kembali Selat Hormuz, dan meningkatkan tingkat ketegangan," kata Abbas Araghchi.

Dalam beberapa hari terakhir, Iran dilaporkan telah dua kali menyerang kapal yang melintas di jalur tersebut, sementara badan maritim multinasional yang diawasi Angkatan Laut AS memperluas rute pelayaran di dekat Oman demi menjaga arus kapal dagang tetap berjalan.

Garda Revolusi Iran (IRGC) mengaku bertanggung jawab atas serangan ke Bahrain dan Kuwait. Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sejumlah drone dan dua rudal Iran sehingga tidak menimbulkan korban maupun kerusakan.

Di Bahrain, serangan Iran merusak sebuah bangunan permukiman di dekat bandara internasional. Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu. Bahrain, yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS, mengecam keras serangan tersebut.

Kementerian Luar Negeri Bahrain mengecam dan menyebut tindakan Iran sebagai "eskalasi berbahaya" yang menunjukkan pola agresi yang dilakukan secara sengaja dan berulang.

Sementara itu, Qatar melaporkan seorang warga sipil tewas dan satu lainnya terluka akibat serpihan ledakan yang berkaitan dengan operasi militer di kawasan tersebut.

Militer AS kemudian mengumumkan telah menyerang sejumlah fasilitas militer Iran, termasuk infrastruktur pengawasan, sistem komunikasi, pertahanan udara, gudang drone, dan kemampuan penebar ranjau. Serangan itu disebut sebagai balasan atas serangan Iran terhadap sebuah kapal tanker berbendera Panama yang mengangkut minyak milik perusahaan energi nasional Qatar.

Presiden AS Donald Trump juga menuduh Iran telah melanggar kesepakatan sementara dan memperingatkan bahwa Washington dapat mengambil tindakan militer yang lebih besar.

"Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!" tulis Trump melalui media sosialnya.

Meski situasi keamanan memburuk, badan maritim yang diawasi Angkatan Laut AS menyebut lalu lintas kapal di Selat Hormuz tetap berlangsung. Dalam 72 jam terakhir tercatat 89 pelayaran komersial yang dikawal AS, meski jumlah itu masih di bawah rata-rata historis sekitar 138 kapal per hari.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Perpres Pelindungan Ojol Jangan Berhenti di Atas Kertas

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:29

Awasi Ketat Penggunaan Anggaran Operasi Modifikasi Cuaca

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:16

Sakelar Cahaya di Dalam Otak

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:04

Kartu Nikah Digital Bisa Diakses melalui Simkah, Ini Caranya!

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:44

Nusron Wahid Bikin KPK Tidak Berkutik

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:24

Dulu di Depok Banyak Maling dan Begal, Sekarang Aman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:08

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Puluhan Korban Investasi Emas Polisikan Direksi PT DGJ

Minggu, 11 Oktober 2026 | 03:33

Tragedi Affan dan Bambang Jangan Terulang

Minggu, 11 Oktober 2026 | 03:14

Selengkapnya