Berita

Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW), Iskandar Sitorus. (Foto: Istimewa)

Politik

IAW Minta Prabowo Benahi Tata Kelola Rempang-Galang

Jangan Ulangi Kesalahan Lama
SENIN, 29 JUNI 2026 | 05:15 WIB | LAPORAN: ABDUL ROUF ADE SEGUN

Persoalan investasi di kawasan Rempang-Galang di Kepulauan Riau masih menyisakan pekerjaan rumah besar bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. 

Saat ini yang diwariskan bukan hanya proyek investasi berskala jumbo, tetapi juga persoalan tata kelola yang berpotensi menjadi preseden bagi proyek-proyek strategis nasional jika tidak segera dibenahi.

Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW), Iskandar Sitorus mengatakan, Rempang-Galang tidak bisa dipandang semata sebagai proyek investasi Xinyi Group ataupun pembangunan kawasan industri kaca dan panel surya. 


Menurutnya, kawasan tersebut menjadi gambaran bagaimana negara menghadapi tarik-menarik antara percepatan investasi dengan penyelesaian persoalan agraria, kepastian hukum, dan perlindungan masyarakat.

“Rempang adalah cermin bagaimana negara membangun investasi ketika persoalan tanah, masyarakat, tata ruang, dan legitimasi sosial belum sepenuhnya selesai,” kata Iskandar dalam keterangan yang diterima redaksi, Minggu 28 Juni 2026.

Ia menjelaskan, pada masa pemerintahan Presiden ke-7 Joko Widodo, Rempang Eco-City diposisikan sebagai bagian dari agenda investasi strategis nasional dengan menghadirkan Xinyi Group sebagai investor utama yang digadang-gadang membawa investasi ratusan triliun rupiah serta membuka puluhan ribu lapangan pekerjaan.

Dari sisi kebijakan ekonomi, langkah tersebut dinilai sah sebagai bagian dari strategi hilirisasi dan industrialisasi nasional. Namun, menurut Iskandar, keberhasilan investasi tidak hanya ditentukan besarnya komitmen modal, tetapi juga bergantung pada kesiapan fondasi hukum dan sosial.

“Investasi tidak boleh bergerak lebih cepat daripada kepastian hukum. Ketika persoalan agraria yang telah berlangsung bertahun-tahun belum terselesaikan, negara justru mempercepat agenda investasi. Di situlah akar persoalan mulai terlihat,” kata Iskandar.

Iskandar mengingatkan, jauh sebelum Rempang Eco-City diperkenalkan kepada publik, masyarakat yang tergabung dalam Himpunan Masyarakat Adat Pulau-pulau Rempang Galang (HIMAD PURELANG) telah memperjuangkan pengakuan hak atas tanah melalui jalur administrasi maupun hukum. Kondisi itu, menurutnya, menunjukkan pemerintah memasuki kawasan yang sejak awal telah menyimpan persoalan struktural.

“Persoalan itu seharusnya menjadi pekerjaan pertama negara. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Narasi investasi lebih dahulu dibangun, sementara penyelesaian masalah dasarnya masih berjalan,” kata Iskandar.

Menurut Iskandar, konflik sosial yang mencuat pada September 2023 tidak cukup dijelaskan hanya dengan persoalan komunikasi sebagaimana pernah disampaikan pemerintah saat itu. Ia menilai munculnya konflik menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar dalam proses perencanaan, koordinasi, hingga pengendalian kebijakan.

“Kalau proyek sebesar Rempang Eco-City dapat menimbulkan konflik hanya karena komunikasi, berarti ada persoalan yang lebih mendasar pada kualitas perencanaan, koordinasi, dan pengendalian kebijakan,” kata Iskandar.

Ia juga mengingatkan hasil investigasi Ombudsman RI yang menemukan adanya maladministrasi dalam pengembangan Rempang Eco-City. Temuan tersebut dinilai menjadi indikator bahwa tata kelola proyek memang memerlukan evaluasi secara menyeluruh.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

AMMN Cetak Laba Bersih Rp15,9 Triliun hingga September 2026

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:24

Hasto Ingatkan Kader PDIP Tak Boleh Takut Bela Rakyat

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:01

Kapolres Jakbar Obrak-abrik Kampung Boncos, Tiga Orang Dicokok

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:16

Respons Ijazah Gibran, PDIP: Tidak Ada Kebohongan yang Abadi

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:01

Fahira Idris Apresiasi Kepastian Ujian Ulang Siswa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:36

Prajurit Marinir Perbaiki Jembatan di Distrik Aradide

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:11

Diduga Terjerat Kasus Korupsi, AKBP Edy Songkel Dicopot

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:00

Prabowo Didorong Percepat Reformasi Energi Nasional

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:31

Komunitas Pengawas WNA Desak Dirjen Pajak Telaah Dumas PT BCI

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:14

Jogja Cultural Wellness Festival 2026 Usung Wisata Kebugaran

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:00

Selengkapnya