Berita

Waketum PKB, Faisol Riza. (Foto: Dok PKB)

Politik

Hadapi Kritik Mahasiswa

PKB Instruksikan Kader Buka Ruang Dialog soal Program Prioritas Prabowo

RABU, 17 JUNI 2026 | 17:20 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Gelombang demonstrasi mahasiswa yang menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) menjadi sinyal bahwa sosialisasi dua program strategis Presiden Prabowo Subianto belum optimal.

Menyikapi hal tersebut, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menilai kritik yang disampaikan mahasiswa perlu dijadikan bahan evaluasi bagi pemerintah dalam memperkuat sosialisasi program-program strategis nasional, khususnya di lingkungan kampus.

"PKB melihat kritik terhadap MBG dan KDMP sebagai pesan kepada pemerintah bahwa selama hampir 1,5 tahun ini program ketahanan pangan, pembangunan generasi unggul dan penguatan perekonomian rakyat belum tersampaikan secara merata kepada kalangan mahasiswa," kata Waketum PKB, Faisol Riza, lewat keterangan persnya, Rabu, 17 Juni 2026.


Faisol menjelaskan, program MBG dan KDMP merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperkuat ketahanan nasional di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks. Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan bahwa prioritas utama pemerintah saat ini adalah memastikan ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Karena itu, berbagai program yang dijalankan pemerintah tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia. Salah satunya melalui program MBG yang dirancang untuk mendukung tumbuh kembang anak sekaligus mencetak generasi unggul Indonesia di masa depan.

"Mahasiswa merupakan kelompok intelektual yang memiliki peran krusial dalam mengawal jalannya demokrasi. PKB percaya bahwa kita semua termasuk teman-teman mahasiswa dapat memahami substansi program pemerintah ini adalah kebutuhan kita bersama saat ini," tambah Faisol Riza yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Perindustrian Kabknet Merah Putih.

Walaupun demikian, partai berlambang bola dunia itu tidak menutup mata dengan berbagai laporan terjadinya penyimpangan dan pelanggaran hukum terkait pelaksanaan program-program pemerintah tersebut. 

"Dari sisi tata kelola dan teknokrasinya tentu membutuhkan banyak sekali pembenahan dan penyempurnaan. Ditahannya pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) beberapa waktu yang lalu, membuktikan pemerintah tidak menutup mata atas pelanggaran hukum. Kami terus mengawasi dan mengawalnya hingga semua dapat dilaksanakan transparan sesuai aturan hukum," jelasnya.

Sebagai tindak lanjut, DPP PKB meminta seluruh DPC dan DPW di daerah untuk aktif berdialog dengan mahasiswa di kampus-kampus setempat. Dialog tersebut diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus sarana menjelaskan tujuan dan manfaat program-program pemerintah kepada kalangan akademik.

"Sebagai bagian dari koalisi pemerintahan, PKB wajib menjelaskan secara substansial program-program prioritas Presiden Prabowo," tukas Waketum PKB ini.

Diskusi-diskusi produktif ini, lanjutnya, penting untuk membangun kesamaan pandangan akan situasi yang dihadapi bangsa Indonesia baik di luar negeri maupun di dalam negeri dan sekaligus memahami langkah-langkah yang bisa dilakukan bersama antara pemerintah dan kelompok-kelompok masyarakat untuk mengatasi berbagai hambatan. 

"Laksanakan diskusi secara terbuka untuk mendengar saran-saran perbaikan dan penyempurnaan berbagai program prioritas tersebut. Kami yakin, Gen Z yang sekarang banyak menjadi mahasiswa memiliki pandangan-pandangan konstruktif yang bisa membantu pemerintah menyempurnakan pelaksanaan program-program tersebut," tambah Faisol Riza.

Di akhir keterangannya, Faisol mengingatkan bahwa perbedaan pandangan dalam demokrasi merupakan hal yang wajar dan harus dihormati. Namun, ia menekankan pentingnya menjaga persatuan nasional agar bangsa Indonesia mampu menghadapi berbagai tantangan yang akan terus muncul di masa mendatang.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya