TIDAK banyak negara yang memiliki hubungan sedemikian erat dengan sepakbola seperti Argentina.
Di negeri itu, sepakbola bukan sekadar olahraga atau hiburan akhir pekan. Ia telah menjadi bagian dari identitas nasional yang menyatu dengan kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakatnya.
Bagi rakyat Argentina, sepakbola bukan hanya soal menang atau kalah di lapangan, melainkan juga tentang harga diri, solidaritas, dan harapan.
Karena itulah, memahami Argentina tidak cukup hanya dengan melihat prestasi tim nasionalnya atau deretan pemain bintangnya.
Untuk memahami negeri itu secara utuh, kita perlu melihat bagaimana sepakbola tumbuh bersama perjalanan rakyatnya, terutama dalam menghadapi berbagai krisis, ketidakadilan, dan pergolakan sejarah.
Sejarah sepakbola Argentina sesungguhnya dimulai dari luar negeri.
Permainan ini masuk ke Argentina pada akhir abad ke-19 melalui para pekerja, pedagang, dan komunitas Inggris yang memiliki pengaruh besar dalam pembangunan jalur kereta api serta aktivitas perdagangan.
Namun perjalanan sepakbola di Argentina berkembang berbeda dibandingkan banyak negara lain.
Jika di sejumlah negara sepakbola sempat menjadi olahraga yang identik dengan kalangan elite, masyarakat Argentina justru berhasil mengambil alih permainan tersebut dan menjadikannya bagian dari kehidupan rakyat sehari-hari.
Seiring berkembangnya urbanisasi dan industrialisasi, klub-klub sepakbola tumbuh di kawasan buruh, lingkungan pekerja, dan komunitas imigran yang memenuhi kota-kota besar seperti Buenos Aires, Rosario, dan Córdoba.
Stadion kemudian berkembang bukan hanya sebagai arena olahraga, melainkan juga ruang sosial tempat masyarakat membangun rasa kebersamaan dan solidaritas.
Dari sinilah sepakbola berkembang menjadi milik rakyat, bukan sekadar milik klub atau negara.
Karena tumbuh dari lingkungan rakyat, sepakbola Argentina sejak awal memiliki karakter yang populis.
Klub-klub besar yang dikenal dunia saat ini pada dasarnya lahir dari komunitas-komunitas lokal yang memiliki ikatan sosial yang kuat dengan para pendukungnya.
Hubungan antara klub dan masyarakat tidak sekadar hubungan antara penonton dan tim, tetapi juga hubungan emosional yang menjadi bagian dari identitas kolektif sebuah komunitas.
Karakter populis sepakbola Argentina semakin menguat ketika bertemu dengan lahirnya Peronisme pada era Presiden Juan Domingo Perón.
Gerakan politik yang dipimpin Perón mengusung gagasan keadilan sosial, kedaulatan nasional, dan perlindungan terhadap kaum pekerja.
Basis sosial Peronisme berasal dari kelompok masyarakat yang sama dengan basis pendukung sepakbola, yaitu kaum buruh, kelas pekerja, dan masyarakat perkotaan.
Tidak mengherankan jika banyak pengamat melihat adanya hubungan yang erat antara budaya sepakbola Argentina dan tradisi politik Peronisme.
Keduanya tumbuh dari ruang sosial yang sama dan sama-sama berbicara tentang identitas rakyat kebanyakan.
Dari sinilah sepakbola tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari cara rakyat Argentina memahami dirinya sebagai sebuah bangsa.
Kedekatan antara sepakbola dan rakyat Argentina tidak hanya tercermin dari besarnya dukungan terhadap tim atau klub tertentu.
Hubungan itu juga terbangun melalui peran sosial yang dijalankan oleh klub-klub sepakbola dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Berbeda dengan banyak negara yang menempatkan klub sepakbola semata sebagai organisasi olahraga profesional, klub-klub di Argentina sejak lama berkembang sebagai pusat aktivitas komunitas.
Banyak klub tidak hanya mengelola tim sepakbola, tetapi juga menyelenggarakan kegiatan pendidikan, seni, kebudayaan, olahraga amatir, hingga berbagai kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat sekitar.
Dalam perkembangannya, sejumlah klub bahkan memiliki hubungan historis yang kuat dengan organisasi buruh, gerakan sosial, dan berbagai kelompok masyarakat yang memperjuangkan kepentingan rakyat.
Karena itu, klub sepakbola di Argentina sering kali lebih menyerupai institusi sosial daripada sekadar badan usaha olahraga.
Bagi banyak warga Argentina, klub sepakbola adalah "rumah rakyat". Di tempat itulah masyarakat membangun jaringan sosial, memperkuat solidaritas, dan menjaga rasa kebersamaan.
Ketika negara gagal memenuhi kebutuhan masyarakat atau ketika ruang politik formal mengalami pembatasan, klub dan komunitas suporternya kerap menjadi ruang alternatif untuk menjaga ikatan sosial tersebut.
Peran sosial inilah yang membuat sepakbola memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam kehidupan masyarakat Argentina.
Klub bukan hanya tempat mendukung sebuah tim, melainkan juga ruang tempat identitas kolektif dibangun dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa sepakbola di Argentina hampir selalu memiliki dimensi politik yang kuat.
Perdebatan mengenai pengelolaan klub, hak anggota, kebijakan olahraga, hingga hubungan antara negara dan sepakbola sering kali berkembang menjadi perdebatan yang lebih luas mengenai demokrasi, keadilan sosial, dan posisi rakyat dalam kehidupan berbangsa.
Karena itu ketika rezim politik berusaha memanfaatkan sepakbola untuk kepentingannya sendiri, yang dipertaruhkan bukan hanya sebuah olahraga. Yang dipertaruhkan adalah ruang sosial yang selama puluhan tahun telah menjadi bagian dari kehidupan rakyat Argentina.
Sejak saat itu, sepakbola bukan lagi sekadar pertandingan yang berlangsung selama sembilan puluh menit.
Ia telah menjelma menjadi arena sosial tempat berbagai gagasan tentang kebangsaan, keadilan, dan identitas rakyat dipertarungkan.
Karena itu, sejarah sepakbola Argentina tidak pernah benar-benar terpisah dari sejarah politik dan perjuangan sosial masyarakatnya.
Hubungan antara sepakbola dan perlawanan rakyat semakin terlihat jelas pada masa pemerintahan militer yang berkuasa di Argentina antara tahun 1976 hingga 1983.
Rezim yang saat itu dipimpin oleh junta militer menghadapi kritik luas akibat berbagai pelanggaran hak asasi manusia, termasuk praktik penangkapan, penyiksaan, dan penghilangan paksa terhadap ribuan warga yang dianggap sebagai lawan politik.
Dalam situasi tersebut, sepakbola dipandang sebagai instrumen yang dapat digunakan untuk membangun legitimasi kekuasaan.
Puncaknya terjadi ketika Argentina menjadi tuan rumah sekaligus menjuarai Piala Dunia 1978.
Bagi pemerintah militer, keberhasilan tersebut diharapkan mampu membangun citra positif di mata dunia dan mengalihkan perhatian publik dari berbagai pelanggaran yang sedang berlangsung.
Namun kenyataan yang terjadi tidak sesederhana itu. Di balik euforia kemenangan dan pesta nasional yang menyelimuti Argentina, berbagai kelompok masyarakat sipil, keluarga korban penghilangan paksa, serta jaringan solidaritas internasional justru memanfaatkan momentum Piala Dunia untuk mengungkap berbagai kejahatan yang dilakukan rezim militer.
Sorotan media internasional yang datang untuk meliput turnamen secara tidak langsung membuka ruang bagi dunia untuk melihat sisi lain dari Argentina yang berusaha disembunyikan oleh penguasa.
Sikap masyarakat pun tidak seragam. Sebagian menikmati keberhasilan tim nasional sebagai kebanggaan bangsa, sebagian memilih bersikap apatis terhadap propaganda politik yang dibangun pemerintah, sementara sebagian lainnya tetap menyimpan dan menyuarakan kritik terhadap rezim dalam berbagai bentuk yang sering kali tidak terlihat di permukaan.
Bahkan di lingkungan sepakbola sendiri terdapat ruang-ruang kecil tempat memori tentang ketidakadilan tetap hidup di tengah tekanan kekuasaan.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa stadion tidak pernah sepenuhnya dapat dikuasai oleh negara.
Pemerintah mungkin mampu mengatur pertandingan, mengendalikan siaran, atau membangun narasi kemenangan. Namun mereka tidak pernah sepenuhnya mampu mengendalikan cara rakyat memaknai kemenangan itu sendiri.
Di Argentina, sepakbola boleh digunakan sebagai alat propaganda, tetapi pada saat yang sama ia juga menjadi ruang tempat rakyat mempertahankan ingatan, identitas, dan harapan mereka.
Dari rahim sejarah seperti itulah lahir sosok Diego Maradona. Bagi banyak orang, Maradona adalah pemain sepakbola terbesar yang pernah dimiliki Argentina.
Namun bagi rakyat Argentina, ia lebih dari sekadar atlet. Maradona adalah simbol keberanian, perlawanan, dan keyakinan bahwa mereka yang dianggap kecil tetap mampu menantang kekuatan besar.
Tidak mengherankan jika dua gol legendarisnya ke gawang Inggris pada Piala Dunia 1986 memiliki makna yang jauh melampaui sepakbola.
Bagi sebagian besar rakyat Argentina, pertandingan itu bukan hanya soal memperebutkan tiket ke babak berikutnya.
Laga tersebut juga dipandang sebagai momentum untuk memulihkan harga diri bangsa yang masih menyimpan luka akibat kekalahan dalam Perang Malvinas tahun 1982.
Dalam konteks itulah Maradona menjelma menjadi simbol nasional. Ia bukan sekadar mencetak gol, tetapi menghadirkan keyakinan bahwa sebuah bangsa tidak harus tunduk hanya karena berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar.
Sepakbola menjadi medium yang mempertemukan kebanggaan nasional dengan semangat perlawanan rakyat.
Maradona pada akhirnya bukan hanya milik dunia sepakbola. Ia menjadi representasi dari karakter rakyat Argentina yang keras kepala, emosional, penuh gairah, dan tidak mudah menyerah ketika berhadapan dengan kekuatan yang dianggap lebih besar.
Melalui dirinya, rakyat Argentina menemukan simbol yang mampu menerjemahkan perasaan kolektif mereka ke dalam bahasa yang dapat dipahami oleh dunia.
Menariknya, semangat perlawanan yang melekat pada sepakbola Argentina tidak berhenti bersama berakhirnya era Maradona. Semangat itu terus hidup, meskipun tampil dalam bentuk yang berbeda.
Jika Maradona dikenal dengan karakter yang penuh ledakan emosi dan keberanian menantang siapa pun, Lionel Messi hadir dengan pendekatan yang jauh lebih tenang.
Ia tidak dikenal sebagai sosok yang gemar berpidato atau terlibat dalam kontroversi politik.
Namun perjalanan panjangnya bersama tim nasional Argentina justru menunjukkan bentuk perlawanan yang lain: keteguhan untuk tidak menyerah.
Selama bertahun-tahun Messi menghadapi kritik, kegagalan, dan tekanan yang luar biasa besar.
Banyak yang meragukan kemampuannya membawa Argentina meraih gelar internasional. Namun ia tetap bertahan.
Ketika akhirnya Argentina menjuarai Piala Dunia 2022, yang dirayakan rakyat bukan hanya kemenangan sebuah tim sepakbola.
Yang dirayakan adalah kemenangan atas keraguan, pesimisme, dan berbagai keterbatasan yang selama ini membayangi bangsa mereka.
Dari Maradona hingga Messi, sepakbola Argentina selalu menghadirkan cerita yang lebih besar daripada sekadar olahraga.
Di dalamnya terdapat kisah tentang identitas nasional, kebanggaan kolektif, dan daya tahan rakyat dalam menghadapi berbagai tantangan sejarah.
Pada akhirnya, sepakbola di Argentina bukan sekadar soal siapa yang mencetak gol atau siapa yang menjadi juara.
Sepakbola adalah bahasa yang digunakan rakyat untuk merawat harga diri, membangun solidaritas, dan mempertahankan keyakinan bahwa mereka tidak akan pernah menyerah pada keadaan.
Di banyak negara, sepakbola melahirkan pahlawan. Di Argentina, sepakbola tidak hanya melahirkan pahlawan, tetapi juga merekam sejarah panjang perlawanan rakyatnya.
*Pemain bola kampung