Berita

Wapres Gibran Rakabuming saat menerima dan berdialog langsung dengan 15 perwakilan mahasiswa di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin malam, 15 Juni 2026. (Foto: Setwapres)

Publika

Membaca Manuver Gibran Terima Mahasiswa Pendemo

RABU, 17 JUNI 2026 | 00:23 WIB

KALIAN pasti membaca berita, Wapres Gibran Rakabuming Raka menerima perwakilan mahasiswa di tengah aksi demo. 

Di tempat lain, tiga pembantu Presiden Prabowo Subianto malah diusir mahasiswa di Yogyakarta. Sementara Prabowo belum ada statement. Ada berspekulasi, Gibran sedang bermanuver untuk 2029. 

Senin 15 Juni 2026. Saat ribuan mahasiswa turun ke kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, membawa berbagai tuntutan terhadap pemerintah, Gibran Rakabuming Raka justru melakukan langkah yang tidak dilakukan banyak pejabat ketika sedang didemo, membuka pintu rumahnya.


Sekitar 15 perwakilan mahasiswa dari Universitas Bung Karno, Universitas MH Thamrin, dan Universitas Terbuka diajak berdialog langsung. 

Mereka berjalan kaki dari lokasi aksi menuju kediaman wakil presiden. Pertemuan berlangsung lebih dari satu jam. 

Gibran mendengarkan tuntutan mereka, mencatat poin-poin yang disampaikan dengan tangannya sendiri, lalu berjanji akan meneruskannya kepada Presiden Prabowo Subianto.

Mahasiswa memberikan tenggat waktu 5x24 jam agar tuntutan tersebut mendapat respons. Secara resmi, ini adalah dialog. Secara politik, ini jauh lebih menarik dari dialog. Karena pada waktu yang hampir bersamaan, publik juga melihat pemandangan sangat kontras.

Di Yogyakarta, tiga menteri Prabowo yakni Nusron Wahid, Sudaryono, dan Budiman Sudjatmiko justru diteriaki, digeruduk, bahkan kegiatannya dibubarkan mahasiswa UGM. Sementara Prabowo sendiri tidak turun menemui demonstran.

Nah, di sinilah mesin konspirasi rakyat Indonesia mulai menyala seperti genset saat listrik padam. 

Coba perhatikan gambarnya. Di satu sisi ada menteri-menteri yang sedang menghadapi kemarahan mahasiswa. Di sisi lain ada seorang wapres duduk santai menerima mahasiswa, mendengarkan aspirasi mereka, mencatat tuntutan mereka, lalu tersenyum ramah.

Kalau ini pertandingan sepak bola, Gibran seperti pemain yang masuk pada menit ke-85 ketika tim sedang tertinggal, lalu langsung mencetak gol dan dipuji seluruh komentator.

Pertanyaannya, apakah ini spontan? Ataukah ini bagian dari koreografi politik sudah dihitung sangat matang?

Pengamat politik menyebut langkah Gibran sebagai soft approach, damage control, dan upaya meredam eskalasi. 

Fernando Emas dan sejumlah analis menilai langkah tersebut efektif karena menunjukkan pemerintah masih membuka ruang komunikasi. 

Tetapi kalau kita memakai kacamata konspirasi level warung kopi, ceritanya menjadi jauh lebih seru.

Nuan bayangkan posisi Gibran saat ini. Di tengah kritik terhadap Program MBG, yang merupakan program unggulan pemerintahan Prabowo, justru ia menerima mahasiswa yang salah satu tuntutannya adalah evaluasi penghentian sementara program tersebut.

Secara formal, Gibran tidak menentang pemerintah. Ia tidak membela mahasiswa secara terbuka. Ia tidak mengkritik Prabowo. Tetapi ia juga tidak menolak mereka. Inilah seni politik lebih licin dari belut mandi oli.

Semua pihak merasa dihargai. Mahasiswa merasa didengar. Pemerintah tidak merasa diserang. Media mendapat berita. Netizen mendapat bahan debat seminggu penuh. Yang paling diuntungkan adalah citra politik.

Di tengah suasana ekonomi yang masih dikeluhkan sebagian masyarakat, harga BBM yang terus menjadi bahan obrolan, serta tekanan terhadap daya beli masyarakat, Gibran berhasil menampilkan dirinya sebagai sosok yang mau mendengar langsung keluhan publik.

Ini bukan hal kecil. Dalam politik modern, citra "pemimpin yang mendengar" sering kali lebih mahal dari seratus baliho ukuran raksasa.

Karena itu muncul teori yang mulai beredar di kalangan pengamat dan netizen,  jangan-jangan ini bukan sekadar menerima mahasiswa. Jangan-jangan ini adalah investasi politik jangka panjang.

Sebab jika Prabowo terus membangun citra sebagai pemimpin tegas yang fokus bekerja, sementara Gibran membangun citra sebagai pemimpin dekat dengan generasi muda dan terbuka terhadap kritik, maka keduanya sedang memainkan peran yang berbeda dalam panggung yang sama.

Yang satu menjadi komandan. Yang satu menjadi pendengar. Yang satu menjaga wibawa. Yang satu memanen simpati. Apakah ini persiapan menuju Pilpres 2029? Tentu belum ada bukti. Tentu semua masih spekulasi.

Tetapi politik Indonesia mengajarkan satu hal penting, tidak ada politisi yang mau menyia-nyiakan momentum sebesar ini. Apalagi ketika ribuan mahasiswa sedang marah, tiga menteri sedang diteriaki, Presiden memilih menjaga jarak, dan hanya satu orang yang muncul membawa buku catatan.

Kadang-kadang sejarah politik tidak dimulai dari pidato besar. Kadang ia dimulai dari seseorang terlihat sedang mencatat. Padahal mungkin sedang dicatat bukan hanya tuntutan mahasiswa. Tetapi juga peluang politik masa depan.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Hari Bakti, Lapas Cianjur Gelar Aksi Bersih-Bersih melalui Imipas Peduli

Jumat, 06 November 2026 | 22:35

Kejagung Sita Rp11,7 Miliar dalam Kasus Nikel Arif Kurniawan

Jumat, 06 November 2026 | 22:31

Kapolri Banjir Dukungan Bongkar Kasus Penyadapan

Jumat, 06 November 2026 | 22:21

Bank Mandiri Bukukan Laba Bank Only Rp46,5 Triliun

Jumat, 06 November 2026 | 22:19

Aturan Berubah, Ekspor ke Jepang hingga Uni Eropa Masuk Daftar Relaksasi

Jumat, 06 November 2026 | 22:06

11 Kreator Indonesia Siap Bersaing di TikTok Awards Southeast Asia 2026

Jumat, 06 November 2026 | 21:48

Singgung Jokowi-Gibran, Penyadapan Prabowo Diduga Bermuatan Politik

Jumat, 06 November 2026 | 21:39

Pegasus di Indonesia: Sekadar Mitos atau Ancaman Nyata?

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

MedcoEnergi Umumkan Penerbitan Obligasi Senilai 300 Juta Dolar AS

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

Ketika Listrik Membuka Peluang: Dari Rumah Tangga hingga Ekonomi Desa

Jumat, 06 November 2026 | 21:03

Selengkapnya