Berita

Siswi di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sifra Takain. (Foto: Humas Kemsos)

Nusantara

Sifra Kejar Cita-cita di Sekolah Rakyat Demi Bantu Orang Tua Disabilitas

SENIN, 15 JUNI 2026 | 17:19 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Sifra Takain, seorang siswi di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang lahir dari orangtua disabilitas, tak patah semangat mengejar masa depannya.

Sifra, sapaan akrabnya dilahirkan seorang ibu bernama Maskrim Takain (39) dan seorang bapak bernama Tap1ui Aksamina Lobang (40).

Dia tinggal di Desa Oeltua, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, bersama orangtuanya yang mengalami kebutaan atau tunanetra.


Kondisi itu dialami oleh orangtuanya sejak Sifra lahir 13 tahun lalu. 

Dia bercerita, ayah dan ibunya sebenarnya terlahir dengan fisik yang normal tanpa kekurangan apapun. Namun, saat kecil, Maskrim, sang ayah menderita suatu penyakit yang menggerogoti tubuhnya hingga menyebabkan kebutaan. Tetapi, ia juga tidak tahu pasti nama penyakit tersebut.

"Organ dalamnya luka, tapi tidak tahu penyebabnya sampai luar badan juga luka. Terakhir sampai merambat di mata, jadinya buta. Kalau penyebab mama buta, saya kurang tahu," kata Sifra dalan keterangan tertulis Humas Kementerian Sosial (Kemensos), dikutip redaksi pada Senin, 15 Juni 2026.

Maskrim sempat dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, upaya itu terlambat dilakukan karena penyakitnya sudah kronis.  

"Dokter bilang sudah terlanjur parah dari dalam, jadi sudah terlambat. Dikasih obat, tapi tidak bisa (menyembuhkan)," ungkap Sifra.

Keadaan ini membuat kedua orangtuanya cukup kesulitan mendapatkan pekerjaan. Keluarga Sifra pun setiap hari hanya mampu beraktivitas membersihkan rumah opa dan omanya yang berada di satu desa.

Orangtua Sifra mencuci, menyapu, hingga menimba air dari sumur. Keduanya juga turut membantu menjaga kios sembako milik opa dan omanya.

Dari seluruh pekerjaan itu, Soleman Takain, opa Sifra memberikan upah dalam bentuk uang maupun beras dan sembako lainnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. 

"Sehari-hari dapat uang dari opa. Kalau tidak dari opa, terima (bantuan) dari PKH (Program Keluarga Harapan)," ujar Sifra.

Selain mengandalkan bantuan pemerintah dan keluarga, orang tua Sifra juga membuka usaha pijat refleksi di rumahnya. Penghasilan dari pijat tunanetra tidak menentu. Bahkan, terkadang jasa mereka tidak dibayar oleh pelanggan. Padahal Maskrim dan Aksamina tidak menetapkan nominal tarif maupun durasi pijat.

"Kadang ada yang bayar Rp50 ribu, kadang juga ada yang tidak bayar," jelas Sifra.

Kondisi fisik kedua orangtuanya menjadi motivasi Sifra untuk bercita-cita menjadi seorang dokter. Ia ingin kelak dapat membantu banyak orang sakit dalam mendapatkan penanganan medis.

"Mau jadi dokter supaya bisa merawat orang yang sakit," ucap Sifra dengan penuh harap dan senyum yang merekah.

Kini, Sifra sedang mengejar mimpinya di SRMP 19 Kupang. Di sekolah berkonsep asrama ini, dia dapat menimba ilmu dengan tenang dan nyaman tanpa perlu mengkhawatirkan biaya. 

Di sekolah tersebut, seluruh kebutuhan para siswa juga ditanggung oleh negara. Mulai dari seragam, sepatu, tas, makanan, hingga perlengkapan sekolah lainnya.

Berbagai fasilitas dengan kualitas yang mumpuni juga disediakan di Sekolah Rakyat, seperti perpustakaan, laboratorium sains, laboratorium komputer, lapangan olahraga, serta tempat ibadah.

Sifra mengaku senang bisa bersekolah di SRMP 19 Kupang karena bisa mempelajari banyak hal baru, salah satunya mata pelajaran coding. Anak sulung dari tiga bersaudara ini juga aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Mulai dari taekwondo, Pramuka, futsal, jurnalistik, hingga paduan suara.

"Terima kasih Bapak Presiden (Presiden Prabowo Subianto) karena sudah membuka Sekolah Rakyat bagi kami keluarga yang tidak mampu," tutupnya.


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Hari Buruh, Wall Street Libur

Selasa, 08 September 2026 | 08:29

Krakatau Steel Rombak Direksi, Segini Pendapatan KRAS Semester I-2026

Selasa, 08 September 2026 | 08:15

Konflik Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dekati 100 Dolar AS

Selasa, 08 September 2026 | 07:57

OJK Wajibkan Free Float 15 Persen, Tegaskan Transparansi Tanpa Kompromi

Selasa, 08 September 2026 | 07:40

Saat Batu Bara Tertekan, UNTR Makin Mesra dengan Emas

Selasa, 08 September 2026 | 07:21

Anak Krakatau Erupsi, Kursi Bos Krakatau Steel Berganti

Selasa, 08 September 2026 | 07:01

Nellava Group dan Emas Now Pilih Jalur Hukum Hadapi Serangan di Ruang Digital

Selasa, 08 September 2026 | 06:50

Pemerintah Dituntut Siapkan Anggaran dan Kesiapsiagaan Logistik terkait Bencana

Selasa, 08 September 2026 | 06:09

Kewajiban Moral Lindungi Rakyat dari Manipulasi Harga dan Mutu Beras

Selasa, 08 September 2026 | 05:44

Empat Pejabat Kejagung Diduga Terima Rp40 Miliar dari Tan Kian, Ini Tanggapan Kapuspenkum

Selasa, 08 September 2026 | 05:27

Selengkapnya