Berita

Pemilik Blueray Cargo, John Field (Foto:RMOL/Abdul Rouf Ade Segun)

Publika

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

SENIN, 15 JUNI 2026 | 06:23 WIB

KALAU kalian mengikuti sidang bos PT Blueray Cargo, luar biasa memuakkan praktik suap di Bea Cukai. 

Yang disuap itu para petinggi yang nanti bisa tersentuh atau hanya habis di persidangan. Negeri ini sudah semakin parah, wajar bila mahasiswa terus demo. 

Jumat lalu di Pengadilan Tipikor Jakarta, John Field, bos PT Blueray Cargo, akhirnya mengakui kesalahannya. 


"Ya, saya bersalah, Yang Mulia." Kalimat pendek. Tiga detik selesai. Tetapi nilai di belakangnya mencapai sekitar Rp91 miliar. 

Itu bukan angka. Itu sudah setara benda mistis bagi sebagian rakyat yang setiap akhir bulan berdebat dengan saldo rekening sambil berharap ada transfer dari alam gaib.

Yang membuat publik geleng-geleng kepala adalah bagian curhatnya. John mengaku sudah mengeluarkan uang dalam jumlah sangat besar tetapi tetap masuk penjara. 

Kalimat itu terdengar seperti perampok bank protes karena setelah membeli topeng mahal dan mobil cepat, ternyata polisi masih datang menangkapnya. 

Seolah tragedi terbesar dalam hidupnya bukan dugaan korupsinya, melainkan buruknya tingkat pengembalian investasi.

Menurut dakwaan, sekitar Rp63,1 miliar mengalir ke sejumlah oknum Bea Cukai. Angka yang cukup untuk membuat rakyat biasa menatap tembok selama tiga jam tanpa berkedip. 

Belum cukup sampai di situ. Ada pula sekitar Rp30 miliar yang disebut diberikan kepada Ahmad Dedi yang kemudian dikabarkan melarikan diri. 

Kalau benar demikian, ini bukan lagi cerita kucing-kucingan. Ini sudah seperti lomba lari estafet sambil membawa koper berisi reputasi yang hancur.

Nominalnya disebut mencapai Rp5 miliar per bulan. Per bulan. Sebagian rakyat menghitung diskon mi instan di minimarket. Sebagian lainnya diduga bermain di liga yang berbeda sama sekali. 

Liga tempat angka miliaran rupiah berpindah tangan dengan santainya seperti orang meminjam korek api.

Nama-nama yang muncul juga bukan sedikit. Djaka Budhi Utama disebut menerima Rp3 miliar. Rizal Rp2 miliar. Sisprian Rp1 miliar. Ada pula kode BC1, BC2, dan BC3. 

Kedengarannya seperti nama robot tempur produksi masa depan. Padahal isinya dugaan pembagian uang yang membuat rakyat ingin mengecek ulang apakah mereka masih hidup di dunia nyata atau sedang terjebak dalam serial satir politik tanpa episode terakhir.

Penyerahan uang disebut berlangsung di berbagai tempat. Ada di mal. Ada di kantor Kemenkopolkam. Rasanya seperti tur konser nasional. 

Bedanya, bukan penyanyi yang keliling kota, melainkan amplop yang sedang menjalani perjalanan spiritual menuju tujuan akhir.

Kisahnya lalu menjalar ke BPOM dan Kemendag. Nama Deputi Tubagus, Direktur Partomo, Aldison, Ronald, Rangga, dan Michael ikut disebut menerima aliran dana dari Andreas Budi Santoso. 

Bukan sekali. Dakwaan menyebut praktik itu berlangsung berulang kali sepanjang 2025. Berulang kali. Kalimat yang seharusnya membuat alarm moral berbunyi sampai baterainya habis.

Sementara itu, rakyat tetap sibuk dengan rutinitas harian yang tidak pernah mengenal angka miliaran. 

Bayar pajak. Bayar listrik. Bayar sekolah anak. Bayar cicilan. Bayar biaya hidup yang makin lihai bermain petak umpet dengan penghasilan. 

Mereka berusaha hidup lurus di lintasan yang berkelok, sementara sebagian orang diduga justru menjadikan tikungan sebagai jalan utama.

Lalu datanglah babak penyesalan. Dedy dan Andri, anak buah John, juga mengaku menyesal dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya. Tentu semua orang berhak menyesal. 

Namun publik juga berhak bertanya, apakah penyesalan itu lahir karena hati nurani bangun, atau karena pintu sel mulai terlihat dari kejauhan?

Kasus ini bukan cuma soal uang. Ini soal kepercayaan publik yang dicincang sedikit demi sedikit sampai bentuknya sulit dikenali. Korupsi tidak sekadar menguras kas negara. 

Ia menggerogoti keadilan, menghancurkan persaingan yang sehat, dan membuat rakyat merasa sedang menonton Australia yang mengalahkan Turki 2-0 yang wasitnya ikut mencetak gol. 

Karena itu, dibutuhkan bukan sekadar vonis. Yang dibutuhkan adalah keberanian membongkar semuanya sampai ke akar. 

Sebab jika akar busuk dibiarkan hidup, pohon yang tumbuh akan selalu menghasilkan buah yang sama. 

Rakus, licin, dan memalukan. Rakyat sudah terlalu lama dipaksa menjadi penonton sirkus ini tanpa pernah mendapat bagian dari tiketnya.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Jamaika Nilai Otonomi Sahara Maroko Solusi Paling Layak Ditempuh

Jumat, 25 September 2026 | 10:16

Dibayangi Ketidakpastian Global, Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Jumat, 25 September 2026 | 10:15

Wacana Pileg dan Pilpres Dipisah, Pengamat Ingatkan Konsekuensi Konstitusional

Jumat, 25 September 2026 | 10:06

KPK Telusuri Aset TPPU Milik Walikota Madiun Maidi, Periksa Sejumlah Saksi

Jumat, 25 September 2026 | 09:58

Syahganda Nazar Gunduli Kepala dan Umrah Jika Gibran Didiskualifikasi MK

Jumat, 25 September 2026 | 09:50

Impor Produk Halal Capai 31 Miliar Dolar AS, Indonesia Kejar Pasar Global

Jumat, 25 September 2026 | 09:48

IHSG Kembali Menguat, Tembus Level 6.300

Jumat, 25 September 2026 | 09:34

Gibran Masih Bocil, Lebih Cocok Jadi Camat Ketimbang Wakil Presiden

Jumat, 25 September 2026 | 09:30

Prabowo Bangga Indonesia Raih Emas Pertama di Asian Games 2026

Jumat, 25 September 2026 | 09:28

Bertemu Trump, Xi Jinping Ingatkan Bahaya Jebakan Thucydides

Jumat, 25 September 2026 | 09:00

Selengkapnya