Berita

Antrean di salah satu SPBU. (Foto: RMOL)

Politik

Kenaikan Pertamax Bikin Dompet Kelas Menengah Jebol

KAMIS, 11 JUNI 2026 | 14:37 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dinilai tidak hanya berdampak pada biaya transportasi masyarakat, tetapi juga berpotensi menggerus daya beli kelas menengah yang selama ini menjadi penopang utama konsumsi rumah tangga nasional.

Pengamat ekonomi Dipo Satria Ramli menilai, meski pemerintah menyebut kenaikan harga BBM nonsubsidi tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap inflasi, persoalan utama justru berada pada kondisi keuangan masyarakat.

"Harga Pertamax resmi meroket naik 30 persen lebih. Katanya aman-aman saja, tapi yang aman itu APBN negara, bukan dompet masyarakat," kata Dipo dalam keterangannya, Kamis, 11 Juni 2026.


Menurutnya, kelompok yang paling terdampak adalah masyarakat kelas menengah yang berada dalam posisi serba sulit. Mereka tidak memenuhi syarat untuk menerima bantuan sosial, namun juga harus menanggung kenaikan harga BBM nonsubsidi.

"Posisi paling serba salah memang jadi kelas menengah di Indonesia. Mau dapat bansos dianggap terlalu kaya, tapi disuruh beli BBM nonsubsidi malah dinaikkan harganya," ujarnya.

Dipo mengakui bahwa secara makroekonomi dampak kenaikan harga Pertamax terhadap inflasi relatif kecil. Ia memperkirakan kontribusinya hanya sekitar 0,1 persen.

"Tapi itu angka makro, bukan angka dompet masyarakat. Yang berbahaya itu daya beli masyarakat kelas menengah," jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama yang mencapai sekitar 5,6 persen salah satunya ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Namun, kontribusi terbesar konsumsi tersebut justru berasal dari kelompok menengah ke atas.

Karena itu, kenaikan harga BBM dikhawatirkan akan menekan kemampuan belanja masyarakat yang selama ini menjadi motor pertumbuhan ekonomi.

"Kalau kita lihat siapa yang sebenarnya banyak spending atau belanja dalam rumah tangga, memang kelas menengah atas. Dengan kenaikan harga sebesar ini, mereka pun kemungkinan akan kesulitan," katanya.

Dipo menggambarkan kelas menengah sebagai kelompok yang tidak tergolong miskin, tetapi juga jauh dari kategori kaya. Penghasilannya umumnya habis untuk kebutuhan rutin seperti pendidikan anak, cicilan, hingga kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, ia meminta pemerintah tidak hanya berfokus pada indikator makroekonomi, tetapi juga memperhatikan kondisi riil masyarakat, terutama kelas menengah yang daya belinya dinilai sangat sensitif terhadap berbagai tekanan ekonomi.

"Secara makro memang tidak ada masalah. Tapi masalahnya ada di dompet masyarakat. Daya beli ini sangat sensitif, apalagi di tengah situasi geopolitik, nilai tukar rupiah, dan berbagai tekanan ekonomi lainnya. Konsumsi rumah tangga, terutama kelas menengah, harus dijaga," pungkasnya.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

AMMN Cetak Laba Bersih Rp15,9 Triliun hingga September 2026

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:24

Hasto Ingatkan Kader PDIP Tak Boleh Takut Bela Rakyat

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:01

Kapolres Jakbar Obrak-abrik Kampung Boncos, Tiga Orang Dicokok

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:16

Respons Ijazah Gibran, PDIP: Tidak Ada Kebohongan yang Abadi

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:01

Fahira Idris Apresiasi Kepastian Ujian Ulang Siswa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:36

Prajurit Marinir Perbaiki Jembatan di Distrik Aradide

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:11

Diduga Terjerat Kasus Korupsi, AKBP Edy Songkel Dicopot

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:00

Prabowo Didorong Percepat Reformasi Energi Nasional

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:31

Komunitas Pengawas WNA Desak Dirjen Pajak Telaah Dumas PT BCI

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:14

Jogja Cultural Wellness Festival 2026 Usung Wisata Kebugaran

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:00

Selengkapnya