Berita

Anggota Komisi IV DPR RI Dadang Naser. (RMOL/Sarah Alifia Suryadi)

Politik

Ketegangan Geopolitik Dinilai Ikut Tekan Stabilitas Harga Pangan

KAMIS, 11 JUNI 2026 | 10:14 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Ketegangan geopolitik global dan konflik internasional dinilai ikut memengaruhi stabilitas harga pangan di dalam negeri melalui kenaikan biaya distribusi dan terganggunya rantai pasok sejumlah komoditas.

Anggota Komisi IV DPR RI Dadang Naser mengatakan gejolak ekonomi global saat ini berdampak pada pergerakan harga kebutuhan pokok di Indonesia.

"Tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi global yang sedang mencamuk memengaruhi situasi perekonomian berbagai negara, termasuk Indonesia. Dampaknya terasa pada pergeseran harga-harga kebutuhan pokok," kata Dadang kepada wartawan, dikutip Kamis, 11 Juni 2026.


Menurut politisi Partai Golkar itu, kenaikan harga energi dan ketidakpastian ekonomi dunia berimbas pada biaya distribusi pangan serta harga sejumlah bahan pokok di pasar domestik.

Ia mencontohkan sejumlah komoditas seperti cabai dan bawang yang mengalami kenaikan harga. Sementara untuk beras, pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas pasokan dan harga melalui pengelolaan cadangan pangan.

Dadang juga menyoroti pentingnya percepatan distribusi cadangan beras pemerintah mengingat kapasitas penyimpanan di sejumlah daerah mulai penuh menjelang musim panen berikutnya.

"Cadangan beras harus segera didistribusikan karena gudang-gudang sudah penuh dan kita bersiap menghadapi panen raya selanjutnya," ujarnya.

Selain itu, Dadang menilai berbagai bantuan dan subsidi pemerintah perlu diarahkan secara tepat sasaran kepada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah agar dampak gejolak ekonomi tidak semakin membebani daya beli masyarakat.

Di sisi lain, ia mengakui masih terdapat tantangan pada komoditas yang bergantung pada impor, seperti bawang putih, yang rentan terdampak fluktuasi pasar global.

Dadang juga menyoroti penurunan harga sejumlah komoditas, mulai dari telur, daging hingga minyak sawit mentah (CPO), yang dikeluhkan petani dan pelaku usaha.

"Ada keanehan ketika dolar melambung, tetapi harga ekspor beberapa komoditas malah turun, terutama CPO," katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu dicermati lebih lanjut untuk memastikan tidak ada praktik yang merugikan produsen di tengah tekanan ekonomi global.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

UPDATE

Perpres Pelindungan Ojol Jangan Berhenti di Atas Kertas

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:29

Awasi Ketat Penggunaan Anggaran Operasi Modifikasi Cuaca

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:16

Sakelar Cahaya di Dalam Otak

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:04

Kartu Nikah Digital Bisa Diakses melalui Simkah, Ini Caranya!

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:44

Nusron Wahid Bikin KPK Tidak Berkutik

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:24

Dulu di Depok Banyak Maling dan Begal, Sekarang Aman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:08

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Puluhan Korban Investasi Emas Polisikan Direksi PT DGJ

Minggu, 11 Oktober 2026 | 03:33

Tragedi Affan dan Bambang Jangan Terulang

Minggu, 11 Oktober 2026 | 03:14

Selengkapnya