Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Bisnis

Ketegangan Timur Tengah Guncang Bursa Eropa, DAX Anjlok 1 Persen

KAMIS, 11 JUNI 2026 | 06:59 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Bursa saham Eropa ditutup melemah pada akhir perdagangan Rabu 10 Juni 2026 waktu setempat seiring meningkatnya kehati-hatian investor menghadapi eskalasi konflik di Timur Tengah.

Investor juga tengah menunggu keputusan kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB).

Indeks STOXX 50 turun 0,4 persen, sementara STOXX 600 bergerak mendatar. Sentimen pasar tertekan setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu lonjakan harga minyak serta kenaikan imbal hasil obligasi, sehingga kembali memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi.


Pelemahan paling tajam terjadi di Jerman. Indeks DAX 40 merosot sekitar 1 persen ke level 24.218, sekaligus menjadi posisi terendah sejak pertengahan Mei. Sentimen pasar tertekan oleh aksi jual saham teknologi di tengah kekhawatiran valuasi yang dinilai sudah terlalu tinggi. Saham Siemens Energy anjlok 7,2 persen, diikuti SAP yang turun 3,4 persen menjelang rilis laporan keuangan Oracle. 

Di Prancis, indeks CAC 40 terkoreksi 0,5 persen ke level 8.162. Pelemahan dipimpin oleh sektor barang mewah dan perbankan, dengan saham LVMH, Hermes, BNP Paribas, dan Societe Generale mencatat penurunan. Saham Sanofi juga melemah setelah menghentikan uji klinis tahap akhir untuk obat autoimun eksperimentalnya.

Di Italia, indeks FTSE MIB turun 0,5 persen ke level 50.029. Saham perbankan seperti UniCredit dan Intesa Sanpaolo berada di zona merah, meskipun Banco BPM melonjak setelah perkembangan terbaru terkait rencana konsolidasi sektor perbankan. Kenaikan harga minyak turut mendorong saham energi Eni menguat 1,6 persen.

Berbeda dengan mayoritas pasar Eropa, indeks FTSE 100 London berhasil ditutup naik 0,3 persen dan menjadi yang berkinerja terbaik di kawasan. Penguatan ditopang oleh saham properti, energi, dan sektor defensif, termasuk Shell, BP, Unilever, GSK, serta British American Tobacco. Namun, kenaikan tersebut dibatasi oleh pelemahan saham pertambangan dan perbankan.

Pelaku pasar kini menantikan hasil rapat ECB yang diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Investor juga mencermati sinyal bank sentral terkait arah kebijakan selanjutnya di tengah tekanan inflasi global yang masih tinggi dan ketidakpastian geopolitik yang meningkat.

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Lepas Status WNI Kena Tarif Rp5 Juta, Ini Kata Ketua DPR

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:23

KPK Panggil Lima Pejabat BPK Sumsel

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:16

Saham BUMI Menguat 6 Persen pada Sesi I, Bukukan Transaksi Rp727,5 Miliar

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:15

Pengisian Jabatan di Kemenag Dituntut Adil dan sesuai Meritokrasi

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:08

Bisa Jadi Ada Aparat Lain Seperti Febrie

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:06

Sekolah Negeri Sepi Peminat Harus Jadi Perhatian

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:05

Mereduksi Bobot Kekuasaan Gibran Lewat Pergeseran Posisi Duduk Wapres

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:04

Sepak Bola Berbasis Bukti

Selasa, 21 Juli 2026 | 13:50

DPR Minta Kesetaraan Penanganan Kasus Febrie

Selasa, 21 Juli 2026 | 13:39

Babinsa dan Bhabinkamtibmas Dilibatkan dalam Pemungutan Pajak Berpeluang Gerus Kepercayaan Publik

Selasa, 21 Juli 2026 | 13:38

Selengkapnya