Berita

Demo buruh 21 Mei 2022. (Foto: RMOL)

Publika

Eksistensi Buruh di Kursi Singgasana

RABU, 10 JUNI 2026 | 21:03 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

MASUK! Gerakan buruh selalu berayun, di antara perjuangan mencari keadilan sosial berkelindan dengan politik kekuasan. Dinamika konstelasi politik ketenagakerjaan, terjadi melalui integrasi struktural. Para tokoh buruh berada dalam lingkar inti kekuasaan.

Fenomena melesapnya representasi gerakan buruh, ke dalam struktur birokrasi negara melahirkan perdebatan mendalam. Apakah integrasi tersebut menjadi momentum keemasan, atau justru bentuk penjinakan politik (co-optation) meluluhkan daya kritis?

Transisi dari gerakan jalanan (outsider pressure), menjadi pengambil kebijakan (insider decision-maker) jelas memunculkan peluang sekaligus tantangan etis yang luar biasa.


Peluang Politik

Dari perspektif Antonio Gramsci, keterlibatan tokoh buruh dalam sistem kekuasaan dibaca sebagai taktik war of position -perang posisi.

Argumen Gramsci, dalam menghadapi dominasi penguasa, maka kelompok buruh tidak dapat mengandalkan benturan fisik frontal di luar sistem (war of movement), melainkan harus menduduki pos strategis dalam superstruktur negara untuk merumuskan kebijakan kontra-hegemonik.

Dengan begitu, posisi para tokoh buruh yang berada di kursi birokrasi, dimaknai sebagai pembuka akses pada pembentukan regulasi. Di atas meja rapat kabinet, terdapat kesempatan mengubah arah kebijakan bagi kepentingan kaum pekerja secara substantif.

Hukum Besi Oligarki

Pada kajian lain, Robert Michels merumuskan tesis the iron law of oligarchy -hukum besi oligarki. Ditegaskan bahwa dalam organisasi termasuk partai politik dan serikat buruh, kecenderungan ke arah oligarki tidak terhindarkan.

Ketika serikat buruh tumbuh menjadi organisasi besar dan pemimpinnya naik kelas menjadi bagian dari elite kekuasaan, terjadi pemisahan kepentingan (alienasi) antara pemimpin dan basis massa.

Pemimpin di dalam lingkar kekuasaan, lambat laun melarut serta lebih memprioritaskan kelangsungan posisi politik, stabilitas birokrasi, dan aliansi elite ketimbang memperjuangkan kepentingan konstituen. Terjebak dalam permainan balas budi finansial dan politik, dengan sokongan kekuasaan.

Kondisi ini, diperparah gejala kooptasi. Di mana kooptasi adalah taktik kekuasaan guna menjinakkan stabilitas gerakan sosial dengan cara menerima unsur-unsur kritis dan memberi peran penting dalam sistem.

Militansi gerakan buruh diredam secara halus. Para pimpinan buruh melakukan kompromi, menginternalisasi logika negara mengenai kondusifitas iklim investasi, pada akhirnya bertindak sebagai katup pengaman (safety valve) meredam potensi gejolak sosial di akar rumput.

Lebih jauh, Jürgen Habermas menggambarkan sebagai kolonisasi dunia-kehidupan (colonization of the lifeworld). Serikat buruh yang tumbuh secara organik di ranah komunikatif-solidaritas (lifeworld), ketika terintegrasi ke dalam aparatus kekuasaan (system), dipaksa tunduk pada logika instrumental uang dan kekuasaan.

Tragedi kejatuhan etis semacam ini, tercermin pada kasus Immanuel Ebenezer. Sebagai Wakil Menteri Ketenagakerjaan, yang vokal dalam membela hak buruh, melarang penahanan ijazah, mencegah ancaman PHK massal, justru runtuh secara moral ketika berhadapan dengan kekuasaan praktis dan terjaring OTT KPK atas tindakan pemerasan.

Kasus Noel, adalah bukti empiris peringatan Aristoteles bahwa kekuasaan (arch?) adalah ujian tertua yang menyingkap moralitas sejati manusia.

Tanpa integritas etis dan moralitas serta mentalitas sekuat baja, para aktivis yang masuk ke dalam sistem tidak akan mewarnai kekuasaan, justru diwarnai dan dibusukkan oleh kekuasaan itu sendiri.

Agar terhindar dari jebakan hukum besi oligarki, gerakan buruh perlu merawat lentera pencerahan. Kekuasaan di dalam istana harus terus dikontrol solidaritas mikro di tingkat unit produksi.

Hanya dengan menjaga keseimbangan, antara diplomasi deliberatif di ruang kabinet dan tekanan aspirasi bersama, maka cita-cita keadilan sosial bagi seluruh masyarakat dapat diwujudkan secara nyata, di bawah naungan konstitusi yang adil.

Penulis sedang Menempuh Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Gus Lilur Laporkan Dugaan Jual Beli Suara Muktamar NU ke KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:20

Ledakan Besar Guncang Pasar Cimanggis-Ciputat, 2 Orang Dikabarkan Tewas

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:00

Danantara Minta Maaf dan Ambil Alih PLN Batam Usai Listrik Padam

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:36

Pemerintah Diminta Gencar Sosialisasikan Beasiswa Pendidikan untuk Anak Papua

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:08

Ijazah Keluarga Jokowi itu Terus Melahirkan Masalah Bangsa

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:54

GoTo Gelar RUPSLB, Restui Pembatalan Saham Tresuri dan Perombakan Direksi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:26

Terdakwa Pemerasan Bangun Paulus Dijemput Paksa di Tempat Hiburan, Alasan Mangkir Sakit

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:17

Kaya Omega-3, Bumi Wijaya Pilih Ikan Sidat untuk Gizidat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:07

Indonesia-Malaysia Perkuat Kerja Sama Imigrasi, Pencegahan TPPO jadi Perhatian

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:05

Pertamina Patra Niaga Maksimalkan Langkah Pemulihan Layanan BBM di Bali

Rabu, 14 Oktober 2026 | 21:52

Selengkapnya