Berita

Ketum relawan Prabowo-Gibran Laskar Trisakti 08 Fernando Rorimpandey. (Foto: Istimewa)

Politik

Kenaikan Pertamax Dinilai Tak Terelakkan Akibat Dinamika Global

RABU, 10 JUNI 2026 | 16:44 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Lonjakan harga Pertamax hingga menembus Rp16.250 per liter memicu respons negatif dari masyarakat. Kenaikan hampir 30 persen tersebut dinilai cukup mengejutkan karena terjadi di tengah tekanan ekonomi dan melemahnya daya beli masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Ketum relawan Prabowo-Gibran Laskar Trisakti 08 Fernando Rorimpandey mengatakan bahwa kenaikan tersebut memang sulit dihindari. Bahkan di beberapa negara tetangga, kenaikan harga BBM sudah jauh hari terjadi, karena situasi perang di Iran.

"Karena komoditas bahan bakar minyak mengikuti harga pasar dunia. Adakalanya naik, tapi kalau harga pasaran dunia turun, maka harga BBM tersebut juga turun," katanya, Rabu, 10 Juni 2026. 


Fernando meyakini komitmen pemerintah terhadap kebutuhan BBM dari rakyat kecil tetap berjalan. Buktinya BBM bersubsidi seperti pertalite (Ron 90) dan solar tidak naik sama sekali. Hal ini dimaksudkan agar sektor riil tetap berjalan.

Namun demikian, kenaikan harga Pertamax dinilai paling berdampak bagi kelompok masyarakat kelas menengah yang selama ini menjadi pengguna utama BBM dengan oktan RON 92 tersebut. 

Sebagian besar kendaraan roda empat dengan kapasitas mesin 1.500 cc ke atas direkomendasikan menggunakan bahan bakar beroktan tinggi sesuai standar pabrikan, sehingga tidak mudah bagi pemilik kendaraan untuk beralih ke BBM dengan kualitas lebih rendah.

Kondisi ini membuat sebagian pengguna harus menyesuaikan pola mobilitas mereka untuk menekan pengeluaran. Salah satu opsi yang mulai dipilih adalah mengurangi penggunaan mobil dan beralih ke sepeda motor yang masih dapat menggunakan BBM bersubsidi. 

Fenomena tersebut disebut ikut mendorong meningkatnya permintaan Pertalite di sejumlah SPBU, yang terlihat dari antrean kendaraan yang lebih panjang dibanding hari-hari sebelumnya.

Kenaikan harga BBM saat ini dinilai tidak bisa dilepaskan dari dinamika global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada pergerakan harga energi dunia. Namun demikian, kondisi tersebut dianggap belum dapat disamakan dengan krisis ekonomi yang terjadi pada 1998.

Menurut Fernando, terdapat perbedaan mendasar antara situasi saat ini dan krisis 1998. Selain kondisi politik yang kini jauh lebih terbuka dan demokratis, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga belum berada pada level yang mengkhawatirkan seperti saat krisis moneter.

Pada 1998, nilai tukar rupiah terpuruk dari sekitar Rp2.500 per dolar AS menjadi sekitar Rp16.000 hanya dalam waktu beberapa bulan, sehingga memicu guncangan besar terhadap perekonomian nasional. Sementara saat ini, meskipun dolar AS menguat dan rupiah mengalami tekanan, pergerakannya masih berada dalam rentang yang lebih terkendali.

Fernando menilai fondasi ekonomi Indonesia saat ini juga jauh lebih kuat dibandingkan periode krisis 1998. Jika dilihat secara tahunan (year on year), nilai tukar rupiah memang mengalami pelemahan, namun besarnya masih relatif terbatas dan tidak menunjukkan gejala krisis sistemik seperti yang pernah terjadi hampir tiga dekade lalu.

"Faktor eksternal global juga sangat berpengaruh, dan ini tidak hanya terjadi pada kita saja karena negara tetangga juga mengalaminya. Kuncinya sekarang adalah mari kita tetap mendukung pemerintah dan tidak terprovokasi ajakan untuk melawan pemerintah," tutup Fernando.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya