Berita

Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. (Foto: RMOL)

Politik

Bahlil Berpeluang Lawan Prabowo di 2029 Imbas Viral Lagu “Mas Bahlil Ganteng”

RABU, 10 JUNI 2026 | 13:02 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Fenomena lagu “Mas Bahlil Ganteng” yang ramai beredar di media social dinilai bukan sekadar tren hiburan. 

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah melihat kemunculan lagu tersebut sebagai bagian dari proses pembentukan citra politik jangka panjang yang dapat meningkatkan popularitas Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menjelang kontestasi politik 2029.

Menurut Amir, meningkatnya eksposur Bahlil di ruang digital, terutama melalui konten yang mudah diterima generasi muda, dapat menjadi modal politik yang signifikan bagi Golkar dalam menghadapi Pemilu 2029.


“Semakin populer dengan lagu MBG atau Mas Bahlil Ganteng, semakin besar peluang Bahlil menjadi figur nasional yang diperhitungkan. Dalam skenario tertentu, Bahlil bisa saja maju sebagai calon presiden pada 2029 menghadapi Prabowo Subianto,” kata Amir, dikutip Rabu 10 Juni 2026.

Bahlil saat ini memang berada pada posisi strategis. Selain menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, ia juga memimpin Partai Golkar sejak Agustus 2024. Sebelum itu, Bahlil dikenal sebagai loyalis dekat Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), serta pernah menjabat Menteri Investasi dan Kepala BKPM.

Dalam analisis Amir, pencalonan Bahlil pada Pilpres 2029 tidak semata-mata bertujuan memenangkan kursi presiden. Ada kalkulasi politik yang lebih besar, yakni meningkatkan perolehan suara Partai Golkar melalui efek ekor jas (coattail effect).

Dalam teori politik elektoral, partai besar kerap membutuhkan figur yang mampu menjadi magnet suara nasional. Kehadiran figur tersebut dapat meningkatkan elektabilitas partai hingga tingkat legislatif.

“Kalau Bahlil maju, Golkar mendapatkan keuntungan ganda. Jika menang, Golkar kembali menjadi poros utama kekuasaan. Jika kalah tetapi tetap berada dalam koalisi pemerintahan, Golkar tetap memperoleh keuntungan politik,” kata Amir.

Analisis ini tidak lepas dari karakter Golkar sebagai partai yang selama puluhan tahun dikenal memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap konfigurasi kekuasaan nasional. Sejarah menunjukkan Golkar hampir selalu berada dalam lingkar pemerintahan, terlepas dari siapa yang memenangkan pemilu.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Prabowo Bertemu Wakil Menteri Perang AS Elbrigde Colby, Bahas Apa?

Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:22

Aksi Kocak dan Absurd dalam Film Kung Fu Soccer

Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:18

KPK Panggil Pejabat Hingga Pegawai Pemkab Langkat

Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:05

Polri Klarifikasi Rutan Bareskrim Disebut jadi Sarang Narkoba

Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:01

Legislator Nasdem Minta Negara Kasih Insentif ke Ibu Rumah Tangga

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:56

KPK Panggil Direktur Bank DBS Indonesia di Kasus TPPU Andhi Pramono

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:46

Lawyer Sebut Kasus Pelabuhan Tanjung Perak Sarat Kriminalisasi

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:29

UOB Geser Strategi, Fokus Garap Emerging Affluent dan Kebutuhan Nasabah

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:26

Golkar Dukung Wakil Kepala Daerah Tak Dipilih Lewat Pilkada

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:22

24 Persen Penduduk Sumbang 56 Persen Konsumsi, Ekonom Soroti Kelas Menengah

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:03

Selengkapnya