Berita

Ilustrasi

Politik

Pelemahan Rupiah Beri Tekanan Berat bagi Industri Berbasis Impor

SELASA, 09 JUNI 2026 | 10:48 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap sektor industri nasional disorot Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Tifatul Sembiring. 

Tifatul mengingatkan masih terdapat sejumlah tantangan strategis yang perlu mendapatkan perhatian serius, mulai dari serapan anggaran hingga dampak depresiasi rupiah terhadap dunia usaha.

“Serapan anggaran masih 42,57 persen. Memang kurang sedikit, tetapi paling tidak mestinya di bulan Juni ini sudah sekitar 50 persen ke atas. Karena anggaran negara ini menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi nasional,” ujar Tifatul, Selasa, 9 Juni 2026.


Menurutnya, sektor industri saat ini memiliki peran penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Ia mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen dan sektor industri memberikan kontribusi signifikan terhadap capaian tersebut.

“Growth kita bagus, 5,61 persen. Dan kontribusi sektor industri terhadap pertumbuhan itu mencapai 1,03 persen. Ini angka yang sangat signifikan,” katanya.

Meski demikian, Tifatul mengingatkan bahwa sektor industri juga memiliki kontribusi besar terhadap tingginya impor nasional yang pada akhirnya ikut memengaruhi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), ia menyebut total impor Indonesia selama periode Januari hingga April 2026 mencapai 86,51 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.557 triliun.

“Dari angka tersebut, sekitar 75 persen berasal dari kebutuhan sektor industri. Nilainya mencapai Rp1.168 triliun. Ini sangat besar dan tentu memiliki dampak terhadap pergerakan devisa serta nilai tukar rupiah,” jelasnya.

Tifatul menilai pelemahan rupiah yang telah menembus level Rp18.000 per dolar AS memberikan tekanan terhadap berbagai sektor industri, terutama yang masih bergantung pada bahan baku impor.

“Industri yang sangat terdampak antara lain petrokimia, plastik, farmasi, makanan dan minuman, tekstil, hingga manufaktur berbasis energi. Ketika rupiah melemah, biaya produksi mereka otomatis meningkat,” ujarnya.

Selain berdampak pada biaya produksi, ia juga mengingatkan risiko yang lebih luas, termasuk potensi keluarnya modal dari pasar domestik serta meningkatnya tekanan terhadap neraca perdagangan apabila ekspor tidak tumbuh seimbang dengan impor.

“Kita melihat investor menjual saham dalam rupiah, kemudian mengkonversinya ke dolar. Bahkan ada indikasi capital flight yang bukan hanya dilakukan investor asing, tetapi juga pemilik modal dalam negeri,” kata Tifatul.

Menurut Tifatul, berbagai langkah yang telah tercantum dalam program pemerintah seperti insentif fiskal dan nonfiskal, pengendalian impor, serta koordinasi lintas kementerian perlu diperkuat dengan strategi jangka panjang yang mampu meningkatkan penggunaan bahan baku domestik dan mempercepat substitusi impor.

“Kalau tidak punya strategi yang tepat, kita bisa salah memulai. Karena itu diperlukan langkah yang benar-benar terukur untuk memperkuat industri nasional di tengah tantangan ekonomi global,” pungkasnya.




Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Kodam XII/Tanjungpura Geser Pasukan Atasi Karhutla ke Selatan Kalbar

Sabtu, 19 September 2026 | 05:09

Ketika Politik Uang Dianggap Wajar

Sabtu, 19 September 2026 | 04:45

Profesor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Contoh Prabowonomics

Sabtu, 19 September 2026 | 04:16

Ekosistem Pengolahan Ikan Skala Mikro dan Kecil Terus Diperkuat

Sabtu, 19 September 2026 | 03:45

Fapet IPB University Hasilkan Inovasi Songsong Komersialisasi Ayam Lokal

Sabtu, 19 September 2026 | 03:13

Kejati Sumut Didesak Usut Tuntas Kasus Lahan Tol Medan-Binjai

Sabtu, 19 September 2026 | 02:45

Ketika Polemik Ijazah Berubah jadi Komoditas Politik

Sabtu, 19 September 2026 | 02:17

Tim Hukum UIN Jakarta Datangi Kejati Banten Usut Korupsi Eks Rektor

Sabtu, 19 September 2026 | 01:50

Humanika Harus Bantu Presiden Bawa Keluar RI dari Middle Income Trap

Sabtu, 19 September 2026 | 01:26

Konstruksi Waktu Dugaan TPPU dan Pemerasan Kasus Febrie Tidak Sinkron

Sabtu, 19 September 2026 | 01:02

Selengkapnya