Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

The Fed dan Timur Tengah Jadi Pemicu Koreksi Tajam Harga Emas

SENIN, 08 JUNI 2026 | 11:57 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar logam mulia mengalami pekan yang berat setelah tertekan sentimen global. Memasuki perdagangan Senin, 8 Juni 2026, baik emas maupun perak mencoba mempertahankan posisi defensif mereka setelah sempat tiarap hingga menyentuh level terendah dalam dua bulan terakhir pada pekan lalu.

Pada perdagangan Senin 8 Juni 2026, harga emas bertahan di kisaran 4.300 Dolar AS per ons setelah terkoreksi hampir 5 persen dalam sepekan. Sementara itu, perak diperdagangkan di sekitar 68 Dolar AS per ons, menyusul penurunan sekitar 10 persen pada periode yang sama.

Tekanan terhadap logam mulia datang dari kombinasi faktor geopolitik dan ekonomi yang membuat pelaku pasar memilih bersikap hati-hati.


Dari sisi geopolitik, perhatian investor tertuju pada meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Situasi memanas setelah Iran meluncurkan sejumlah rudal ke wilayah Israel sebagai respons atas perkembangan konflik di Lebanon. Meski sebagian besar serangan dilaporkan berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Israel, eskalasi tersebut tetap memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.

Ketidakpastian semakin meningkat setelah aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi dunia, mengalami gangguan. Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak mentah dan kembali menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan inflasi global.

Selain faktor geopolitik, pasar juga dibayangi data ekonomi AS yang menunjukkan sektor ketenagakerjaan masih tetap kuat. Laporan tenaga kerja terbaru yang melampaui ekspektasi memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS masih cukup solid untuk menghadapi kebijakan moneter yang ketat.

Data tersebut mendorong pelaku pasar menyesuaikan kembali ekspektasi terhadap langkah Federal Reserve. Peluang kenaikan suku bunga pada akhir tahun kini meningkat signifikan dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Prospek suku bunga yang lebih tinggi cenderung menjadi sentimen negatif bagi emas dan perak karena meningkatkan daya tarik instrumen berbunga seperti obligasi dan deposito. Akibatnya, minat investor terhadap aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti logam mulia, menjadi berkurang.

Dengan kombinasi ketegangan geopolitik dan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih agresif, pergerakan emas dan perak dalam jangka pendek diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas tinggi.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Moreno Soeprapto, Potret Etika Buruk Wakil Rakyat

Senin, 21 September 2026 | 06:25

Suara Rakyat Jangan Dimubazirkan

Senin, 21 September 2026 | 06:05

Ketika Pakar Saking Pintarnya Jadi “Goblok”

Senin, 21 September 2026 | 05:44

Masa Depan Pelabuhan Indonesia antara Peluang dan Tantangan

Senin, 21 September 2026 | 05:13

Serangan Babi Hutan Persoalan Serius bagi Petani

Senin, 21 September 2026 | 05:00

Merapi Empat Kali Luncurkan Lava Pijar dalam 6 Jam

Senin, 21 September 2026 | 04:39

Pramono Lagi Menempatkan Jakarta dalam Peta Persaingan Kota Global

Senin, 21 September 2026 | 04:23

Membaca Berhadiah Koin

Senin, 21 September 2026 | 04:02

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1448 H Jatuh 8 Februari 2027

Senin, 21 September 2026 | 03:06

Selengkapnya